mos

MOS Jadi Awal Mula Pertemuan Boskita Dengan Teman Baruku Di Sekolah. Perkenalkan, aku Aril, anak laki laki keturunan sumatera yang besar di jakarta, ya, walaupun bukan di pusat kota-nya. Aku ingin membagikan cerita ku ketika masih bersekolah dulu, cerita yang menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Bukan cerita yang terlalu serius, tapi bukan yang tak berarti juga, kisahku dan sang cinta pertama.

Cerita ini terjadi di tahun 2008 lalu, kala itu aku baru lulus dari sekolah menengah pertama ku dan sudah diterima di sebuah SMA yang cukup ternama di daerah Cibubur-Jakarta Timur. Hari ini adalah 3 hari sebelum dimulainya Masa Orientasi Siswa (MOS) di SMA ku, aku tidak terlalu sibuk karena semua persiapan telah selesai dan semua barang yang diperlukan juga sudah ku siapkan, ya walaupun memang sebagian besar dibantu oleh Bunda dan Yanda (panggilan untuk kedua orang tuaku).

Aku juga tidak merasa gugup karena cukup banyak teman temanku yang diterima di SMA yang sama denganku, jadi kurasa suasana disana nanti akan baik baik saja, maka kuhabiskan 3 hari ini untuk bersantai dan tidak melakukan apa apa, hanya rebahan dan bermain main dirumah.

mos
Ilustrasi gambar

Akhirnya hari pertama Masa Orientasi Siswa (MOS) di SMA ku tiba, aku datang ke sekolah dengan semua barang yang harus dibawa, masih menggunakan baju dengan logo OSIS berwarna kuning dan celana panjang biru. Sebetulnya hari itu tidak ada yang betul betul menarik, malah cenderung membosankan, karena di tahun itu sudah tidak diperkenankan melakukan MOS dengan unsur fisik dan kekerasan, bukan bermaksud mendukung, tapi harus diakui kalau itu menyebabkan panitia harus lebih memutar otak untuk membuat acara yang menarik dan menurutku itu lebih sulit dari sekedar mengusili murid-murid baru dengan kekerasan.

Kegiatan hari pertama dimulai dengan pembagian kelas (kebetulan aku mendapatkan kelas X-7) dan sialnya tidak ada teman yang satu SMP denganku, jadi mau tak mau aku harus berkenalan lagi dengan orang-orang baru, walaupun mereka memang cukup ramah, mungkin banyak juga dari mereka yang tidak mendapati rekan 1 SMP nya di kelas ini. Setelah pembagian kelas, acara dilanjutkan seperti MOS pada umumnya, Dimulai dengan sambutan dari beberapa guru dan wali kelas kurang lebih selama satu setengah jam, kemudian dilanjutkan dan para senior pun mengambil alih acara MOS kali ini.

Hari itu kami diminta untuk mengisi sebuah buku dengan tanda tangan para senior yang sudah ditentukan, kami juga harus mencari tahu sendiri siapa saja senior yang dimaksud, tak jarang juga mereka berbohong tentang nama nya, bahkan ada juga yang meminta kami melakukan beberapa hal konyol terlebih dahulu sebelum mendapatkan tanda tangan mereka, ya.. namanya juga senior, mereka bebas melakukan apapun karena ini harinya mereka. Ada yang disuruh untuk berjoget, menyanyi, bahkan sampai ada siswa dari kelas lain yang tidak kuketahui siapa namanya diminta untuk menyatakan cinta pada salah satu kakak kelas wanita yang kalau aku boleh bicara jujur, tampilannya kurang begitu menarik, tanpa mendiskreditkan kakak kelas tersebut, itu hanya pendapatku saja.

Situasi itu terlihat lucu bagi sebagian besar dari kami. Tapi aku mulai membayangkan rasa malu nya kalau hal itu terjadi padaku, peristiwa itu terjadi di siang hari bolong, tepatnya di tengah taman yang ada di dalam sekolah kami. Posisi taman ini tepat di tengah-tengah sekolah, jadi semua siswa dari yang berada di lantai 1 sampai 3 bisa melihat yang terjadi di taman. Membayangkannya saja sudah menyebalkan, sampai aku merasa tidak tega untuk tertawa. Namun ya mungkin nasib nya sedang buruk saja hari itu, dewi fortuna sedang tidak di pihak siswa itu, mungkin besok hal serupa bisa terjadi ke siapa saja, ya.. betul, siapa saja terserah, asal bukan aku.

