rina

Rina Datang Untuk Memberikan Aku Kebahagiaan Dan Penebusan BOSKITA. Memang bukan salah siapa siapa sih. Kalau ada yang salah ya… semuanya salah. Kenapa gitu? Ya memang semuanya terlibat kok. Aku juga salah. Istri juga salah dan dia juga salah. Suruh siapa kasar sama suami? Kalau aja gak kasar, mungkin kisahnya beda.

Memang sih hidup dalam dunia pernikahan itu tidak seindah yang ditulis di kisah dongeng kaki 5 ala anak kecil; mereka pun hidup bahagia selamanya. Ah omong kosong. Mana ada yang bisa hidup abadi? Lah bener kan? Siapa yang usianya bisa sampai 1000 tahun?

Bukan itu yang ingin dibahas tapi kehidupan rumah tangga aku. Oh iya. Perkenalkan. Nama aku Salim; usia 27 tahun. Karyawan swasta dengan gaji lumayan. Lumayan itu ya tergantung juga. Untuk ukuran orang daerah mah besar sekali. Untuk orang ibu kota, ya lumayan.

Lah untuk kaum borjuis yang tinggal di penthouse mah, itu uang sampah punya. Sebut saja gaji aku 20 juta per bulan. Kalau untuk beli mobil mewah mah susah apalagi pelihara gundik atau sugar baby; bisa 35 jt per bulan + air listrik dan omong kosong dia. Bokek Lah aku.

Ok. Bukan pendapatan juga yang ingin dibahas. Jadi begini, aku menikah dengan Ratna, dan masih bisa dibilang pengantin baru tapi Ratna yang diyakini akan menjadi istri yang baik, ternyata jadi setan. Omongan nya kasar. Pemalas. Boros. Malas kerja tapi dia juga kerja. Ya buat dia buang tuh uang.

Cantik? Jangan tanya. Memang cantik bagaikan model tapi kenyataannya hati dia macam setan dan mungkin saja setan gak betah sama dia. Mungkin saja dia depresi tapi kenapa? Mau jadi nyonya besar? Suruh siapa menikah sama aku? Salah dia kan? Aku mah cinta saja sama dia tapi lama kelamaan bisa sakit hati juga.

Masak juga malas. Cuci piring juga ogah. Kerjaan rumah tangga juga gak mau dia lakukan. Maunya cuma baca komik kaki 5 dan nonton acara gak jelas di hp dia yg isinya sampah. Mending dapat ilmu. Lah ini? Gak dapat apapun. Dibilang dikit, marah. Gak dibilang juga gak kunjung membaik. Maunya apa?

Lapor ke orang tua nya? Mama mertua paling bilang, “Duh. Dia capek. Maklum dong. Kamu harus ngerti jadi suami. Dia anaknya gak manja kok.”

Lah iya. Ibu mana yang gak bela anaknya. Anaknya gak bener juga tetap dibela. Dah tau malas tetap saja dibilang rajin. Induknya ya memang begitu. Kalau keras dikit, berlagak sakit di jantung. Dikasih duit juga hilang tuh penyakit. Setan turunan memang.

Eh dasar pemalas. Dia berhenti kerja. Alasannya? Gaji aku dah naik. Ya cuma 2 juta sih tapi ya bukan artinya bisa seenaknya saja. Ngomong ke bapaknya? Dia malah cerita kalau dulu dia pendekar silat dari gunung Bromo, pernah berenang dengan ikan hiu, terbawa arus sampai lautan pacific lah sampai bisa jadi tabib juga kayaknya wong fei hung.

Lucunya dia bilang dia bisa lihat setan. Pas masuk ke rumah pertama kali, dia bilang ada lihat setan. Bawa sial kata dia. Aku hanya ketawa dalam hati saja. Kalau hebat mah, hidup lu pada kok susah bener perasaan ya? Mau mengajar orang tu lihat cermin dulu napa? Ya biar saja. Anggap saja tuh berdua macam badut.

