desa

Tinggal Di Desa Arum Wengi Jadi Kesan Pertama BOSKITA Yuda. “Dia akan langsung mati di hari ke-10,” kata Mbah sembari mengucurkan darah ayam ke tengkorak manusia.

“Terima kasih, Mbah!”

Banyuwangi, 1985

Angin desa Arum Wengi menjadi kesan pertama yang Yuda rasakan saat turun dari bis dan menghadap gapura desa. Di sambut asrinya Lingkungan desa yang hijau dan sejuk. Gapura tua yang sudah berlumut itu mengingatkan Yuda akan masa-masa di mana ia masih tinggal di desa ini. Dan kini ia kembali untuk sesuatu yang teramat genting.

Para warga dengan pakaian sederhana memikul karung berisi rumput untuk makan hewan ternak. Ada yang bekerja di kebun jagung dan ada yang sedang menumbuk gabah menjadi beras. Hanya Yuda yang berjalan di jalan tanah desa dengan pakaian rapi bak orang kota. Ia melihat rumah-rumah sekitar yang masih terbuat dari kayu dan juga bambu

Hingga bertemulah Yuda dengan seorang perempuan berusia 30 tahunan yang datang menyambutnya. Perempuan itu berambut sebahu dengan mengenakan daster berwarna hijau muda. Yuda lantas tersenyum dan membuat kumisnya melengkung ke atas.

desa
Ilustrasi gambar

“Sudah lama ya, Nita,” ucap Yuda.

“Mas Yuda.” Nita mendekat kemudian bersalaman dengan Yuda.

“Gimana, Bapak?” tanya Yuda.

Seketika wajah Nita berubah menjadi sedih. “Ya, begitulah, Mas. Sudah satu minggu lebih, sakitnya malah makin parah.”

“Mas mau ketemu Bapak sekarang juga.” Yuda berujar.

Nita mengangguk, kemudian berbalik badan dan mulai berjalan. Tak lama setelah melewati beberapa jandang kambing dan perkebunan warga, sampailah mereka di sebuah rumah kayu yang ukurannya cukup besar. Halamannya sangat luas dengan sawah padi di sekitarnya yang sudah tidak terurus. Yuda dan Nita masuk ke kamar.

“Bapak di kamar,” ucap Nita kepada Yuda yang masih melepas sepatunya dan mengganti dengan sandal.

Sesegera mungkin Yuda melepas tasnya lalu berjalan cepat menuju kamar sang ayah. Terlihat di sana sang ayah terbaring lemah di atas ranjang. Matanya memerah dan kulitnya pucat seperti mayat. Perutnya juga menggembung seperti orang hamil. Terdengar suara rintihan pelan dari mulut orang tua berusia 64 tahun itu yang rambutnya kini sudah memutih semua.

“Bapak!” panggil Yuda yang segera mendekat ke ranjang ayahnya. Sang ayah hanya bisa melirik dan menatapnya dengan tatapan sedih. Sedangkan mulutnya tak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya ada suara rintihan pelan yang tak henti-hentinya terdengar.

“Ya ampun Bapak, kenapa jadi begini?” ucap Yuda dengan mata berkaca-kaca. Lalu Nita datang dan masuk ke dalam kamar. Menyadari keberadaan Nita, Yuda lantas menoleh.

“Tindakan apa yang sudah kamu lakukan?” tanya Yuda.

“Nita sudah panggil dokter ke sini, sudah di bawa ke rumah sakit pakai ambulan. Tapi hasilnya, tidak ada apa-apa. Tidak ada penyakit atau pun kerusakan organ di dalam tubuh, Bapak. Dokter bilang, Bapak baik-baik saja,” tutur Nita menjelaskan.

“Baik-baik aja gimana, Nit? Kondisinya begini!” Yuda lalu menghela napas. “Suamimu ada? Bisa antar Mas ke kampung sebelah? Mas mau cari telepon,” kata Yuda.