Hari pertama ini tidak ada rintangan berarti yang kualami, paling hanya harus repot mondar-mandir mencari tanda tangan saja, sisanya aku hanya bersantai dan mengobrol dengan teman sekelasku. Karena entah kenapa di hari itu selalu ada kejadian aneh yang berasal dari kelas lain yang menyebabkan kelas kami terkadang luput dari perhatian kakak senior yang jahil. Hari pertama MOS pun berakhir dengan cukup melelahkan dan lumayan membosankan.

Selama MOS hari pertama, aku berkenalan dengan 2 orang siswa yang satu kelas denganku, entah kenapa kami bisa langsung akrab dan cukup sering menghabiskan waktu bersama, Mereka adalah Boy dan Putra. Sedikit informasi untuk kalian Putra adalah seorang anak yang periang tapi terlalu malas kalau harus banyak bergerak, padahal fisiknya baik baik saja. Dia memang hanya malas saja untuk melakukan hal yang memerlukan banyak gerakan (Olahraga contohnya),

Sepanjang hari kemarin entah sudah berapa banyak keluhan yang kudengar dari Putra karena dia harus sibuk mondar-mandir mencari tanda tangan dengan berjalan kaki, sampai pada satu titik Putra ku beri saran untuk memakai sepatu roda saja biar dia tidak capek, sedangkan Boy, anak ini cukup unik, aku dan putra melabeli dia dengan sebutan “Anak Punk” karena musik yang dia dengarkan, gaya-nya berdandan dari ujung kepala sampai kaki, dan juga sikap nya yang unik, rebel dan cenderung suka melakukan hal hal yang aneh, tapi aslinya dia “Takut” sama perempuan, sama seperti karakter “Yamcha” di film “DragonBall” bajakan buatan Thailand.

Hari kedua MOS berlangsung kurang lebih sama dengan hari pertama, kami masih harus memenuhi buku kami dengan tanda tangan para senior, walaupun di sela kegiatan tersebut ada juga beberapa materi yang disampaikan oleh para guru, waktu penyampaian materi ini cukup menyenangkan karena kami semua duduk di sebuah ruang kelas, jadi setidaknya kami tidak perlu mondar-mandir dan menghabiskan tenaga.

Selesai dengan materi yang disampaikan guru, kami harus melanjutkan petualangan kami, masih dengan misi yang sama, mencari tanda tangan, kalau mencari kitab suci , itu kera sakti namanya. Tidak banyak hal yang terjadi di hari kedua ini, hanya saja sore hari menjelang pulang sekolah, aku, Putra, Boy dan beberapa siswa lainnya di panggil ke sebuah kelas kosong oleh seorang kakak kelas yang belakangan ku ketahui adalah anggota OSIS,

“Kalian tau kenapa saya panggil kesini?!”Tanya kakak kelas itu dengan cukup keras, ia berpenampilan rapi, rambutnya cepak seperti tentara, padahal masih anak SMA tapi wajah nya terlihat seperti bukan anak SMA, ya.. Wajah nya tua

“Nggak tau kak..”jawab kami hampir serentak

“Disini saya sudah catat beberapa kesalahan kalian, dan kesalahan kalian cukup banyak”katanya, kakak kelas itu menghampiri tempat ku berdiri,

“Kalian bertiga rambut nya kepanjangan, mau jadi preman emang?”katanya sambil menunjuk ke arahku, Putra dan Boy, dan kami diam saja tanpa ada yang menjawab, sebetulnya rambut kami pada saat itu biasa saja, walaupun memang terlihat agak panjang di beberapa sisi, tapi menurutku itu masih dalam batasan wajar, tapi memang kalau dibandingkan dengan rambut orang berwajah tua di depan kami ini, harus diakui memang sangat jauh terlihat perbedaannya.

