ukhti ariana

Ukhti Ariana Menikmati Diperkosa Bima Geng Motor BOSKITA. Suara rintik air gerimis terdengar dari luar kamar. Setetes demi setetes gerimis mampu menciptakan genangan air yang terlihat menutupi separuh halaman rumah petak yang memiliki cat berwarna krem tersebut.

Sederetan rumah petak, atau yang biasa disebut bedeng itu, hanya memiliki tiga pintu. Didalam salah satu rumah petak tersebut, aku tinggal sendirian selama masa studi ku di kota ini, tetapi tidak untuk semalam dan kedua malam sebelum sebelum nya.

Biasanya, aku tidur hanya ditemani sebuah boneka Mickey Mouse berukuran satu meter, dan semalam aku tidur bersama seorang laki laki, tak lain adalah Bima, mantan anggota geng motor yang pernah memperkosa ku dan meninggalkan satu bibit sperma kuat yang berhasil menerobos sel telurku.

Sudah tiga bulan rahim ku dihuni oleh makhluk suci tak berdosa, dan Bima berjanji akan menikahi ku walaupun sampai sekarang dia tidak memastikan kapan akan melamar ku. Seperti pada umumnya, kehamilan yang terjadi diluar pernikahan selalu tak menampakkan tanda tanda yang bisa dilihat oleh orang lain, bahkan aku tak mengalami morning sick, atau tanda tanda kehamilan yang membuat kondisi kesehatanku menurun.

Bahkan kedua orang tua ku pun tidak mengetahui kondisi aku saat ini. Entah bagaimana jika mereka mengetahui nya, sampai saat ini aku belum memikirkan hal tersebut.

ukhti ariana
Ilustrasi gambar ukhti arina

Ini adalah ketiga kalinya Bima tidur bersamaku didalam rumah petak yang ku kontrak. Dengan memakai pakaian muslimah lengkap beserta cadar, Bima berhasil masuk kedalam kontrakanku tanpa menimbulkan kecurigaan dari siapapun. Jangan tanya apa yang kami lakukan setelah Bima berhasil mengelabuhi tetangga tetanggaku, yang pasti Bima masih tertidur akibat kelelahan atas apa yang kami lakukan semalam.

Jika kalian bertanya, apakah aku mencintai Bima, aku pun bingung bagaimana menjawabnya. Disatu sisi, aku membenci nya atas perlakuannya saat itu. Disatu sisi, aku merasa berterimakasih karena telah menyelamatkan aku dari cengkraman geng motornya sendiri hingga rasa terima kasih itu membuat diriku seakan akan adalah pasangan halal nya yang rela menjadi pemuas nafsu nya.

Ku alihkan pandangan mataku dari Bima menuju kaca jendela kamar yang dipenuhi oleh bulir bulir air gerimis. Tak ada yang bisa ku lihat dari jendela kamar ini kecuali hanya sebuah dinding yang bagian bawahnya berlumut dan seekor siput yang sedang merayap mencoba mendaki dinding tersebut.

Aku segera mengenakan pakaianku, gamis, kaos kaki, jilbab dan cadar. Dengan menggunakan payung, aku pergi ke luar dan membeli makanan untuk sarapan. Ini bukan pertama kalinya aku keluar rumah tanpa memakai pakaian dalam sama sekali, namun rasa geli dan khawatir akan ketahuan itu selalu ada dan membuat vagina ku meneteskan cairan yang menunjukkan bahwa aku menyukai hal ini.

Setelah membeli beberapa makanan kecil untuk sarapan, aku kembali ke kontrakan dan mendapati Bima tengah duduk ditepi kasur dengan tubuh yang tak tertutupi apapun. Mataku langsung tertuju pada penis nya yang dipenuhi bulu bulu lebat dan berurat. Pikiranku kembali terarah pada pertama kalinya aku mengulum penis tersebut dan bagaimana aku merasa jijik saat itu dan saat ini, seakan akan aku telah sangat menyukai penis itu bersarang di lubang manapun dari tubuhku.