“Ada, Mas. Sebentar Nita panggil!” Nita kemudian pergi berlalu meninggalkan rumah.

Singkat cerita, saat itu juga Yuda yang sangat cemas dengan kondisi Ayahnya diantar oleh Bayu. Suami Nita yang memboncengnya menaiki motor untuk pergi ke kampung sebelah yang sudah terhubung dengan jaringan telepon. Mereka melewati jalanan yang kurang baik dengan kebun-kebun jagung di kiri dan kanannya.

Sesampainya di kampung sebelah, Bayu memberhentikan motornya di depan sebuah wartel. Sayangnya, pada saat itu semua bilik telepon sedang ramai dipakai orang sehingga Yuda dan Bayu harus menunggu. Sembari menunggu, Bayu duduk di motornya sementara Yuda berdiri dengan perasaan tidak tenang.

“Mas Yuda memangnya mau telepon siapa?” tanya Bayu.

“Mau telepon temen saya, Bay. Dia seorang dokter di Surabaya. Barangkali dia bisa bawa Bapak ke Surabaya. Di sana peralatan kedokteran sudah lebih lengkap dari pada di sini. Jadi Bapak bisa mendapatkan perawatan yang lebih layak.”

Bayu mengangguk sambil menunduk dan membenarkan jaketnya. Pria pendek dengan rambut belah samping itu kemudian menghela napas. “Sudah 9 hari Bapak begini, tapi ya—“

“Itu ada yang kosong, tunggu sini, Bay!” kata Yuda yang buru-buru masuk ke dalam wartel.

Yuda lantas masuk dan mengambil telepon untuk tersambung dengan temannya di Surabaya. Lantas Bayu menunggu di luar sambil memperhatikan sekitar. Desa sebelah yang kini sudah lebih maju dari desanya. Sudah ada sambungan listrik dan memiliki pasar sendiri. Selama hampir satu jam Bayu bak terhipnotis melihat pemandangan sekitar.

“Bay!” ucap Yuda sambil menepuk pundak Bayu. “Melamun aja kamu!”

Yuda lalu naik ke motor Bayu. Dan dengan sigap, adik iparnya itu menyalakan motor dan mulai berjalan meninggalkan desa. Selama perjalanan, terjadi perbincangan antara Yuda dan Bayu mengenai kehidupan mereka di desa. Terutama soal Bayu dan Nita yang hingga kini hidupnya susah. Bayu tidak memiliki pekerjaan ditambah kini mertuanya sakit-sakitan.

“Sawah juga udah gak produktif, Mas. Sudah berantakan, panen gagal terus. Bayu pernah buat bujuk bapak supaya menjual saja tanah-tanah sawahnya itu dan membagi rata ke kita-kita tapi beliau menolak!” ucap Bayu.

“Ya iyalah, Bay. Itu kan tanah, Bapak. Bukan hak kita buat meminta Bapak jual tanahnya,” ucap Yuda yang kemudian mengambil uang dari sakunya. Kemudian uang itu ia masukkan ke dalam saku jaket Bayu. “Ini ada sedikit dari Mas, kamu pakai baik-baik ya buat keluarga kamu.”

“Waduh, Mas Yuda. Makasih banyak.” Bayu tersenyum sumringah. “Kebetulan kami baru kena musibah juga, Mas. Satu-satunya harta berharga kami yaitu perhiasan emas hilang entah ke mana,” ucap Bayu.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan obrolan yang tiada henti antara kakak dan adik ipar tersebut. Melintasi jalanan yang membelah perkebunan jagung dan tebu milik warga.

Setelah setengah jam lebih perjalanan, mereka sampai kembali di rumah Bapak. Jam demi jam berlalu. Yuda beberapa kali datang melihat keadaan ayahnya. Kadang, Nita kerap kali mengoleskan minyak hangat ke perut Ayahnya yang terus membuncit tanpa sebab yang jelas. Yuda yang masih kelelahan usai perjalanan dari Surabaya ke Banyuwangi memutuskan untuk berbaring sejenak di sofa.

