nadine

Nadine: Cinta Adalah Rasa Sakit Yang Paling Indah BOSKITA. Ya, quotes itu mungkin pas banget buat gambarin apa itu perasaan jatuh cinta, ketika kita bahkan ga bisa tidur karena tau akhirnya kenyataan itu lebih indah daripada mimpi kita yang bahkan sudah indah sekalipun, karena kita ingin selalu bersamanya bukan di mimpi, tapi didunia nyata. Duduk bersebelahan, menghabiskan waktu bersama dan juga saling memberikan kenyamanan satu sama lain.

Cerita ini mungkin hanya seperti catatan harian, cuman menceritakan kehidupanku, baik itu pertemanan, pekerjaan, romansa, dan juga hal lainnya. Klise memang kalau aku bilang terserah kalian mau mengganggap ini cerita real atau cuman fiktif semata, jadi anggep aja cerita ini cerita fiktif yang sering kalian liat di FTV siang hari.

“Love is a Beautiful Pain”kalimat yang mungkin sudah sering banget kalian denger, bahkan aku menggunakan ini sebagai judul cerita ini bukan karena kata-katanya ngena banget dihati. tetapi memang cerita ini persis banget seperti apa yang tersirat dijudul cerita ini. Karena walau itu menyakiti kita sekalipun, itulah cinta. yang memang kita sendiri terkadang benci karena harus merasakan cinta pada orang yang salah dan bahkan waktu yang salah.

Akan banyak sekali typo, adegan garing, dan juga hal yang mungkin mainstream banget untuk kalian. Tapi percayalah, gak bakal ada kentang.

Kalau ada kata-kata mutiara, quotes galau, kutipan-kutipan, lirik lagu, dan yang lainnya, maafkan. Itu cuman hasil googling semata, engga kok bercanda.

Sebelumnya perkenalkan namaku Adit, lengkapnya Aditya Nugraha. Nama yang diberikan oleh orangtuaku dengan harapan aku akan bersinar seperti matahari, dan mungkin bisa menerangi kegelapan hati seseorang #tsahh. Oh iya, aku bukan seorang penulis, apalagi seorang pencerita yang baik, tapi aku ingin menceritakan kisahku ini yang mungkin sangat biasa saja untuk dibaca.

nadine
Ilustrasi gambar

Aku tinggal di kota Bandung, salah satu kota besar, kota dimana aku mengenal seseorang, seseorang yang memberikanku cerita baru disetiap hariku, seseorang yang membuatku mengenal apa itu cinta, dan seseorang yang juga membuatku mengenal apa itu sakit hati, lucu bukan? Ya itu memang lucu menurutku.

Aku merupakan seorang anak dari keluarga yang sederhana, rumah tidak besar, tidak punya mobil, dan orangtuaku hanya berjualan kecil-kecilan saja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ya, tapi aku bersyukur dengan keluarga sederhana ini, dengan satu adik yang selalu bisa sukses membuatku tertawa tiap kali aku pusing dengan pekerjaanku.

Ya, aku sudah bekerja. Aku bekerja di sebuah perusahaan di kota Bandung, sebagai seorang Graphic Designer. Walaupun gajiku tidak besar dan jarang sekali mendapatkan bonus lembur, tetapi aku sangat bersyukur karena itu cukup untuk membantu perekonomian keluargaku dan juga memberi adik kesayanganku itu jajan. Jobdesk menumpuk dan juga deadline yang tak masuk diakal memang selalu membuatku keteteran, berganti konsep, mendesain ulang, dan menerima revisi yang bertubi-tubi sudah menjadi seperti makananku sehari-hari, ditambah lagi aku bukan merupakan lulusan dari jurusan desain ataupun hal hal yang berbau seni, sehingga aku dituntut untuk mempelajari berbagai software untuk desain dan juga harus bisa kreatif.

Oke, mungkin kalian bosan membaca perkenalan tentang diriku yang sangat biasa dan panjang ini. Jadi aku akan memulai ceritaku. Namaku Adit, dan ini ceritaku.

Malam tahun baru ini bakal jadi malem yang sibuk buatku, bukannya tanpa sebab. Karena malam ini akan ada Event di tempatku bekerja. Oh iya, kantor tempat ku bekerja itu adalah perusahaan yang melakukan penjualan produk secara online dan juga offline, dan waktu itu kantorku mengadakan Event secara Offline yang mana hari itu adalah malam tahun baru, malem yang sudah aku rencanakan bakal bermain bersama teman dan menghabiskan tahun baru bersama temen-temen. Tapi kenyataannya, aku malah menghabiskan malam tahun baru ini untuk acara kantor.

