sarah

Sarah Seorang Gadis Santriwati yang Keadaan Mengubah ku Menjadi Seperti Ini BOSKITA. Di sudut kota yang tenang. Terhampar luas sebuah pondok pesantren yang besar dan terkenal. Bukan hanya karena arsitekturnya yang megah. Tapi juga karena kualitas pendidikan dan kegiatan keagamaan yang dijalankan di sana. Dalam lingkungan yang penuh ketenangan dan kegiatan ibadah ini, berdiri seorang santriwati muda bernama Sarah.

Aku adalah seorang siswi di kelas 1 Madrasah Aliyah semester 2, yang telah bergabung dengan pesantren ini sejak menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Tsanawiyah (MTS) di tempat yang sama. Aku dikenal sebagai santriwati yang sangat pintar dan berprestasi. Sejak dini, Aku telah menunjukkan bakat yang luar biasa. Baik dalam bidang akademis maupun kegiatan ekstrakurikuler, khususnya dalam seni suara.

Sarah memiliki latar belakang keluarga yang sangat religius dan berdedikasi. Ayahnya adalah seorang ustad yang memiliki yayasan anak yatim, dan ibunya adalah seorang penceramah yang sering melakukan tadarus keliling. Aku sangat bangga pada kedua orang tuanya dan selalu terinspirasi oleh dedikasi mereka dalam membantu orang lain. Selain itu, Aku memiliki seorang adik laki-laki yang masih bersekolah di SD. Dia juga memiliki seorang adik perempuan yang telah meninggal dunia saat baru dilahirkan. Sebuah kenangan yang selalu membawa kesedihan bagi keluarga mereka.

Suatu hari pada awal semester, suasana pesantren begitu hidup. Aku, bersama sahabat dekatku, Mawar. Sedang duduk di bawah pohon rindang dekat halaman pesantren. Mawar, yang juga bersahabat dengan aku sejak kelas 1 MTS, adalah sosok yang ceria dan selalu menjadi sumber semangat bagi Sarah.
“Sarah, kamu sudah siap untuk lomba al-Banjari minggu depan?” tanya Mawar dengan antusias.

Aku tersenyum, “Alhamdulillah, Mawar. Aku sudah berlatih setiap hari. Semoga kita bisa memberikan yang terbaik.”
Tidak hanya dikenal karena prestasinya di kelas, Sarah juga memiliki suara yang merdu. Dia sering menjadi pemandu sholawat di berbagai acara pesantren dan sering memenangkan lomba al-Banjari, sebuah bentuk apresiasi terhadap seni suara dalam tradisi Islam. Keahliannya ini membuatnya sangat dikenal dan dihormati di lingkungan pesantren.

Selain itu, Aku juga diberikan tanggung jawab sebagai pembantu di rumah salah satu ustad di pesantren. Kedisiplinan dan kerajinannya membuatnya dipercaya untuk membantu kegiatan sehari-hari di rumah ustad tersebut, dari membantu memasak hingga membersihkan. Hal ini menambah rasa hormat dan kekaguman banyak orang terhadapnya.

Di sekolah, Sarah selalu mendapatkan peringkat 1 dalam peringkat kelas, sebuah prestasi yang telah ia pertahankan dari kelas 1 MTS hingga sekarang. Wajahnya yang cantik dan sikapnya yang ramah membuatnya tidak hanya dikenal sebagai santriwati yang pintar dan berprestasi, tapi juga sebagai sosok yang dihormati dan dikagumi oleh banyak santri lainnya.

sarah
Ilustrasi gambar sarah

“Sarah, aku selalu kagum denganmu. Bagaimana kamu bisa seimbang dengan semua kegiatanmu?” tanya Mawar, penasaran.
Dengan senyuman yang lembut, Aku menjawab, “Semua ini berkat dukungan dari kalian semua, Mawar. Dan tentunya, berkat rahmat Allah SWT. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik dalam setiap kesempatan yang diberikan kepada kita.”

Kedua sahabat itu kemudian melanjutkan percakapan mereka, membahas tentang rencana dan harapan untuk masa depan, sembari menikmati semilir angin sore yang menyejukkan. Di pondok pesantren yang besar ini, Aku dan Mawar terus berjalan bersama, mengukir prestasi sekaligus memperdalam ilmu dan keimanan mereka, siap menghadapi tantangan yang akan datang.