Anggota OSIS tua itu melanjutkan dengan membacakan rentetan kesalahan kami, mulai dari baju yang di keluarkan, sepatu yang diinjak bagian belakangnya dan masih banyak lagi, sebagai hukumannya, kami diminta untuk menemui guru BK diruangannya, untungnya guru BK kami sangat baik dan tidak memberikan hukuman pada kami, hanya memberikan sedikit ceramah pendek dan peringatan untuk memotong rambut dan berpenampilan lebih rapi lagi. Saat kami menghabiskan waktu mendengar tausiyah di ruang BK tadi, ternyata bel pulang sudah berbunyi, jadi kami pun bergegas kembali ke kelas masing-masing untuk mengambil tas dan berniat untuk pulang

“Duh masih ada besok lagi, pengen ga masuk aja bisa ga sih?”Tanya Putra sambil menggerutu tapi ia juga tertawa

“Iya ya, bolos aja yuk besok”ajak Boy

“Yuk..!”sahut ku menimpali, dan kami bertiga pun tertawa, tidak ada niat untuk benar-benar bolos dari kami, hanya candaan belaka, sepulang sekolah kami memutuskan untuk mampir sebentar ke warung di dekat sekolah untuk sekedar minum es dan mengobrol santai sebelum akhir nya pulang kerumah masing-masing.

Hari ketiga MOS masih belum banyak yang berubah, masih dengan tanda tangan dan permintaan aneh dari para senior, ada yang diminta untuk lari keliling taman, salam dan cium tangan ke kakak kelas perempuan, dan masih banyak lagi, namun hari ini tidak sepadat dua hari sebelumnya dan cenderung lebih banyak penyampaian materi dari para guru. Putra, Boy dan aku bisa menyelesaikan buku tanda tangan kami sedikit lebih awal dari yang lain karena beberapa senior yang sulit dicari sudah bisa kami dapatkan di hari kemarin, walaupun itu karena kami lebih sering mengikuti teman kami yang bisa dibilang cukup aktif dan rela melakukan apapun untuk mendapatkan tanda tangan tersebut.

Setelah selesai dengan tanda tangan, kami bertiga memilih untuk bersantai sebentar di kelas sambil mengobrol. Ternyata kami bertiga memiliki beberapa kesamaan, kami sama-sama suka musik, suka bermain alat musik, dan kami memiliki kesukaan juga pada beberapa band yang sama. Akhirnya kami memutuskan untuk coba mengikuti kegiatan musik di sekolah ini, alasannya sederhana, agar bisa terlihat keren.

Kami pun memutuskan untuk berbicara lebih lanjut tentang rencana kami untuk ikut kegiatan musik, “Nanti pulang sekolah kerumah gua aja yok, dirumah cuma ada adek gua doang sama ART”ucap Boy menawarkan

“Rumah lu dimana Boy?”sahut Putra

“Deket kok..”Lanjut Boy sambil menjelaskan detail alamat rumahnya. Kami pun langsung setuju untuk mampir ke rumah Boy sepulang sekolah nanti. Jujur saja aku cukup senang, karena aku sendiri sudah lama tidak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan musik, selama ini aku hanya bisa sedikit bermain alat musik saja, tanpa melakukan hal yang berhubungan dengan musik, seperti bermain band contoh-nya.

Tanpa terasa bel pulang sekolah pun sudah berbunyi, kami bertiga langsung menuju parkiran untuk mengambil sepeda motor, dan melanjutkan perjalanan ke rumah Boy. Sesampainya disana, terlihat rumah Boy cukup besar, sepertinya memang dia berasal dari keluarga yang ekonomi nya bisa dibilang sangat baik. Kami mulai masuk ke rumah, di ruang depan terdapat beberapa foto Boy dengan ayah, ibu dan adiknya, ada juga foto Boy di bawah menara eiffel, ya.. Di Paris.

Boy langsung mengajak kami masuk ke kamarnya yang berada tepat di depan, dengan jendela yang langsung menghadap ke pekarangan rumah. Boy menyalakan komputernya dan memutar musik yang sedikit keras, aku dan Putra mencari tempat masing-masing untuk duduk dan rebahan.

Kami pun mulai mengobrol panjang lebar tentang kegiatan musik yang ingin kami ikuti di sekolah, kami tahu di sekolah ada Ekstrakurikuler musik.

“Gua mau minta beliin drum ah”Tiba tiba Boy berkata seperti itu ke Putra dan aku, kami yang kaget langsung menanggapi “Serius Boy? Boleh emang sama orang tua lu?” sahut Putra

“Boleh sih harusnya, gua ga pernah minta apa apa kok sama bokap selama ini, coba gua telfon dulu deh..”Jawab Boy sambil mengambil handphone dan mulai menelepon ayahnya.