Marah ke mereka juga gak pantas. Sudahlah. Umur mereka berapa lama lagi sih? Ya memang benar sih. Tak lama kemudian mereka berdua meninggal dunia tapi tidak bersamaan. Awalnya ibunya dulu dan kemudian bapaknya. Singkat kata, istri aku jadi yatim piatu. Jeleknya adalah, istri aku jadi depresi.

Depresi? Yang betul mah aku yang depresi. Eh iya. Ada yang menarik di sini. Dia ada adik perempuan yang gak kalah cantiknya dan dia juga kerap kesal dengan kedua orang tua dia alias mendiang mertua aku juga kakaknya. Singkat kata, aku memiliki seorang “sekutu”. Memang sih dia gak gamblang dalam mengungkapkan kekesalan dia ke kakaknya alias istri aku alias tahu sama tahu.

rina
Ilustrasi gambar rina

Suatu hari atau 2 tahun kemudian, entah kenapa, Rina, adik ipar aku datang menginap. Alasan dia? Sedang mencari kerja di ibu kota. Oh dia dan mendiang mertua memang orang daerah dari Kalimantan sana. Jadi masuk akal saja kalau dulu mendiang bapaknya pernah terbawa arus sampai ke lautan pacific. Mungkin mereka gak pernah lihat peta kayaknya atau masih memakai peta zaman Romawi.

Rina memang menginap mencari pekerjaan di ibu kota. Kalau sudah dapat, ya dia angkat kaki atau menetap di sini dengan catatan kalau tempat kerja dia dekat sama rumah. Kalau jauh, ya pergi deh dia. Soal fisik, mereka berdua layaknya kakak adik kembar. Soal sikap? 1 malaikat dan 1 nya setan. Nasib oh nasib. Apa salah jodoh ya aku?

Ya udah lah. Aku jalani saja. Kami berdua belum mau memiliki anak dalam waktu dekat ini. Ya kita semua tahu anak itu mahal. Karet pengaman itu murah tapi sekali jebol, nasib orang bisa berubah banyak. Kami memang masih menabung uang untuk keperluan anak. Biasa, untuk ini itu dsb. Anak katanya investasi. Saham kali. Ah sudahlah. Anggap saja kami tidak mau punya anak.

Sebetulnya kalau istri aku gak gila seperti ini, hidup berdua dengan dia seperti surga. Bisa berduaan setiap saat bahkan siapa yang butuh pintu kamar mandi? Bebas kan? Tapi karena istri aku menggila entah kenapa, rumah jadi kayak penjara saja. Ngomong sama teman lelaki saja takut. Dikira mau main cewek meski faktanya sedang ngomong bola.

Nonton bola di pos keamanan, dikira ke karaoke dikelilingi 10 wanita cantik tanpa busana dan pesta seks sampai subuh. Ya itulah pikiran dia tapi dia mau apa saja, aku tak larang. Kurang baik apa aku sama dia? Mau minta bantuan juga tak pernah pakai kata tolong dan sudah dibantu tidak pakai kata terima kasih. Didikan setan memang. Mau cerai? Nikah sama siapa lagi?

Aku hanya kasihan saja sama dia. Ya gini saja deh. Dia dulu dikekang sama orang tua dia. Ini itu gak boleh. Dikira kalau pergi keluar, pulang langsung gak perawan lagi mungkin. Konyol memang. Ya didikan mereka seperti itu. Mau bagaimana lagi? Ya mungkin suatu saat aku akan memutuskan untuk bicara kepada dia tapi lihat saja nanti.

Rina sudah ada di rumah aku. Memang sih ada 1 kamar khusus tamu tapi Rina edisi khusus. Pertama; dia adik ipar. Kedua; dia menumpang gratis alias gak bayar dan dapat makan minum air listrik Internet…. GRATIS!!! Yang bayar? Ya aku lah. Mana sabun cuci baju jadi semakin boros. Ya untung saja dia cantik dan ramah; jadi ya ada sedikit hiburan alias cuci mata.