Biasanya, pada hari Minggu awal bulan, orang tua Sarah selalu menyempatkan diri untuk menjenguknya di pondok pesantren. Namun, suatu bulan, Aku tidak melihat kedatangan mereka. Dia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, berusaha tetap fokus pada studi dan kegiatan keagamaannya, meskipun di dalam hatinya, kesedihan mulai bermunculan. Sahabatnya, Mawar, berusaha menghiburnya dengan membagikan sebagian makanan yang dibawa oleh orang tuanya saat berkunjung.

Selain dukungan dari Mawar, Aku juga mendapatkan bantuan dari beberapa teman dan staf pesantren, terutama karena dia membantu di rumah salah satu ustad. Mereka sering memberikannya makanan dan mendukungnya dalam berbagai cara. Meskipun demikian, ketidakhadiran orang tuanya pada bulan kedua dan ketiga mulai menimbulkan kekhawatiran yang lebih besar. Sarah mencoba menghubungi mereka melalui telepon pondok, tapi tidak ada kabar sama sekali. Situasi ini semakin membuatnya gelisah dan sedih.

Dalam situasi sulit ini, kehangatan dan dukungan yang diberikan oleh Mawar dan teman-teman lainnya menjadi sangat berarti bagi Sarah. Mereka sering belajar bersama, berdoa bersama, dan saling memberikan semangat. Kehadiran mereka menjadi sumber kekuatan bagi Sarah untuk tetap tegar menghadapi ketidakpastian tentang situasi keluarganya.
Selama bulan puasa, Sarah menghadapi situasi yang belum pernah ia alami sebelumnya. Sudah empat bulan ia tidak dikunjungi oleh orang tuanya, namun ia tetap bertahan berkat bantuan yang ia terima dari para ustad di pesantren, terutama dalam hal makanan selama bulan puasa. Prestasinya yang luar biasa di sekolah juga memberinya keuntungan berupa beasiswa, yang membuatnya terbebas dari kewajiban membayar SPP bulanan.

Ketika liburan puasa tiba, situasi menjadi lebih sulit bagi Sarah. Orang tuanya tidak datang untuk menjemputnya, berbeda dengan teman-temannya yang satu per satu mulai pulang ke rumah masing-masing. Mawar, dengan kebaikan hatinya, mengajak Sarah untuk menghabiskan liburan bersama di rumahnya. Namun, dengan pertimbangan yang matang, Sarah menolak tawaran tersebut dengan halus. Ia tidak ingin merepotkan Mawar dan keluarganya. Akhirnya, ia memutuskan untuk tetap tinggal di pesantren, mengabdikan waktunya untuk membantu membersihkan dan merawat pesantren selama liburan, sambil merenungkan situasi yang dihadapinya.

Setelah liburan berakhir, Mawar dan teman-teman lainnya kembali ke pesantren, membawa banyak oleh-oleh dan cerita dari rumah masing-masing. Mereka semua sangat peduli dengan Sarah dan berusaha untuk membuatnya merasa lebih baik. Meskipun tanpa kedatangan orang tuanya, Sarah tetap unggul dalam studinya, kembali meraih juara 1 sebagai siswa berprestasi di sekolah.

Dengan liburan semester kedua yang semakin mendekat, dan tanpa ada tanda-tanda kedatangan orang tuanya, Sarah mulai merencanakan untuk pulang ke rumahnya secara mandiri. Dia ingin mencari tahu penyebab mengapa orang tuanya tidak pernah mengunjunginya. Untuk itu, dia mulai menyimpan uang yang diberikan oleh ustadnya, hasil dari bantuannya di pesantren, untuk biaya pulang nanti.

Sarah merasa ini adalah langkah yang harus diambil, sebuah keputusan yang dibuat dengan perasaan campur aduk antara harapan dan kekhawatiran. Apa yang akan ia temukan di rumah? Apakah keluarganya baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan ini terus menggelayuti pikirannya. Namun, tekadnya untuk mendapatkan jawaban telah bulat. Ini adalah awal dari perjalanan baru bagi Sarah.