pengelana

Sang pengelana Legenda Bus Diantara Para Pengelana BOSKITA. Ada sebuah legenda yang sering menjadi bahan pembicaraan para pengelana. Menurut legenda, ada sebuah bus yang bisa membawa pengelana ke mana pun mereka mau. Tak peduli di benua apa pun atau bahkan di bawah laut, bus itu akan mengantar sang pengelana dalam sekejap mata.

Meski demikian tak ada yang tahu bagaimana cara untuk memanggil bus tersebut. Ada yang bilang bus itu hanya muncul untuk mereka yang kehabisan bekal, ada yang bilang bus itu hanya muncul saat bulan purnama, ada juga yang bilang bus itu hanya muncul untuk mereka yang benar-benar ingin berkelana bebas.

Dzawin sangat tertarik dengan legenda ini. Dia sering mendengar para pendaki gunung lain bercerita mengenai bus ini dan perlahan-lahan ketertarikannya berubah menjadi sebuah obsesi. Setiap kali dia mendaki dan bertemu pendaki gunung lain, dia pasti akan bertanya tentang Bus Pengelana. Meski demikian dia tak pernah mendapat jawaban yang memuaskan.

Tak pernah ada orang yang menjumpai bus itu. Orang-orang sudah menganggap legenda itu sebagai mitos. Sulit untuk mempercayai sesuatu seperti itu benar-benar ada, apalagi di tengah era modern yang dipenuhi smartphone dan kecerdasan buatan.

Meski demikian Dzawin tak pernah lelah untuk mencari. Tak mungkin ada asap jika tidak ada api. Bahkan meski cuma setitik harapan, dia sangat berharap bus itu bisa membawanya ke suatu tempat. Dia menginginkan sesuatu, tapi keinginan itu tak bisa dikabulkan oleh kecerdasan buatan paling pintar sekalipun.

Tanpa sadar waktu terus berlalu. Tubuhnya yang penuh dengan tenaga perlahan-lahan melemah, berkerut, dan akhirnya membungkuk. Meski menghabiskan berpuluh-puluh tahun mencari, Dzawin tak pernah bisa menemukan Bus Pengelana. Keberadaan bus itu benar-benar seperti legenda. Ada, tapi tidak untuk ditemukan.

pengelana
Ilustrasi gambar

Akhirnya Dzawin pun berhenti berkelana. Bukan karena dia tak lagi percaya, tapi karena tubuhnya tak lagi bisa. Kaki yang dulu bisa membawanya mendaki gunung tertinggi kini tak bisa melompat lagi. Matahari yang dulu adalah vitamin kini menjadi racun bagi kulitnya. Waktu sudah merenggut semua kekuatannya.
Pencariannya tidak membuahkan hasil, tapi Dzawin tidak menyesal. Dia tahu dia akan jauh lebih menyesal jika tak pernah mencari.

Terkadang, saat dia menunggu bus yang akan mengantarnya pulang, Dzawin masih percaya bahwa bus itu akan menghampirinya. Dia tak pernah bisa melepas harapan itu. Dia masih ingin mempercayai bahwa bus itu benar-benar ada di luar sana, muncul untuk mereka yang benar-benar membutuhkannya, bukan cuma sekedar menginginkannya.

“Selamat datang!”

Dzawin mengangkat kakinya yang renta memasuki bus. Saat melihat ke dalam dia sadar cuma dia satu-satunya penumpang. Meski demikian saat dia duduklah dia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari bus yang dia tumpangi hari ini.

“Selamat datang di Bus Pengelana!”

Supir bus itu tersenyum dengan senyum yang tak mirip manusia. Senyumnya benar-benar lebar, tapi tidak terlihat menakutkan. Supir itu memiliki rambut pirang sepunggung dengan telinga panjang yang lancip layaknya seorang elf. Dzawin mengira dia tengah berhalusinasi.

“Bus Pengelana?” tanyanya. “Kau bisa membawaku ke mana pun?”

“Benar. Aku bisa membawamu ke mana pun. Rusia, China, segitiga bermuda, bahkan luar angkasa. Tinggal pilih saja.”