Ya benar memang. 1 cantik tapi kayak setan. 1 cantik hati malaikat. Semua yang waras pasti memilih cantik hati malaikat. Setan sudah ada di mana saja termasuk istri tetangga yang gak kalah cantik (dan genit), sayang saja suaminya “anggota”, jadi ya mending cari aman saja dah daripada nyawa melayang.

Ratna suatu siang sedang ada rencana pergi keluar dan aku kebetulan sedang cuti. Biar saja org gila itu keluar. Rumah aku saja mungkin gak tahan ada dia. Entah kenapa dia berubah seperti itu. Kasar dan pemalas. Ibarat dia itu seperti mobil mewah tanpa mesin. Duduk doang menghabiskan uang aku. Sementara itu, Rina masih menganggur.

“Kak. Sudah makan? Kak Ratna gak masak? Kak, aku minta maaf atas kelakuan kakak aku ya. Aku sebetulnya juga gak rela kak Salim menikah sama dia karena aku lihat kak Salim itu orangnya baik, ganteng, jujur, pekerja keras dan pribadi apa adanya. Kak Ratna begini karena orang tua kami yang terlalu keras mendidik anaknya. Ya kak Ratna jadi begini. Kasihan sih memang tapi aku tidak seperti itu. Ya pilihan hidup sih kak. Kalau kak Salim da gak tahan, aku sih gak keberatan kak Salim ceraikan dia saja. Daripada kak Salim menderita.” Kata Rina sedih.

“Iya dek. Gpp. Aku juga tidak tahu dia akan seperti ini. Awalnya dia beres saja tapi entah kenapa dia berubah seperti ini setelah menikah. Bahkan urusan suami istri saja, dia gak mau. Parahnya ya dek, tiap malam pakai gaun yang menerawang tapi aku mau sentuh saja malah dimarahin. Lah, aku kan suami dia. Masak suami gak boleh sentuh istri? Dia kalau mau kekayaan mah jangan sama aku dari awal karena aku kan bukan bos tambang emas. Dia sudah tahu semuanya tapi kenapa dia masih mau sama aku dan memperlakukan aku seperti ini?” Keluh aku sambil menangis karena aku sudah menyentuh titik puncak.

“Kak. Sabar ya kak. Aku juga pernah bilang ke kak Ratna untuk berubah dan konsultasi ke ahli jiwa tapi dia menolak dan aku malah dimarahin sama dia. Saya sudah pasrah kak. Aku cuma mikir kak Salim saja. Harusnya kak Salim mendapatkan pendamping yang lebih baik. Maaf kak. Aku sungguh menyesal tidak bisa membantu. Apalah aku dan siapa aku? Aku saja tidak ada pekerjaan dan masih menumpang hidup di sini. Semoga aku dapat pekerjaan layak agar aku bisa membantu kak Salim dan membantu menutupi biaya pengeluaran. Aku juga gak enak hati sama kak Salim.” Kata Rina.

“Dek Rina ada keahlian apa? Katanya dek Rina lulusan akuntansi. Kalau iya, ada lowongan di tempat aku. Kebetulan 2 hari lalu ada akuntan yang baru berhenti kerja. Dia mau menikah dan pindah sama suami dia. Mungkin saja kamu cocok di tempat aku, dek. Nanti aku coba tanya ya.” Kata aku.

“Oh iya? Aku memang lulusan akuntansi. Memang belum ada pengalaman kerja sih, kak tapi aku mau kerja keras dan belajar. Aku disiplin dan memiliki etika kerja yang tinggi serta jujur terutama soal uang. Aku rasa kak Salim tau lah tentang aku bagaimana orangnya. Tolong kabari aku ya kak.” Kata Rina yang mendadak jadi bahagia.