Acara dimulai dari jam 8 malam, setelah melakukan persiapan hampir seminggu ini, dan membuat kami semua sibuk agar acara ini sukses. Akhirnya sebentar lagi acaranya bakal dimulai.

Sejam sebelum acara dimulai, bahkan orang-orang sudah berkumpul didepan untuk membeli barang-barang yang sedang kami diskon secara besar-besaran. Rata-rata pembelinya adalah wanita, karena memang kami menjual produk untuk wanita, seperti jakcet, baju, tas, kalung, dan prduk lainnya.

“Ya, silahkan berbelanja”kata salah satu rekan kerjaku, yang kebetulan juga kebagian tugas untuk membantu melancarkan acara tahunan ini. Tak lama setelah rekanku berteriak seperti itu, orang-orang pun mulai masuk kedalam , melihat barang-barang yang mereka suka, tugasku disini adalah untuk melayani jika ada pembeli yang bertanya tentang barang ataupun harganya, dan juga mendokumentasikan Event ini dalam bentuk Video.

Sekitar jam 10, pembeli pun mulai berkurang, mungkin karena mereka juga akan pergi ke acara lain untuk menghabiskan malam tahun barunya, entah itu ke alun-alun, balkot, ataupun ke tempat lain. Dan saat itulah diantara para pembeli yang tidak terlalu ramai itu ada dua orang datang, aku masih ingat yang satu memakai jilbab dan yang satunya lagi memakai jaket warna abu yang memang cuacanya sangat dingin waktu itu.

Entah iseng atau apa, aku melihat perempuan yang memakai jaket itu, kutebak dia mungkin beberapa senti lebih tinggi dibandingkan aku. Sementara temennya yang memakai jilbab itu lebih pendek dariku. Pandanganku pun cuman tertuju pada wanita itu, mungkin aneh diawal cerita ini langsung menceritakan pertemuanku dengan dia bukan? Tapi cerita ini memang berawal dari situ.

Ketika aku perhatikan lagi, sepertinya aku pernah melihat wajahnya, seperti tidak asing. Rambutnya yang lurus warna hitam itu, poninya dia kepinggirkan. Ketika sedang bingung-bingungnya dengan perpempuan yang sepertinya tidak asing ini, aku dikagetkan oleh mereka dan malah hampir membuatku salah tingkah.

“A, ini ada warna apa aja ya?” tanya perempuan berjilbab itu

“Oh kalau ini ada warna maroon, navy, sama black teh” jawabku

“Oh coba liat ya” pintanya kepadaku. Akupun langsung mencari warna yang ingin diliatnya itu.

Bahkan ketika aku mencari barang yang dipinta tadi, fikiranku masih saja sibuk mencoba mengingat dimana aku pernah bertemu dengan perempuan berjaket abu tadi.

“Ah ini dia” ucapku dalam hati dan langsung kembali ke store.

Aku mendatangi mereka berdua, aku berikan barang yang ingin diliatnya tadi. Aku bisa melihat mulut mereka sedikit berbisik-bisik mungkin bingung ingin membeli barang yang mana karena banyak pilihan warnanya.

“Ah yang ini aja deh ya a” ucap perempuan berjilbab itu, dan langsung pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya tadi.

Aku masih saja memperhatikan perempuan berjaket abu itu, ingin menyapanya sebenarnya, tapi aku ragu karena aku belum pernah namanya berkenalan perempuan yang belum aku kenal, jangankan berkenalan, mungkin hanya menyapa saja sudah suatu keberhasilan besar untukku. Ya, aku ini culun. Serius.

Ketika aku masih memperhatikan mereka, tiba-tiba saja aku ingat. Aha! Itu perempuan yang sempat kesini waktu Event pertama kemarin, yang sempat membuat aku penasaran dengannya, sampai-sampai aku mengintip akun sosmednya. Oh iya, aku bukan mencari tau sosmed dia, tapi aku tau karena banyak sekali yang tag ( menandai ) akun sosmed kantorku ini ketika Event pertama, dan kebetulan aku penasaran dengan salah satu akun yang nge-tag akun sosmed kantorku ini.

“Nadine! Itu dia” ucapku kecil sambil sedikit tersenyum merasa kalau aku baru saja mendapatkan sesuatu yang besar, ya.. bisa ingat siapa dia, jadi mungkin tidak perlu bertanya namanya.

