kalimantan

Mantra Pengikat Roh Di Pedalaman Kalimantan Eps 1 BOSKITA – Ini bukanlah kali pertama aku menginjakan kaki di Kalimantan. Sebelumnya aku sudah pernah sekali ke Balikpapan dan dua kali ke Pontianak. Namun, aku tak pernah ke pedalaman. Sebelumnya hanya di kota saja, bertemu klien dari pemerintah daerah setempat. Tentu saja untuk urusan bisnis, karena perusahaan tempatku bekerja menang tender sebagai pemasok alat berat untuk keperluan proyek mereka.

Namun, kali ini aku harus ke daerah pedalaman demi urusan pribadi. Aku tidak berangkat sendiri. Aku berangkat bersama Pak Wardoyo dan Bu Lastri. Mereka adalah orang tua dari tunanganku, Retno, yang menghilang lima tahun lalu.

Beberapa hari yang lalu kami menerima kabar bahwa Retno ada di pedalaman Kalimantan, setelah menghilang tanpa sebab selama bertahun-tahun. Tentu saja, titik terang keberadaannya membuat kami bersemangat untuk kembali mencarinya. Entah apa yang ia lakukan di tanah orang, kami tidak tahu. Yang jelas, kedatangan kami jauh-jauh dari Jawa Tengah adalah untuk menjemputnya.

Sewaktu menginjakan kaki di bandara Samsudin Noor, Banjarmasin, aku diliputi rasa cemas. Begitu juga dengan orang tuanya Retno. Ada sedikit gugup dan juga rasa penasaran, karena kami akan menempuh perjalanan selama 14 jam melewati hutan belantara. Apalagi, tujuan kami adalah daerah pedalaman yang kudengar masih kental dengan adat-istiadat maupun budaya suku Dayak.

Beberapa tahun lalu, sewaktu pertama kali menjejakkan kaki di Pontianak, bayangan tentang Kalimantan yang hanya hutan belantara dan hal mistis langsung sirna. Ternyata kota-kota di Kalimantan tak jauh berbeda dengan di Jawa, hanya saja lebih lengang. Bahkan, kotanya lebih rapi tanpa kemacetan yang membuat sumpek. Di sini, lalu lalang mobil Fortuner atau Pajero adalah pemandangan biasa. Sepertinya, hampir semua orang Kalimantan mengendarai jenis mobil mewah itu.

“Sudah siap?” tanya Galih, kawan lamaku.

“Sebentar, tunggu pak Wardoyo. Sepertinya ada yang diurus dengan pihak security bandara,” jawabku seraya menyambut jabat tangan Galih.
Aku mengernyitkan dahi, melihat ada bekas luka bakar di punggung tangannya. Belum sempat kutanyakan, Galih sudah nyerocos duluan.
“Ada sedikit kecelakaan di tempat kerja. Ada alat yang korslet lalu terbakar. Tanganku sempat sempat dijilat api. Untung gak kenapa-kenapa.”

Sejurus kemudian, orang yang kami tunggu akhirnya datang membawa tas jinjing berisi tas dan pakaian.
“Ada apa, pak? Bawa barang terlarang?” seloroh Galih dengan maksud bercanda.

“Biasalah…bagi-bagi rejeki,” balas pak Wardoyo seraya tersenyum.

Galih lantas membantuku memasukkan barang bawaan ke bagasi mobil. Terdapat beberapa tas punggung dan koper berisi pakaian serta barang keperluan baik milikku, maupun milik calon mertuaku. Aku tidak banyak membawa pakaian, karena rencana perjalanan hanya dua atau tiga hari. Setelah bertemu Retno, kami akan segera kembali pulang ke Jawa secepatnya.

Aku duduk di samping Galih, sedangkan orang tuanya Retno duduk di jok tengah. Wajah mereka tampak gelisah, sudah tak sabar untuk selekasnya bertemu anaknya. Orang tua manapun, pastilah memendam rindu setelah sekian tahun tidak mengetahui keberadaan si buah hati. Mobil kemudian bergerak meninggalkan area bandara lalu melewati ruas jalan kota Banjarmasin yang lumayan padat.

