mona

Mona Berselingkuh, Adik Ipar Boskita Jadi Korban Pelampiasan Nafsu. JULIANTO harus merelakan istrinya berpulang mendahuluinya. Ceritanya sangat sederhana.

Seperti malam-malam sebelumnya, pasangan ini ‘make love’ atau ML. Setiap kali Julianto make love dengan istrinya, Julianto suka meremas dan menghisap payudara istrinya.

Mungkin ini adalah jalan bagi istri Julianto untuk pergi meninggalkan Julianto selama-lamanya.

Malam itu mereka ‘make love’ lagi. Barangkali Julianto saking bernafsunya ngentot istrinya sampai puting payudara istrinya tergigit gigi Julianto. Lukanya tidak parah-parah amat sih, hanya sedikit.

Tetapi dari yang sedikit itu kemudian menjadi luka. Dari luka kemudian timbul abses, lalu mengeluarkan nanah.

Setelah dibawah ke dokter, ternyata payudara istri Julianto cancer. Inilah yang kemudian merenggut nyawa istri Julianto.

Berhubung Julianto punya anak berusia 10 tahun dan Julianto juga sibuk dengan pekerjaannya, kakak dari almarhumah istri Julianto, atau kakak ipar Julianto lalu datang ke rumah Julianto membantu Julianto mengurus anaknya, membersihkan rumah, memasak dan mencuci pakaian.

Anak dari kakak ipar Julianto sudah besar dan tidak perlu diurus. Anak pertama sudah hampir lulus SMA, anak kedua berumur 16 tahun.

Semasa istrinya masih hidup, hubungan Julianto dengan keluarga kakak iparnya ini sudah terjalin dengan baik, sehingga sekarang jalinan tersebut semakin kuat lagi.

Kakak ipar laki-laki Julianto berulang tahun. Ia mengundang Julianto makan di restoran. Selesai makan, kedua keluarga ini pergi ke mall.

Kakak ipar laki-laki Julianto menurunkan istrinya dan kedua anaknya di depan lobby mall, juga Julianto dan anaknya.

Masuk ke lobby, Nike, anak pertama dari kakak ipar Julianto, atau keponakan Julianto, karena senang bercampur manja, memeluk Julianto dari belakang.

Nyee..eesss…

Darah segar Julianto seperti muncrat sampai ke ubun-ubun Julianto sewaktu kedua payudara kencang Nike menghimpit punggung Julianto.

Bagaimana tidak, Julianto sudah hampir setahun tidak menyentuh perempuan. Waktu dan pikirannya tersita habis mengurus istrinya yang sakit sampai meninggal.

Tetapi Julianto tidak tertarik dengan Nike, keponakannya yang berumur 18 tahun ini meski Nike berparas cantik putih dan payudaranya juga montok menantang.

Julianto lebih tertarik pada kakak iparnya meskipun Julianto tau kakak iparnya punya suami, sehingga malam itu di mall, kemanapun Ia pergi, Julianto selalu mengikuti, apalagi kemudian anak-anak mereka pergi bermain games di TZ dan Jaya pergi mencari tangga di AH.

Julianto berjalan berdua dengan Mona. Mula-mula mereka berjalan sendiri-sendiri, tetapi keramaian mall malam itu kerap membuat mereka berjalan terpisah. Kalau sudah begitu, Mona mencari Julianto, Julianto mencari Mona.

“Cepat banget sih lu jalan Ju, aku ketinggalan melulu di belakang.” kata nya. Mona pun menggandeng tangan Julianto.

Julianto bukan senang lagi, ia seperti merasa mendapat istri baru. Sambil berjalan Julianto memepetkan lengannya ke payudara Mona. Rasanya begitu nikmat sehingga membuat kelelakian Julianto kencang seperti sebatang rotan meskipun payudara Mona sudah menggantung dibandingkan dengan payudara Nike yang berdiri menantang.

Julianto berumur 39 tahun selisih 1 tahun dengan kakak iparnya. Kakak ipar Julianto berumur 40 tahun. Kalau istri Julianto masih hidup sekarang, usianya 36 tahun.

Pulang dari mall, Rafa, anak Julianto badannya panas, lalu Jaya menyuruh nya menginap saja malam ini di rumah Julianto.

Selesai memberi obat turun panas pada Rafa, Mona baru sadar kalau ia tidak punya pakaian tidur. Beruntung sewaktu dia mencari di lemari pakaian ia menemukan daster almarhumah adiknya yang masih disimpan Julianto untuk kenang-kenangan.