“Aku tadi beli sarapan buat kita” kata ku, sambil meletakkan beberapa gorengan diatas piring.

“Aku gak nanya kamu dari mana, aku mau tahu apa kamu pakai dalaman?” Tanya Bima sambil menunjuk kearah payudaraku.

Lalu aku menaikkan rok gamisku dan memperlihatkan paha dan vagina yang tercukur rapi, kemudian menyingkap jilbab kebelakang punggung dan menurunkan resleting gamis hingga menampakkan kedua payudaraku.

Tanpa ba bi bu, Bima langsung menarikku dan menjatuhkan aku ke tempat tidur. Bima menindih ku dan menenggelamkan wajahnya diantara payudara ku sambil mengecup kulit diantara kedua nya.

“Aahhh Bima, geliii aahhhh” aku mendesah merasakan kenikmatan sentuhan bibirnya pada daerah sensitifku.

“Dasar nakal, ukhti ariana lonte, keluar rumah gak pake daleman, sekalian gak usah pake baju” kata kata Bima semakin membuat ku merasakan gelombang syahwat yang meningkat drastis.

“Aaah Bimaahh, terussshhh.. oouuhhh… Enaaakhh” aku terus mendesah, Bima makin tak mau berhenti merangsang ku.

Kemudian Bima bangkit menjauhkan wajahnya dari payudaraku. Dia menatap ukhti ariana dengan tatapan nafsu seperti seekor harimau kelaparan yang menatap mata seekor rusa betina yang akan ia terkam, atau mungkin lebih tepatnya adalah anjing betina.

“Kamu mau sarapan sama makanan yang kamu beli atau sama kontol aku?” Tanya Bima.

“Jelas aku mau nya sama kontol kamu, Bim”. Mataku membalas tatapan Bima dengan penuh godaan. Tangan kanan ukhti ariana menyentuh batang penis Bima dan merasakan bulu bulu kemaluan Bima dengan kulit jemari tanganku.

Bima memposisikan penis nya didepan wajahku yang masih tertutup cadar hitam. Setelah aku menyingkap cadarku, Bima langsung menjejalkan penisnya ke bibir ukhti ariana dan segera ukhti ariana sambut dengan juluran lidah yang menyentuh tiap milimeter kulit penisnya.

Penis Bima kembali masuk kedalam mulut ukhti ariana. Bima terlihat sangat bernafsu dan ia mendorong masuk penisnya makin kedalam tenggorokanku. Posisi tubuhku yang berada dibawahnya jelas sangat membuat penis itu makin terasa memasuki tenggorokanku. Bima mendorong dorong pinggulnya dan membuat merasa ingin muntah karena tersedak penisnya yang cukup besar. Lalu Bima menarik penisnya dari mulutku dan menyingkap rok gamisku. Ia melebarkan kedua pahaku dan memulai penetrasi nya yang keempat selama 24 jam ini. Penis Bima terasa memenuhi liang rahimku dan Bima kembali merangsang syahwatku dengan memainkan puting payudaraku.

“Aaahhh Bima, dorong yang kuat” pintaku.

“Dorong apa nya, ukhti ariana lonte?” Goda Bima, dan aku merasa sangat bersemangat setiap kali Bima mengucapkan panggilan seperti itu kepadaku.

“Kontolnya, kontol kamu dorong yang kuat” aku merengek.

Namun bukan nya mendorong kedalam, Bima malah menarik penisnya keluar dan memasukkan nya lagi namun hanya sebatas ujung kepala nya saja. Hal ini membuat ku makin tak tahan untuk menumpahkan syahwatku.

“Ayo dong Bim, masukkin, jangan gitu” aku makin merengek.

“Aku mau nya gini, kan begini juga enak lonte bercadar.” Bima makin menggoda ku.