Jam di ponselku menunjukkan pukul 11.05 wita, lebih cepat satu jam dari arloji yang kukenakan. Arloji yang diberikan Retno sebagai hadiah ulang tahunku. Tak kusangka, arloji itu adalah kenangan terakhir darinya sebelum hilang tanpa jejak.

“Kita makan dulu, ya. Di arah keluar kota ada itik gambut. Rasanya gurih. Bebek khas Kalimantan,” seloroh Galih membuka basa-basi.

Aku mengangguk setuju, begitu pula kedua calon mertuaku. Kami memang harus mengisi perut sebelum menempuh perjalanan panjang melintasi jalan trans Kalimantan. Sepanjang jalan, Galih terus bicara kesana kemari tentang pekerjaannya yang sekarang. Tentang pahit getir perjuangannya mencari pekerjaan yang layak. Setiap ditanya tentang Retno, ia selalu mengalihkan topik pembicaraan.

“Retno baik-baik saja. Ia tampak sehat. Namun, apa yang terjadi, sebaiknya kalian tanyakan langsung,” kata Galih dibalik kemudi.

Kami hanya bisa setuju. Apa yang disampaikan Galih tak sepenuhnya salah. Ia kemudian menambah kecepatan dan mobil terus melaju membelah kota yang banyak mesjid megah serta sungai-sungai yang membentang di tengah kota.

Pikiranku menerawang pada peristiwa beberapa hari lalu. Waktu itu aku terpaku di apartemenku setelah lelah seharian bekerja. Aku bersujud di depan patung bunda Maria, memanjatkan doa keselamatan bagi Retno. Doa-doa yang selalu kupanjatkan selama bertahun-tahun.

Entah atas dorongan darimana, aku kemudian iseng-iseng membuka media sosialku. Aku membaca pesan-pesan yang sudah beberapa hari kuabaikan di instagram. Sebuah pesan dari Galih segera menarik perhatianku. Sebuah pesan terkait keberadaan Retno. Aku segera membalas pesannya, dan mengirimkan nomor handphoneku sesuai permintaannya.

Memang, dahulu ia menyimpan nomorku. Setelah berganti handphone beberapa kali, sepertinya nomor kontakku ikut terhapus. Aku harap-harap cemas, menanti pesan masuk di Whatsappku. Setelah beberapa jam, sekitar pukul 22.00 ada pesan dari nomor asing yang masuk.

Benar saja, pesan dari Galih. Tanpa pikir panjang, aku langsung melakukan panggilan telepon via whatsapp. Setelah terhubung, dengan cemas aku memastikan tentang informasi yang ia berikan sebelumnya.

“Iyo, Dib. Kui Retno. Aku bahkan sempat ngobrol lama dengannya. Hanya saja, ia tak memberi alasan kenapa menghilang. Ia juga sempat menyampaikan ingin pulang, tapi entah kenapa ia selalu membatalkan niatnya. Ada yang ia sembunyikan,” tutur Galih di ujung telpon.

Galih lantas bercerita, ia tanpa sengaja bertemu Retno di sebuah Bank milik pemerintah daerah setempat. Kala itu, ia sedang menemani manajer keuangan perusahaan tempatnya bekerja untuk mengurus perpindahan gaji karyawan dari Bank Nasional ke Bank daerah.

Saat itulah ia melihat Retno yang ternyata pegawai Bank daerah tersebut. Retno bertugas di bagian kredit bagi UMKM. Setelah bertukar nomor telepon, mereka sepakat untuk bertemu lagi.

“Retno tidak bercerita banyak. Ia hanya menyampaikan ikut test penerimaan pegawai Bank daerah berkat bantuan kawannya. Setelah diterima dan menjalani training, ia sempat ditempatkan di ibu kota propinsi. Setelah itu, ia kemudian ditempatkan di daerah pedalaman. Kalau tidak salah, sudah hampir empat tahun ia di sini.”

Informasi dari Galih memberi arti besar bagi hidupku. Sudah lima tahun aku bertanya-tanya tentang keberadaan Retno. Apakah ia kabur, diculik, atau bahkan meninggal dunia, selalu menghantuiku bertahun-tahun ini.