“Beres dek. Tenang ya dedek cantik. Hehehe. Kamu baik sekali. Cuma kamu yang bisa membuat aku senang. Hari hari aku lalui dengan penderitaan dan sejak ada dek Rina di sini, rasa lelah aku hilang begitu saja. Makasih banyak dek sudah datang ke rumah ini. Rumah ini sudah seperti padang pasir dan dek Rina datang sebagai sumber air yang memberikan aku kesegaran jasmani dan rohani. Dek. Mau makan apa? Aku belikan nanti.” Kata aku memuji dia.

“Ah kak Salim mah bisa saja deh memuji aku. Belum pernah aku dipuji seperti ini. Hehehe. Kak. Biar aku masak saja. Kak Salim pasti sudah rindu masakan rumah kan? Aku tadi buka kulkas masih ada beberapa daging dan sayuran. Masih segar juga sih. Aku masak ya. Kak Ratna kalau cuek sama kakak, anggap saja dia sudah gila. Hehehe.” Kata dia sambil tertawa.

Kami berdua tertawa dan rasa sedih kami hilang seketika. Ah mulut manis aku memang efektif dan itu sebab aku bekerja sebagai marketing manager di perusahaan asing. Rina segera ke dapur. Aku segera menghubungi bagian HR tentang lowongan pekerjaan. Untung saja orang HR itu teman baik aku. Loh kenapa?

Nah ini dia. Pemimpin HR itu bernama Agung dan dia itu sudah ada anak bini tapi bini dia tingkah nya seperti ampas yang dikasih nyawa alias gak kalah brengsek sama istri aku alias Ratna. Dia suka main cewek alias BO. Kadang main sama yang import macam Uzbek. Aku yang biasa mengurus tamu dari luar, tentu saja aku tahu tempat semacam itu dan untung saja asisten aku yang masih bujangan yang “terjun” ke lapangan; bukan aku.

Ini beneran loh. Pentungan aku cuma berakhir di lubang Ratna. Ya dulu lubang dia terbuka kapan saja pas baru nikah. Sekarang sudah dicor rapat alias ditutup untuk urusan cuci baut termasuk aku. Ah sudahlah. Singkat kata, asisten aku yang berutung itu senantiasa menemani para tamu dari luar sana untuk urusan “santap malam”.

Nah, semua info yang aku dapat dari bujangan brengsek itu tadi, aku sebarkan ke Agung yang baut nya sudah gatal ingin dicuci dengan jepitan maut tapi yang di rumah sudah gak enak dilihat dan gak enak didengar serta gak enak lagi masakan nya, Agung akhirnya mencuci baut dia di tempat yang aku beritahu dan semua nomor cantik itu sudah aku umpan lambung ke Agung.

Agung dengan taktik ninja dia, akhirnya dia bisa mencuci baut dia setelah sudah lama tidak celup celup. Besoknya, Agung yang sebelumnya terlihat seperti zombie, berubah menjadi segar ceria penuh semangat karena semalam baut dia sudah diberikan jepitan maut oleh cewek Uzbek yang membuat Agung menjadi waras dan ranjang tempat dia cuci baut itu bergoyang dahsyat seperti rel kereta api jurusan Jakarta Surabaya yang kerap membuat penumpang susah tidur bahkan mayat sekalipun bisa bangun lagi karena rel nya berantakan.

Bukan analogi yang cocok tapi kita semua tahu kalau baut lelaki kadang sesekali harus dicuci secara alamiah dengan bantuan bibir vertikal yang hanya dimiliki oleh wanita. Mungkin itu sebab perempuan bawel, bibir atas bawah bisa ngomong bersamaan. Ya sudah dari pabrik nya kayak gitu.

Agung, di pagi itu terlihat begitu bersinar dan aura siluman dia eh aura semangat kerja dia terlihat jelas darinya. Senyum dia begitu lebar dan semangat kerja dia begitu menggila. Entah itu jepitan orang luar seperti apa rasanya, mungkin lebih kuat daripada kena jepit pintu.