Ketika temannya sedang membayar, perempuan jaket abu itu keluar dari antrian, mungkin ingin menunggu temannya dari jauh saja, pikirku.

Aku liat dia dari kejauhan, seperti mendekatiku. Semakin dekat, aku pun malah merasa dia berjalan kearahku. Ternyata bukan, dia berdiri disebelahku, hanya terhalang oleh tembok tipis saja.

Aku ragu apa ingin menyapanya atau tidak, aku takut dia tipe orang yang jutek ke orang yang belum dia kenal. Dia sudah ada disebelahku, sendirian, tidak ada temannya, aku tau namanya. Kurang apa lagi? Tinggal butuh keberanian bukan?

“Teh, namanya Nadine ya?” tanyaku pada perempuan itu.

“Eh” dia sedikit kaget mungkin aku tiba-tiba bertanya padanya. “Kok tau?” lanjutnya lagi.

“Teh, namanya Nadine ya?” tanyaku pada perempuan itu.

“Eh” dia sedikit kaget mungkin aku tiba-tiba bertanya padanya. “Kok tau?” lanjutnya lagi.

Ya, dia Nadine, cewek yang pernah di-kepo-in olehku beberapa waktu yang lalu. Mungkin melihatnya difoto beda dengan melihatnya secara langsung, makanya aku sedikit pangling melihatnya. Atau mungkin juga karea baru pertama kali bertemu.

“Ah, iya ini waktu itu tau dari akun sosmednya teh” ucapku sedikit gugup

“Ohehe gitu ya” jawabnya singkat

“Iya hehe” ucapku

Udah gitu aja? Iya, cuman gitu aja. Perkenalan singkat satu pihak, aku tau namanya, tapi dia ga tau namaku sama sekali, ya memang harusnya aku langsung kasih tau aja tanpa dia tanya juga, tapi balik lagi. Aku culun, agak bingung emang mau ngomong apa waktu itu. Bahkan saat ngetik cerita ini, aku berfikir kenapa dulu ga ngomong kaya gini, kaya gitu, blablabla..

“Eh udah nih” terdengar suara dari belakangku, ya itu temannya Nadine. Entah siapa namanya.

“Oh udah ya, yuk” ucap Nadine

“Eh bentar, a ini aku mau tanya” ucap temennya Nadine

“Iya kenapa ya?” tanyaku

“Ini kan aku menang quiz kemarin, aku udah kirim alamatnya tapi kok belum dibaca ya chat nya” tanya teman Nadine itu.

“Oh iya, kebetulan emang aku yang ngurus akunnya, dan belum aku baca hehe, oh jadi teteh kemarin yang menang quiz nya ya, teh Devi kan?” tanyaku sedikit kaget

“Yaudah deh, kan daripada dikirim nanti lama lagi, mending aku kasih sekarang aja deh ya teh” ucapku

“Iya aku yang menang haha iya bener boleh deh” balasnya.

Akhirnya aku menyuruh temanku untuk pergi kekantor mengambil hadiah quiz untuk teteh satu ini. Ya, namanya Devi, kenapa aku tau? Karena aku yang milih pemenangnya.

Singkat cerita temenku udah balik lagi, sambil bawa hadiah buat dikasih ke teh Devi ini, dan ga basa basi aku langsung aja kasih hadiahnya ke teh Devi.

“Ini teh, diterima ya hadiahnya” ucapku sambil memberikan kantong berisi hadiah

“Oh iya makasih ya” ucapnya sambil menyambut kantong yang aku kasih

Setelah menerima hadiah itu, teh Devin sama Nadine pun pamit pulang, mungkin mau ada acara lagi seperti pembeli yang lainnya.

“Yaudah atuh a , kita pulang dulu ya” ucap Devi sekaligus mewakili Nadine

“Oh iya, hati-hati dijalan ya” ucapku

“Iya” jawab keduanya dan mereka pun pergi

Malem ini mungkin pertama kalinya malam dimana aku sama sekali gak nyesel udah disuruh lembur dikantor, bahkan aku bersyukur karena bisa lembur di acara ini, jadi bisa bertemu dengan mereka berdua.

“Nadine ya?” ucapku dalam hati.

*
*

Akhirnya datang juga dipenghujung acara, jam 12 dan saatnya malam baru dirayakan, malam pergantian tahun, malam dimana semua orang menyambut lembaran baru, malam dimana semua orang berharap hal baik akan selalu bersama mereka sepanjang tahun ini, dan malam dimana aku kenal dengan dia. Nadine.