“Luar angkasa?!”

“Ya, aku bisa membawamu ke sana, tapi itu cuma akan jadi perjalanan satu arah karena kita berdua akan mati tanpa oksigen.”
Supir itu tertawa akan leluconnya sendiri. Dzawin mencubit pipinya keras-keras. Dia tidak sedang bermimpi.

“Apa kau … manusia?” tanya Dzawin hati-hati.

“Apa aku terlihat seperti manusia?” supir itu balik bertanya. “Bercanda kok, tentu saja aku manusia. Apa kau mau lihat batu ginjalku?”

“T-tapi semua ini tidak masuk akal. Legenda itu sudah ada sejak lama. Apa kau sudah mengendarai bus ini sejak ratusan tahun lalu? Atau supir bis ini selalu berganti? Kalau bus ini memang nyata kenapa aku tak pernah menemukannya?!”

Tanpa sadar Dzawin sudah meluapkan seluruh pertanyaan di kepalanya. Ada banyak sekali yang ingin dia cari tahu. Di saat dia sudah nyaris menyerah dan menganggap Bus Pengelana cuma dongeng belaka, bus ini muncul dan melawan semua logika itu.

“Ratusan tahun … sudah selama itu rupanya,” ucap supir itu. “Kalau kau bisa bergerak secepat cahaya kau tak lagi merasakan waktu seperti orang normal. Rasanya baru kemarin aku mengangkut penumpang pertamaku. Aku ini supir bus yang spesial. Penumpang tidak menemukanku, akulah yang menemukan penumpang. Dan aku hanya mencari mereka yang tak pernah berhenti percaya.”

Dzawin merasa ada perasaan hangat yang tumbuh dalam dirnya. Impiannya … keinginan terbesarnya … dia berhasil menemukannya di ujung usia.

“Jadi, ingin pergi ke mana?” supir itu bertanya lagi.

“Benar-benar bisa ke mana saja?” Dzawin bertanya untuk memastikan. “Bagaimana kalau Puncak Everest?”

“Okay, pasang sabuk pengaman!”

Tak sempat Dzawin berkata apa-apa Supir sudah menancapkan kakinya ke pedal gas. Dalam sekejap semua berubah abu-abu. Rasanya seperti menaiki roler coaster tercepat di dunia. Namun, sama seperti datangnya, sensasi itu berakhir begitu saja digantikan hawa dingin yang menusuk tulang.

“Kita sampai!”

Tak peduli ke mana mata memandang warna putih menutupi seluruh sudut. Dzawin tak punya waktu menikmati keindahan maupun mempertanyakan apakah mereka benar-benar berada di puncak Everest, yang dia rasakan hanyalah dingin dan sakit menyelimuti tubuh rentanya.

“Stop stop stop! Pergi dari sini!”

Dan sekali lag semua berubah abu-abu. Saat dingin dan sakit itu menghilang Dzawin menyadari bus sudah kembali ke tempat semula. Setelah Everest yang dingin menusuk tempat ini terasa begitu panas, tapi tubuhnya beradaptasi dengan cepat.

“Ahh, betul. Aku harusnya memperingatkanmu tentang perubahan suhu dan tekanan. Belum pernah ada yang minta ke puncak Everest. Maafkan aku.”

Dzawin tidak membalas apa yang Supir ucapkan. Dia menyadari dia baru saja mengalami kejadian paling luar biasa dalam hidupnya. Semua yang dia lihat dan rasakan, semua itu nyata. Dia benar-benar berada di dalam Bus Pengelana.

Dan kemudian, Dzawin pun tertawa.

“Apa ada yang lucu? Atau kau sudah jadi gila?” tanya Supir.

“Tidak, tidak ada. Aku cuma … senang? Lega? Aku mencari bus ini selama puluhan tahun. Semua itu tidak sia-sia. Bus ini benar-benar ada ….”

Dzawin selalu ingin pergi ke suatu tempat, tapi tak ada cara untuk ke sana. Meski demikian Bus Pengelana bisa mengantarnya ke mana saja. Bagi Dzawin bus ini bukan sekedar impian, tapi juga sebuah harapan.