Sebenarnya, lima tahun lalu, segala daya upaya telah kulakukan untuk mencari Retno. Tak hanya aku, pihak keluargaku dan orang tuanya Retno juga sudah berupaya maksimal. Laporan ke polisi tidak ada perkembangan. Terawangan dari paranormal justru semakin menyesatkan. Selain itu, nomor telepon serta seluruh akun media sosialnya tiba-tiba lenyap. Retno sepertinya sengaja ingin menghilang dari kehidupan kami.

Setelah mendapat informasi dari Galih, aku langsung mencoba menghubungi orang tuanya Retno. Namun, sepertinya mereka telah berganti nomor. Keesokan hari setelah mengurus cuti, aku langsung berangkat dari Jakarta menuju Slogohimo menggunakan bus. Untung saja atasanku bisa mengerti, sehingga pengurusan cutiku selama dua minggu berjalan lancar.

Aku ingat sekali, betapa bahagianya Pak Wardoyo dan Bu Lastri begitu mengetahui bahwa Retno masih hidup. Kuceritakan hal ikhwal Galih yang menghubungi. Sinar mata mereka langsung berbinar, mengetahui bahwa Retno baik-baik saja. Berbagai pertanyaan dari mereka tak bisa kujawab saat itu.

Kami pun segera mengatur keberangkatan ke Kalimantan. Galih bersedia membantu. Meminjam mobil perusahaan, ia menjemput kami di bandara. Ia pula yang akan mengantarkan kami menuju rumah kontrakan Retno di kota kabupaten di pedalaman.

Mobil yang dikemudikan Galih melambat, lalu parkir di halaman sebuah rumah makan yang berada di tepi jalan ke arah luar kota. Sebuah rumah makan tenda biru. Meskipun sederhana, rumah makan ini ramai pengunjung. Sebagian besar pengunjung merupakan orang dari luar kota yang kebetulan ada urusan di Banjarmasin.

Di sela-sela menyantap hidangan, Galih bercerita tentang perjalanannya hingga bisa bekerja di sebuah perusahaan tambang di Kalimantan.

“Mungkin, Tuhan kasihan sama aku. Setelah kerja serabutan kesana kemari, akhirnya nasib baik menghampiri. Aku bisa diterima kerja di sini, setelah dapat lowongan dari seorang kenalan. Meski staff biasa, gajinya lumayan. Cukuplah untuk membantu orang tua di kampung,” seloroh Galih seraya menyantap makanannya.

Galih adalah kawanku sewaktu kuliah dulu. Kami berdua satu kelas, sama-sama jurusan teknik mesin. Kami berdua semakin dekat karena jadi pengurus di Unit Kegiatan Mahasiswa yang sama. Hanya saja ia kemudian tidak terlalu aktif dan memilih untuk lebih fokus kuliah dan kerja sambilan.

Aku dapat memaklumi, karena ekonomi keluarganya yang pas-pasan memaksanya demikian. Ia pun lebih cepat lulus kuliah dibandingkan aku. Sementara aku terlalu sibuk berpacaran dengan Retno.

Namun, selepas lulus kuliah ternyata kehidupan Galih tak kunjung membaik. Ia bekerja apa saja demi menyambung hidup. Bahkan ia mencoba berjualan bakso gerobak dan membuka angkringan, tapi berakhir kebangkrutan.

Setelah itu, ia kemudian menghilang tanpa kabar. Bisa jadi ia minder, karena teman seangkatan kami rata-rata mendapat pekerjaan layak seusai lulus kuliah. Apalagi, grub whatsapp alumni isinya hanya pamer kesuksesan.

“Lih, opo Retno ra tau crito, ngopo dekne ratau muleh?”

Pertanyaan Bu Lastri membuyarkan lamunanku. Akupun turut penasaran, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Retno. Galih menatap ibunya Retno dalam-dalam, seolah ragu untuk menyampaikan. Setelah membisu beberapa saat, ia akhirnya buka suara.

“Bu…sebenarnya Retno tak tahu bahwa kalian akan datang untuk menjemputnya,” tutup Galih dengan nada penuh keraguan.