Sepuluh menit berlalu, Boy pun selesai dengan telepon nya, kemudian “Yesssss.. Berhasil”terdengar suara Boy yang sangat senang,

“Gimana Boy?”kata ku bertanya pada Boy

“Boleh sama bokap, besok dipesenin katanya.. Hahaha”jawab Boy dengan sangat senang. Aku dan Putra hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban Boy,

“Enak ya kalau banyak duit hahaha”ucapku kepada Putra sambil tertawa. Hari itu pun kami habiskan di rumah Boy sampai sekitar beberapa menit sebelum maghrib aku dan Putra pulang kerumah masing-masing.

Akhir-nya MOS telah berakhir dan sekarang kami sudah resmi menjadi seorang siswa SMA, dengan seragam putih abu-abu nya. Hari itu aku datang kesekolah sedikit lebih pagi ketimbang saat di bangku SMP, karena kami masuk jam 6:45 pagi, dan kebetulan aku bertemu putra di depan sekolah, akhirnya kami masuk kelas dan duduk di satu meja yang agak menjorok kebelakang, ya, pada dasarnya kami bukan tipe orang yang rajin sekali belajar, walaupun tidak bodoh juga.

Tak lama setelah duduk dan merapikan tas, aku, Putra dan Boy langsung menuju lapangan bersama siswa lain untuk melakukan upacara bendera, kebetulan hari senin di minggu ini ada upacara bendera, karena di sekolah kami upacara bendera dilakukan setiap dua minggu sekali. Aku berada di satu barisan dengan Putra, begitu juga dengan Boy. Dan upacara berlangsung selayaknya upacara bendera pada umumnya, membosankan, terlebih lagi cuaca pagi ini cukup terik.

Di pertengahan upacara, ketika kepala sekolah sedang melakukan sambutan kepada kami murid-murid baru, mata ku yang sedang melihat ke sekeliling terhenti di satu titik. Disana berdiri seorang siswi yang sangat menarik menurutku, dia bukan gadis yang berwajah sangat cantik, bukan juga keturunan chineseatau negara lain, wajah nya indonesia sekali, tidak terlalu tinggi, tapi tidak pendek juga, dan yang makin membuatku tertegun adalah senyumannya yang manis. Kalian penasaran ke siapa dia tersenyum? Padahal ini sedang upacara bendera? ia tersenyum ke Putra, mereka berdiri bersebelahan dan ternyata sedang bercanda sambil berbisik , tampak seperti 2 orang yang sudah akrab.

Kira kira satu setengah jam berlalu, upacara yang membosankan dan membuat keringat bercucuran itu akhir nya selesai juga. Aku sedang bersama Putra dan Boy ketika aku mendengar suara lembut “Gua Duluan ya Put”, ketika ku lihat ternyata itu berasal dari gadis manis yang sejak tadi ku kagumi, Putra pun menjawab “Iya, Ca”.

Sesaat setelah gadis itu hilang di kerumunan siswa, aku menepuk pundak Putra dan bertanya “Siapa, Put?”

“Yang mana? Yang tadi? Itu Ariska, Temen SMP gua”jawab Putra,

“Ooh Ariska..”aku menanggapi sambil mengagguk

“Kenapa emang? Naksir Lu ya? Haha”Kata Putra langsung melanjutkan, kata kata itu langsung disambut dengan candaan dari Boy

“Samperin lah sana, ajak kenalan, haha”sambil tertawa,

aku pun menanggapi kata kata mereka dengan bercanda

“nanti lah, kan ada Putra, udah ada yang bukain jalan buat gua hahaha”

“Hahaha Aji mumpung aja lu”sahut Putra sambil tertawa dan langsung disambut tawa dari aku dan Boy. Kami kembali ke kelas untuk melanjutkan hari pertama sebagai siswa SMA, dan di hari itu aku mengetahui nama dari seorang siswi yang mengagumkan, “Ariska” nama yang indah sesuai dengan pemiliknya, dan seperti yang kalian semua duga, disinilah semua bermula, dari sekolah kami di Timur Jakarta.