Saat itu hari mulai gelap. Malam pun datang, angin dingin menyerang. Nita menutup semua pintu dan jendela. Penerangan hanya sebatas lampu minyak yang cahaya kekuningan. Di bawah temaram lampu minyak, Yuda yang kelelahan pun mulai terlelap dan akhirnya masuk ke alam mimpi.

“Bapaaaak!” teriak Nita.

Sontak Yuda terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 00.12. Yang pertama kali Yuda temukan adalah Nita yang sedang berdiri di depan pintu kamar Ayahnya yang terbuka. Ia lantas bangun dari sofanya dan bergerak cepat menuju Nita.

“Nita, kenapa?” tanya Yuda.

“Bapak, Mas!” Tunjuk Nita ke dalam kamar.

Yuda ikut berdiri di depan pintu kamar Ayahnya. Di sana tampak sang Ayah sedang berdiri di atas ranjangnya tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Tatapan matanya kosong dan di kulitnya yang pucat mulai muncul bercak-bercak kebiruan mirip luka lebam. Yuda pun merasa aneh sekaligus sedikit perasaan senang. “B-Bapak? Sudah bisa berdiri?” tanya Yuda.

“Aaaaaaaarrrrgggh!” Sang Ayah lalu memegangi perutnya yang besar dan membuncit itu.

“Kenapa, Pak! Kenapa perutnya?” Yuda dengan sedikit takut mendekat ke Ayahnya.

“Argh! rgh! Argh!” Berkali-kali Ayah Yuda memukul-mukul perutnya tanpa henti.

“Bapaaaak!” Yuda segera berlari mendekat dan memegangi tangan sang Ayah. Namun anehnya, tenaga sang ayah begitu besar. Ia segera mendorong anaknya Yuda yang langsung terpental ke lantai.

“Arrggh! Arghh!”

Sang Ayah kembali memukul-mukul perut buncitnya tanpa henti. “Aaaaaaaarrgh!” Ia kemudian mencengkeram perutnya tersebut dengan keras dan terlihat gerakan-gerakan aneh dari perut sang Ayah. Perutnya mendadak kian membesar dan terus membesar.

“Aaaaakkh!” Ayah Yuda teriak kesakitan.

“Bapak, bapak kenapa?” tanya Yuda yang sangat panik saat itu. “N-Nita panggil dok—“

Tiba-tiba suara ledakan terdengar dari arah samping Yuda. Tak lama sebuah cairan kental berbau amis beserta beberapa serpihan daging muncrat ke arahnya. Setengah wajah basah oleh merahnya darah. Dan Nita pun terjatuh duduk sambil terbelalak menatap ke arah sang ayah.

Yuda kemudian menoleh. Rupanya perut Ayahnya meledak sehingga semua organ dalamnya keluar seperti usus yang menggantung di perutnya dan juga organ lain seperti hati dan pankreas yang berceceran di lantai. Anehnya, bukan hanya organ yang keluar. Tapi juga aneka macam serangga seperti tawon, kelabang dan kalajengking pun ikut keluar dari perut Ayah yang meledak.

“B-Bapak?” ucap Yuda yang sudah terduduk lemas di lantai.

Darah segar membanjiri lantai dan memerahkan kasur yang tadinya putih. Serpihan-serpihan daging ayahnya juga tersebar di setiap sudut kamar. Mata sang Ayah melotot dan perlahan badannya terjatuh ke lantai. Tergeletak lemas begitu saja dengan keadaan yang mengenaskan.

“Bapaaakk!!” teriak histeris Yuda sambil menatap mayat Ayahnya dengan wajah tak percaya.

Dan hari itu, Yuda harus menerima kenyataan bahwa sang Ayah meninggal dengan cara yang tidak wajar pada pukul 00.15 yang merupakan hari ke-10 sejak pertama kali Ayahnya sakit.