“tiga…dua..satu..”

Terdengar bunyi kembang api dimana-mana, langit menjadi terang, semua orang bersukacita, penuh tawa kebahagiaan, malam yang juga menjadi awal dari ceritaku ini.

*
*

Angin pagi yang dingin mulai menyapa badanku, bahkan selimut tebalku ini saja tak mampu menahan dinginnya kota Bandung pagi ini. ditambah juga suara kesibukan orang-orang dirumah membuatku terpaksa harus bangun walau berat memang, apalagi hari ini hari libur.

Aku bangun dan sedikit meregangkan tubuhku, rasa pegal sehabis mengurus acara kemarin sangat terasa dipagi ini, bahu, punggung, kaki, tangan, semuanya pegal.

Setelah berhasil memaksa diriku untuk pergi ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka, aku pun duduk di balkon rumah, ditemani kopi hangat yang aku bikin sebelumnya.

“Nadine ya” ucapku

Ya, dari kemarin hanya Nadine saja yang aku pikirkan, sangat tinggi rasaku untuk bisa berkenalan dengan Nadine. Apalagi ketika aku pertama kali melihatnya, aku tiba-tiba berfikir “Tuhan, aku ingin sekali membahagiakan dia”. Konyol bukan? Ya mungkin itu terdengar konyol, tapi pertama kali aku melihatnya, aku langsung merasa kalau aku ini punya tugas untuk membahagiakan dia, melepasnya dari rasa sakit yang dia derita. #tsaaaahhh

Aku ambil hp ku, membuka instagram dan mengetik namanya, dan munculah akun “Nadine Silviani” menggunakan foto dirinya sendiri sedang memakai jilbab. Cantik, pikirku.

Lalu aku klik tombol “Ikuti”. Ya, aku mengikutinya langsung, tanpa fikir panjang dan berharap akan dinotice olehnya. Dan dia akan berkata “Oh ini aa yang kemarin”. Ya, itu cuman harapanku aja.

*
Sejam, dua jam, tidak ada tanda-tanda kalau aku akan difollback sama Nadine. Sampai aku jadi bosen, dan akhirnya aku malah message dia.

“Hoho ini yang kemarin kan ya ka emoticon-Big Grin” entah apa yang aku pikirin waktu ngetik ini.

Dan ga lama setelah itu, hp ku langsung bunyi , ada notif dari instagram.

“Nadine Silviani” baru saja mengirimi Anda pesan”

Deg! Aku kaget, bingung , mau dibuka takut jawabannya jelek, kalo ga dibuka malah bikin penasaran.

Yaudah akhirnya aku buka pesannya.

“Kemarin yg apa wkwk” jawabnya

Ada rasa seneng dan bingung, ya.. dia ternyata bukan tipe cewek jutek yang seperti aku pikirkan, bahkan dia bales dengan tertawa.

“Yang di store wkwk” balasku

Ga berselang lama, langsung dibales lagi sama dia

“Benar sekali” balasnya

Darisitu kita mulai bertukar pesan, ngobrolin banyak hal, dan ternyata dia itu tinggal nya deket banget sama kantorku, mungkin cuman beberapa langkah aja. Masih satu jalan besar. Umurnya 19 tahun, setahun lebih tua dariku, iya aku masih berumur 18 tahun.

Nadine orangnya enak buat diajak ngobrol ternyata, kita mempunyai bahan obrolan yang sama, dan nyambung untuk diobrolin. Ya, mungkin ini awal yang baik untuk bisa mengenalnya lebih jauh.

Semenjak saat itu, kita pun bertukar pesan setiap hari, selalu ada saja topik yang bisa menjadi bahan obrolan, entah itu kerjaan, entah itu hobi, dan yang lainnya. Sampai suatu malam.

*

Malam itu, aku nemenin teman buat jaga store, karena penjaga yang satunya lagi izin, jadi aku terpaksa menemaninya. Karena memang tidak bisa dijaga hanya oleh satu orang saja. Sambil chat dengan Nadine tentunya.

“Nadine, rumah kamu yang deket tempat baso itu kan?” tanyaku melalui pesan singkat

“Iya, yang dideket warnet” jawabnya

“Oh iya, kamu udah makan belum?” tanyaku

“Belum nih, bingung mau makan apa” jawabnya lagi

Iya, aku udah tau rumahnya dimana, soalnya memang ternyata deket banget. Bahkan jalan juga sampai, ga ada lima menit. Tapi belum tau pasti yang mana rumahnya.