“Ke mana saja …. Bulan? Mars? Atlantis? Atau … ke masa lalu?”

Supir itu terdiam. Senyum Dzawin yang semula merekah lebar perlahan surut.

“Ahh, maaf, itu pertanyaan bod—”

“Tentu saja bisa!”

Dzawin tak bisa mempercayai apa yang dia dengar. Seolah paham akan kebingungannya, Supir kembali berkata, “Tentu saja bisa. Bus ini bisa mengantarmu ke mana saja. Ke dimensi lain, ke masa lalu, ke masa depan, bahkan ke akhirat. Sebutkan saja ke mana kau ingin pergi dan aku akan mengantarmu.”

Suara penuh percaya diri sang supir membuat Dzawin tak bisa berkata-kata. Perlahan air mata membasahi wajahnya. Setelah sekian lama. Akhirnya … akhirnya ….

“Merubah masa lalu tidak akan merubah masa depan, apa kau yakin?” tanya Supir setelah Dzawin memberikan satu tanggal.

“Ya. Tidak apa-apa.”

Dan kemudian semua kembali menjadi abu-abu.

Daun-daun berguguran saat angin kencang menerpa. Angin dingin menjadi tanda perubahan musim. Sebentar lagi hujan akan menjadi rutinitas sehari-hari. Orang-orang akan berhenti berjalan kaki dan memilih diam di rumah atau menggunakan kendaraan pribadi.

Dzawin melangkah pelan di atas trotoar melintasi jalan-jalan yang harusnya familiar baginya. Jalanan itu jauh berbeda dari yang dia ingat. Waktu, meski hanya beberapa tahun, sanggup mengubah segalanya.
Dzawin memutuskan duduk di halte bus saat kakinya tak sanggup berjalan lebih jauh. Sinar matahari membalutnya hangat. Jika tidak hati-hati dia bisa saja jatuh tertidur saking nyamannya.

“Permisi.”

Suara seorang wanita membangunkannya. Secara refleks Dzawin bergeser memberi ruang bagi wanita itu untuk duduk. Wanita itu berterima kasih dan duduk dengan suara berat. Dia sedang hamil besar.

“Anda sendiri?” tanya Dzawin. “Kelihatannya Anda sudah terlalu rentan untuk bepergian sendiri.”

“Ahh, suamiku sedang kerja. Aku juga cuma jalan-jalan sedikit, rumahku dekat kok,” jawab wanita itu. Dzawin mengangguk maklum.

“Sudah berapa bulan?” tanya Dzawin lagi.

“Delapan bulan, sedikit lagi,” jawabnya. “Sebenarnya aku agak takut. Apakah … apakah melahirkan sesakit itu?” tanyanya. Dzawin bingung harus menjawab apa.

“Istriku selalu berteriak setiap melahirkan anak kami, tapi aku tak pernah mendengarnya mengeluh kesakitan. Mungkin ada suatu hal yang menutupi rasa sakit itu. Contohnya, kebahagiaan menjadi orangtua.”

“Kebahagiaan menjadi orangtua … ya, aku tahu itu.”

Wanita itu mengelus perutnya. Dzawin merasa canggung untuk melanjutkan pembicaraan, tapi akhirnya memilih terus bicara.

“Sebenarnya yang paling penting adalah merawat anak, bukan melahirkan anak. Hanya dalam beberapa tahun pergerakan anak akan jadi tak terkontrol. Bagaimana cara anak merawat orangtua akan sangat menentukan seperti apa anak itu saat dewasa.”

“Ohh ya? Kebetulan aku memang punya banyak rencana untuknya.”

Wanita itu tersenyum dan kembali membelai perutnya. Senyumnya terasa hangat seolah-olah kebahagiaannya menular ke semua yang melihatnya.

“Aku ingin dia jadi anak yang sehat. Makan banyak sayur dan rajin berolahraga. Aku ingin dia punya banyak teman. Aku berharap dia jadi anak pintar dan bisa diandalkan. Karena dia anak pertama kuharap dia bisa jadi panutan adik-adiknya.”