Nah itu sebab, aku yakin Agung bisa membantu aku dan Rina agar Rina bisa bekerja bersama aku. Dia dapat rejeki dan aku dapat pahala juga sudah membuka pintu rejeki buat Rina dengan harapan bisa membuka pakaian dia suatu hari. Oh well, Rina kan masih lumayan. Perawan pula. Kudu diajarkan bagaimana cara membuat suami ingin cepat pulang dan hanya memakai sarung kalau di rumah saja.

Ah itu memang fantasi aku. Betul juga kata pepatah; perempuan cantik itu hanya enak dilihat malam hari, kalau perempuan baik, enak dilihat setiap saat. Mungkin Rina termasuk kategori kedua alias perempuan baik. Memang sih soal kecantikan, Rina tidak kalah kalau diadu dengan Ratna tapi kalau soal sikap? Rina menang telak.

Aku kemudian ke kamar dan menghubungi Agung cabul.

“Bro. Aku ada ipar. Lulusan akuntansi dan lagi mencari kerja. Dia bisa tolong dibantu gak? Hehehe. Kalau soal BO mah, ada lagi nih, keturunan Arab. Mancung putih pula. Kesukaan elu lah tuh mah. Wkwkww. Nanti asisten gua bisa bantu. Tenang. Cuma kita bertiga yang tau. Mau?”

“Oalah. Arab. Gua demen tuh. Fulus mulus. Hannafud!!! Ane amu eh mau. Beres bro. Tolong suruh doi aja siapkan resume besok. Wawancara lusa. Mungkin gak sampe seminggu, bisa mulai gawe.” Kata Agung yang logatnya sudah berubah menjadi seperti sheikh Mansour.

“Ok bro. Gua sempat lihat kalau nilai dia pas kuliah sangat memuaskan seperti jepitan cewek import. Ipk 3.9. Mantap kan?”

“Alhamdulillah. Mantap ya akhi. Boleh deh. Ane bantu. Ini gak tipuĀ² kan? Dulu sebelum kenal ente, ane coba bo, dapat batang maho. Ane trauma hampir gila dan mau bunuh diri. Ane terguncang sampai jatuh ke selokan. Sejak kenal ente, ane dapat kue apem import. Luar biasa ente.” Puji dia yang tampaknya sudah tak sabar ingin membuka celana dia.

“Beres. Makasih banyak bro. Udah lah. Dulu temen ane cari panlok, malah dapat brewok dan bawa golok. Untung masih utuh tuh temen ane. Telor 1 jt. Suek. Pernah mau dapat amoy Singkawang… malah dapat Bambang. Sial kan? Kapok dah dia skrg. Dah; tenang aja. Nanti ane kasih umpan lambung, ente tinggal sundul aja kayak Ronaldo. Ok?” Kataku sambil tersenyum.

“Ok ya akhi. Sampai jumpa besok.” Kata dia penuh semangat. Mungkin saat ini, celana dalam dia sudah sobek karena gak tahan mau kue apem Timur Tengah.

Beberapa menit kemudian….

“Kak Salim. Masakan sudah jadi. Yuk mari kak. Kita makan bareng.” Kata Rina.

Aku segera terjun bebas dari lantai 2 ke lantai 1. Memang rumah aku ada 2 lantai tapi tak luas di lantai 2 sana. Ah bukan kisah tentang arsitektur. Gak perlu bahas. Aku turun ke bawah dan langsung mencium bau masakan yang sangat enak. Air mata (bukan sperma, itu nanti ya) mengalir deras membasahi wajah tampan aku. Betapa rindu mulut, lidah dan semua organ pencernaan aku terhadap masakan rumah khas perempuan jelita.

Aura kecantikan Rina semakin bersinar dari wajah ayu nya dan penampilan dia yang apa Adanya terlihat jauh begitu menggairahkan khas ibu rumah tangga yang senantiasa setia melayani suami sepenuh hati. Beda jah dengan Ratna yang biar sudah telanjang malah bikin impoten. Bukan karena aku jadi maho tapi sikap dia yang membuat aku muak.