“Bentar ya” ucapku pada temenku yang sedang duduk didepan meja kasir itu

“Oh iya” jawabnya

Aku mengambil jaketku, ya.. dengan bermodalkan nekat, aku pun pergi kerumahnya. Saya ingat malam itu jam 8 lebih. Aku melangkahkan kaki walau sedikit ragu, dan juga gugup tentunya bertemu langsung dengan orang yang hanya akrab di chattingan aja.

Kuperhatikan sekitar, dan fokus mencari rumah yang didekat warung baso dan juga warnet. Ya, benar saja, aku kebingungan karena tak bisa menemukan rumahnya. Tapi ada satu rumah yang aku yakinin kalau itu rumah nadine, soalnya jarak antara tempat baso itu ada beberapa rumah, jadi aku kurang yakin yang mana rumahnya.

“Aku ada didepan, coba kamu keluar” pintaku padanya

Ga sampai lima menit, aku liat ada orang keluar dari rumah yang aku perhatikan daritadi, ya itu Nadine, dengan mengenakan jaket berwarna merah. Rambutnya yang lurus hitam, senyumnya yang menghangatkan itu, Ya tuhan, ingin sekali aku bisa dekat dan terus besamanya.. Cantik, gumamku sendiri.

Aku pun langsung menyebrang dan menghampirinya, mungkin aku sedikit terlihat kaku dan gugup, bagaimana tidak, dia ada didepanku sekarang, dan dia juga sudah mengenalku sekarang. Ya, Nadine. Bahkan ini hal yang ga pernah sama sekali aku banyangin.

“Heiemoticon-Big Grin” ucapku

“Hei heheemoticon-Smilie” ucapnya sambil sedikit tertawa

“Jadi disini ya rumahnya?” tanyaku

“Iya hehe disiniemoticon-Smilie” jawabnya

“Yaudah yuk, katanya belum makan, kita cari makan aja yuk” ajak aku

“Yuk atuh” diapun mengiyakan ajakanku

Dia ada disebelahku, senang rasanya memang bisa jadi sedekat ini, walau mungkin Nadine cuman menganggapku kenalan saja, tapi tetap saja aku senang.

Kita berjalan menyusuri jalanan ini, melihat kanan kiri buat nyari tempat makan yang enak.

“Nasi goreng aja yuk, kayanya enak” usulnya padaku

“Oh yaudah yuk, yang enak dimana nih?” tanyaku

“Hmm..dimana ya, disitu deh didepan” jawabnya dan langsung menuntunku ke tempat nasi goreng yang dia maksud

Setelah berjalan ga terlalu jauh, akhirnya kita sampai ditempat itu, gak terlalu jauh ternyata cuman tinggal jalan dikit aja.

“Mas, nasi goreng dua ya” ucapku pada tukang nasi goreng itu

“Kamu pedes ga?” tanyaku ke Nadine

“Pedes lah” jawabnya lucu

“Pedes dua ya mas” pesanku pada tukang nasi goreng

Sambil menunggu, kita pun duduk. Bingung memang apa yang harus aku obrolin disituasi seperti ini, antara takut salah ngobrol atau dikira ngebosenin, secara kesan pertama itu penting bukan?

Sepertinya malam ini bakal jadi malam yang bakal aku ingat selalu, malam dimana kita pertama kalinya bertemu sebagai seseorang yang sudah kenal satu sama lain. Dan malam dimana aku menaruh hati pada Nadine. emoticon-Smilie

“ini sudah jadi mas” ucap tukang nasi goreng sambil memberikan keresek hitam yang sudah pasti dan bukan lain itu adalah nasi goreng , bukan roti bakar.

“Oh iya ini mas jadi berapa?” tanyaku

“Jadi dua puluh empat ribu rupiah mas” jawabnya

“Ini mas” ucapku sambil memberikan uang pada tukang nasi goreng itu

Laku kita pun pergi dari tempat itu, dan berjalan kembali

“Nih uangnya” ucap Nadine

“Eh.. gak usah nad, aku yang bayarin” ucapku

“Ih gamau ah ini nih pegang” paksanya

“Eh udah beneran gapapa, jarang-jarang aku nraktir cewek Nad” ucapku

“Ih yaudah kamu ambil apa aku buang ini uang sok?” paksanya lagi

“Ih yaampun yaudah deh sini uangnya” ucapku dan mengambil uang dari Nadine

“nah gitu dong hehe” ucapnya sambil tertawa kemenangan

Setelah perdebatan kecil tadi, kitapun mencari tempat untuk makan nasi goreng ini. Muter-muter bingung mau makan dimana, sampai Nadine sendiri ngomong “ Kenapa malah dibungkus ya ga makan disitu aja?”. Emang bener juga sih, ngapain dibungkus.