Dzawin mendengarkan wanita itu bicara tanpa mencoba untuk menyela. Sebagai orangtua dia bisa paham apa yang wanita itu rasakan dan perasaan itu membuatnya menangis. Dengan cepat dia menghapus air matanya.

“Kurasa aku harus pergi dan melanjutkan jalanku,” Dzawin membungkuk sedikit pada wanita itu. “Makan makanan sehat, istirahat yang cukup, dan cek kandungan secara rutin.”

“Terima kasih … uumm, Anda siapa ya?”

“Cuma orangtua yang kebetulan lewat.”

Wanita itu tertawa. Dzawin membalas dengan senyuman sebelum berbalik dan berjalan secepat yang dia bisa tanpa dicurigai.

Udara di masa lalu sungguh nyaman di kulit Dzawin. Kira-kira apa yang akan terjadi jika dia memilih untuk tinggal di sini? Udaranya bersih dan segar, mirip dengan udara gunung-gunung yang sangat Dzawin cintai.

“Sudah selesai?”

Dzawin tidak menjawab pertanyaan Supir. Dia duduk di kursi bus dan terdiam. Terlalu banyak emosi berkecamuk dalam hatinya dan itu membuatnya sakit tanpa dia ketahu mengapa.

“Ayo … kita pulang,” ucap Dzawin pada akhirnya.

“Kau yakin?”

“Ya, aku yakin.”

Meski demikian Supir tidak menginjak pedal gas. Dia berbalik dan menatap satu-satunya penumpang bus.

“Bus Pengelana ini ada untuk membantu orang-orang yang ingin mencari sesuatu. Kalau kau sudah menemukan apa yang kau cari maka aku tak akan mengantarmu lagi. Apa kau yakin ingin kembali?”

Dzawin terdiam. Sebenarnya apa yang sedang dia cari? Apa yang ingin dia lakukan? Semasa muda dia punya begitu banyak rencana, tapi di saat tua semua rencana itu hilang ditelan waktu. Kembali ke masa lalu tidaklah seindah yang dia bayangkan. Sebaliknya, ini terlalu menyakitkan.

“Aku akan nyalakan mesinnya.”

Mesin menyala. Suaranya mengingatkan Dzawin akan bus yang biasa mengantarnya ke sekolah. Ayahnya harus bekerja sehingga tak pernah bisa mengantarnya. Di masa-masa itulah Dzawin berharap dia bisa menaiki Bus Pengelana.

Akhirnya, tepat sebelum pintu menutup, Dzawin melompat keluar. Tanpa memperdulikan kakinya yang protes dia mulai berlari secepat mungkin menuju wanita hamil yang masih menunggu di halte. Belum pernah kaki-kaki rentanya dipaksa sekeras ini, tetapi Dzawin terus berlari.

“Darah!” teriaknya dengan sisa napas sehabis berlari. “P-persalinan biasanya keliru jadi kasus pendarahan sering terjadi. kalau golongan darah Anda langka sebaiknya siapkan beberapa kantung sebelum persalinan.”

Wanita itu menatapnya keheranan sementara Dzawin jatuh menghantam tanah akibat kakinya yang tak lagi sanggup menopang tubuhnya. Dzawin mengatur napasnya perlahan. Dia menyadari apa yang dia katakan sangatlah membingungkan, tapi dia tak bisa menahan diri.

Wanita itu terdiam dengan kedua mata menatap Dzawin dalam-dalam. Dzawin tak tahu harus menatap ke mana, tapi akhirnya dia balas menatap mata wanita itu. Dia memiliki sepasang mata yang indah.

“Apa kau … anakku?”

Dzawin pun kembali menangis.

Puluhan tahun dia berjuang. Puluhan tahun dia mencurahkan tenaga untuk mencari Bus Pengelana hanya demi melihat sosok ibu yang meninggal saat melahirkannya. Meski dia tahu itu mustahil tapi dia ingin melihat sosok wanita di depannya dengan kedua matanya sendiri. Bukan melalui foto maupun video.

“Aku … aku ….”

“Tak apa, bangunlah, Dzawin.”