“Aaahhhh sudah!” Ukhti arina menjepitkan kedua kakiku ke pinggang Bima dan mendorong vaginaku sehingga penisnya semakin terdorong masuk kedalam vaginaku. Aku memaju mundurkan vaginaku dan mendesah menikmati garukan penis Bima didalam liang vaginaku yang terasa gatal, sangat gatal. Ukhti arina benar benar sudah menjadi seorang pelacur, namun hanya untuk Bima, aku rela melakukan apapun demi dia. Ah, entahlah aku merasa sudah bodoh. Aku sadari, yang ku lihat dari Bima sekarang adalah keperkasaan nya dalam memuaskan ku selama ini.

Bahkan tentang pertanyaan apakah aku mencintainya, jawabah nya iya, tapi cinta yang disertai syahwat. Syahwat yang mengendalikan muslimah sholehah seperti ku bertekuk lutut pada sebatang penis berurat milik Bima, mantan ketua geng motor, bahkan sampai sekarang masih layak memegang status pria pengangguran dan berandalan, dan aku, Arina, seorang akhwat muslimah yang seharusnya tetap menjaga kesucian dan merasa trauma atas kejadian malam itu, malah membuatku makin merendahkan diri pada nafsuku.

Ah, tidak, aku bukan merendahkan diri pada nafsu, namun ini adalah bentuk bagaimana aku mempelajari urusan seksual ku kelak. Lagipula Bima sudah berjanji akan menikahi ku. Terserah, walaupun dia tidak tamat SD, atau seorang berandalan, tapi dia memiliki sesuatu yang sangat aku inginkan dari laki laki, yaitu penis perkasa yang mampu membuatku menggelinjang, mendesah, menikmati perzinahan, dan melupakan dosa. Ah, aku sangat menikmati perzinahan ini.

Aku sangat menyukai penis, aku suka penis, atau kontol, aku suka ketika penis Bima memasuki liang vaginaku yang basah. Seperti saat ini, aku menekan dan mendorong dorong pinggul ku sambil meremasi kedua payudaraku. Sementara Bima hanya menontoni diriku yang sedang masturbasi menggunakan penisnya.

Ya, tak ada gerakan apapun dari Bima, hanya aku yang aktif, hanya aku yang bergerak mencari cari kepuasan yang semalam sudah ku dapatkan. Aaahhh, aku merasakan cairan menyembur dari vaginaku. Lututku terasa lemas, jantungku berdegup kencang, seakan akan semua tenaga ku habis. Tubuhku ambruk diatas tubuh Bima.

Bima memelukku dengan erat, dan membalikkan posisi kami. Kini dia yang menguasai permainan, Bima pun mulai memaju mundurkan penisnya. Vaginaku yang baru saja menggapai orgasms kini merasa seperti di paksa kembali untuk terangsang. Akhirnya, desah demi desahan terdengar dari mulutku. Bima segera menyambar bibirku setelah melepas cadarku.

Lidah kami berpagutan. Tangan kanan Bima meremas payudara kiriku dengan kasar dan penisnya tetap mengaduk aduk vaginaku dengan kuat. Lagi lagi, aku merasa orgasme kedua ku pagi ini dan Bima terlihat tersenyum bangga mengetahui bahwa aku telah orgasme untuk yang kedua kalinya. Kemudian Bima mempercepat dorongan penisnya dan memperkuat remasan nya pada payudaraku. Ciuman nya mulai menurun ke leher dan aku makin tak tahan dibuatnya. Bima membuatku mendesah dengan kuat, tak peduli apakah desahan itu akan terdengar oleh tetanggaku atau tidak. Melihatku mendesah sekuat itu, Bima makin mempercepat genjotan nya.

“AAAHHHH.. ARINA AKHWAT LONTE, TERIMA PEJUHKU” Bima mendesah dengan keras dan mencabut penisnya. Lalu ia dekatkan penisnya ke bibirku dan tanpa di komando, aku membuka mulutku lebar lebar.

“Croott croot crooottt” tembakan sperma berhasil mendarat di lidahku dan beberapa diantaranya mengenai bibir dan hidungku. Aku menutup mulutku dan menelan sperma yang terasa asin itu.

“Enak sperma aku?” Tanya Bima yang ku jawab hanya dengan anggukan.