Akhirnya karena Nadine ga mau aku ajak ke store, mungkin karena dia malu. Akhirnya kita makan didepan rumah Nadine, bukan depan rumahnya sih, tapi di tempat bekas jualan Pempek , punya bapaknya Nadine. Letaknya disebelah rumah Nadine.

“gelap nih, ga ada lampunya ya?” tanyaku

“Oh iya ya ga ada lampunya” jawabnya

“Yaudah di store aja atuh yuk makannya” ajakku

“Gamau ah, udah tunggu aja bentar” tolaknya dan langsung pergi ke dalem rumahnya

Aku bingung mau ngapain dia malah masuk kedalem rumah.
Beberapa menit setelah dia masuk kerumah, dia pun keluar dan langsung dateng kesini. Sambil bawa lampu, iya dia bawa lampu. Lucu emang Nadine ini.

“Nih, pasang aja disini” ucapnya sambil memberikanku lampu yang masih agak panas itu

“Nah, ini lampu siapa?” tanyaku kaget dan heran sambil mengambil lampu dari Nadine

“Lampu kamar aku heheemoticon-Big Grin” jawabnya polos

“Lah kamar kamu gelap dong?emoticon-Nohope” tanyaku sambil memasang lampu

“iya, udah gapapa kok heheemoticon-Big Grin” jawabnya lagi dengan tampang polos

Setelah berusaha sekuat mungkin memasang lampu itu ( maaf, sedikit lebay memang ) akhirnya tempat ini pun jadi terang, seterang hatiku untuk Nadine #halah .

“Nah terang juga haha” ucap Nadine, sungguh ingin kucubit pipimu itu Nad.

“Iya haha, yaudah yuk kita makan” ucapku sambil membuka kresek hitam tadi.

“Tunggu sebentar, lupa ya piring sama sendok hehe” ucapnya sambil kembali kedalem rumah

“Eh iya ya” balasku

“Eh mau minumnya sama apa?” tanyanya

“Gausah repot-repot, jus apel aja hahaha” ucapku sedikit garing

“Ih, yaudah air putih aja ya” jawabnya. Terus tadi ngapain nawarin mau minum apa Nad?

“iya deh”

Nadine pun masuk kedalem, dan gue berpikir jelas mau ngobrolin apa sama Nadine biar engga hening gitu, mesti ada obrolan menarik ini. Cuman gue bingung mau ngomong apa.

Ga lama, Nadine balik lagi, bawa piring, sendok, tissue, dan aqua satu botol. Nah loh kok cuman sebotol?

“Nih piringnya, ini sendoknya” ucapnya sambil memberikan piring dan sendok padaku . “minumnya berdua aja ya cuman ada satu soalnya hehe” sambungnya lagi

“Oh iya gapapa kok hehe” jawabku

Singkat cerita, kita berdua udah makan, sambil sedikit bercerita tentang keluarga Nadine, tentang tempat tinggalnya, tentang kerjaannya, dan juga tentang mantan.

Iya, tentang mantan. Obrolan yang tiba-tiba bikin napsu makanku ilang, sedikit kecewa memang, tapi berarti aku tau satu hal bukan? Nadine itu single, ya dia ga punya pacar.

Ternyata, Nadine ini belum bisa lupain ( baca : move on ) mantannya. Dia bahkan bikin video buat mantannya, sedih emang kalau harus ngikutin obrolan cerita ini, dimana kita harus dengerin cerita orang yang kita suka tentang mantannya, dan disini aku cuman takut satu hal, apa itu? Cuman dijadiin temen curhat aja. Nah itu, kalau ngedengerin nanti dia malah jadi nyaman curhat sama kita, kalau ga dengertin nanti dia malah nganggep kita itu ga ngehargain. Jadi aku pilih yang mana? Ya, pilih dengerin aja, urusah kedepannya, biar nanti aja berjalan seiring waktu. Lagian kita baru banget kenal, entah apa yang bakal terjadi selanjutnya.