Sungguh tak bisa digambarkan apa yang Dzawin rasakan saat akhirnya mendengar suara itu memanggilnya selayaknya seorang ibu memanggil anaknya.

“Apa kau kemari dengan Bus Pengelana?” Dia bertanya. Dzawin menjawab dengan anggukan. “Ternyata bus itu benar-benar ada ya?”

“I-Ibu tahu tentang bus itu?” Dzawin bertanya canggung. Aneh rasanya mengucapkan panggilan itu secara langsung untuk pertama kalinya.

“Ayahmu tak pernah cerita ya? Dulu kami bertemu saat mendaki gunung. Kami bercerita tentang Bus Pengelana dan ayahmu membual kalau dia pernah melihat bus itu.”

Mereka tertawa kompak. Dzawin merasa ada tali tak terlihat mengikat mereka. Sebuah ikatan yang tak bisa diputus meski melewati dimensi.

Dia mengelus pipi Dzawin, menelusuri kulitnya yang sudah berkeriput. Perbedaan 80 tahun membentang di antara mereka, tapi itu semua tak ada artinya. Dzawin sedang berada di depan ibunya. Cuma itu yang dia pedulikan.

“Bagaimana kabarmu, Dzawin? Apa kau makan dengan baik?”

Ibunya ikut meneteskan air mata. Mungkin dia kehabisan kata-kata. Sungguh sebuah keajaiban dia bisa melihat anaknya yang seharusnya tak pernah bisa dia gendong.

“Aku … aku ….”

Terlalu banyak air mata yang menetes membuat hidungnya tersumbat. Sungguh sikap yang tak pantas bagi kakek-kakek 80 tahun, tapi saat ini Dzawin hanya ingin menjadi anak kecil dan menikmati cinta yang tak pernah dia rasakan.

“Aku makan banyak sayur. Aku juga rajin berolahraga. Temanku banyak dan aku selalu juara kelas. Aku tak pernah punya saudara, tapi aku ayah yang baik. Aku sering mengajak anakku naik gunung. Begitu juga dengan cucuku. Aku … aku selalu mencoba menjadi anak yang takkan membuatmu malu, Mama ….”

Dzawin menangis dengan kencang yang dibalas oleh ibunya dengan pelukan. Dia tahu ini hanya sementara, dia tahu masa depan tak akan berubah, tapi untuk sesaat saja, hanya untuk sesaat saja, dia ingin menjadi anak kecil yang dimanjakan ibunya.

“Tampaknya aku di sana tidak beruntung ya?”

Dia membelai rambut Dzawin dan memberikan ciuman ke ubun-ubun kakek tua yang tak pernah merasakan pelukan seorang ibu.

“Aku selalu mengkhawatirkan masa depan, tapi melihatmu di sini melenyapkan kekhawatiranku. Tak ada sedikitpun dirimu yang membuatku malu, Nak. Aku bangga telah melahirkan pria kuat sepertimu.”

Kalimat itu memberi rasa sakit tambahan di hati Dzawin. Ibunya sebenarnya bisa selamat. Jika saja dia mengabaikan anak dalam kandungannya dia pasti akan selamat. Namun, ibunya memilih melahirkannya meski tahu nyawanya akan jadi bayarannya.

“Hidupmu pasti berat, tapi aku bersyukur kau tak pernah menyerah. Kau pasti akan baik-baik saja. Terima kasih sudah datang dan mengingatkanku. Aku bersyukur telah melahirkanmu.”

Dzawin tersunggut menahan napas dan tangis. Ada satu hal, satu kalimat yang selalu ingin dia sampaikan pada ibunya tak peduli meski dia harus mendaki ratusan gunung. Dzawin hanya ingin menyampaikan pesan cinta yang selalu dia simpan di dalam hati.

“Terima kasih sudah melahirkanku.”

Bus Pengelana adalah legenda di antara para pengelana. Katanya bus ini bisa mengantarmu ke mana saja menembus ruang dan waktu. Namun, Bus Pengelana tak pernah menerima penumpang. Bus itulah yang akan mencari orang yang pantas untuk diajak berpetualang.

Apakah kamu salah satunya?

***TAMAT***