Tentu saja Julianto tidak membiarkan malam ini berlalu dengan percuma. Dengan alasan takut Rafa demam, Julianto menyuruh Mona membawa Rafa tidur di kamar utama, sehingga 1 ranjang di kamar Julianto, mereka tidur bertiga.

Setelah Rafa tidur, Julianto pun memeluk nya.

“Ju…! Jangan cari kesempatan, ya…” tegur nya dengan suara pelan. “Aku masih punya suami…”

“Kamu pakai daster ini, kamu mirip Rika, Na… aku rindu sama Rika…”

Mendengar nama Rika disebut, hancur perasaan Mona, pecah hati dia berkeping-keping, satu pada suami dan kehormatannya sebagai seorang wanita, satu pada Julianto.

Tetapi dia masih sadar, ia lebih memilih mempertahankan kesucian pernikahannya daripada memilih Julianto, tetapi pelukan hangat Julianto yang masih melekat pada dirinya, kenapa ia tidak mampu melawannya?

“Bagaimana, Na?” tanya Julianto.

“Sudah kubilang, apakah kamu tidak punya telinga? Apa kamu tega aku diceraikan Jaya?” jawab nya.

“Berarti kamu meragukan aku dong, Na… pikiranmu koq ruwet amat sih, es cendol segitu banyak digelas aja nggak seruwet lu… masih ada laki-laki yang mencintaimu, kalau kamu diceraikan Jaya, ya sudah… kan masih ada aku…”

mona
Ilustrasi gambar

Mona berpikir, benar juga kata-kata Julianto… bukankah banyak kakak ipar menikah dengan adik iparnya, umurnya juga tidak selisih banyak dengan Julianto, dan anak-anak juga dekat dengan Julianto… rayuan Julianto pun termakan Mona.

“Kalau Rafa bangun…?” tanya nya.

“Apa kita pindah ke kamar Rafa…?”

“Jangan… matikan lampu saja…”

Dalam kegelapan dia tidak malu berselingkuh dengan Julianto, daripada dalam terang.

Juliantopun turun dari ranjang mematikan lampu kamar sekalian melepaskan celana pendek dan T-shit-nya. Tetapi kamar tidak seluruhnya gelap, masih menyisakan terang yang berasal dari lampu teras dan lampu ruang tamu yang masuk dari cela-cela ventilasi pintu dan jendela.

Mona melepaskan dasternya. Mereka segera berpelukan dan berciuman. Ketika sudah saling melumat bibir, Julianto lupa dengan Rafa yang tidur di samping dia, Mona juga lupa dengan Jaya apalagi ia teringat dengan janji manis seindah surga dari Julianto.

Mona sudah tidak sayang dengan BH dan celana dalamnya, mau dilepas gak papa, mau dibuang juga gak masalah,

“Aakkhh…” malah rintih saat payudaranya dihisap Julianto dari segala arah bukan hanya putingnya saja.

Mona merasa begitu nikmat karena ketika ia bercinta dengan Jaya, payudaranya tidak dipedulikan oleh Jaya, bahkan BH-nya tidak dipreteli Jaya seperti sekarang yang dilakukan Julianto sampai dia bertelanjang bulat.

Ciuman Julianto turun ke perut dan puser Mona. “Jangan Ju, aku nggak mau, tempek gua lu cium…” tolak Mona saat vaginanya mau dicium Julianto.

Maksud Mona supaya jangan sampai seluruh rahasia tubuhnya diketahui Julianto, pacaran belum pernah, istri masih jauh, lagi pula bulu kemaluan Mona banyak, lubang kemaluannya basah menimbulkan bau tak sedap.

Tapi bisa sampai berapa lama Mona mempertahankan vaginanya, dimasuki penis boleh, masa melarang dicium?

Mona pun menyerahkan selangkangannya dimasuki kepala Julianto. Julianto menaikkan tangannya meremas payudara Mona dan bersamaan dengan itu Mona merasa vaginanya bukan dicium, tapi dijilat.

Mona mau nolak?

“Akkkhhh…” rintih Mona hanya bisa menarik rambut Julianto merasakan geli bercampur nikmat di area kemaluannya itu.

Mona secara tidak sadar semakin ia menarik rambut Julianto, vaginanya semakin menjadi ‘permainan’ mulut dan lidah Julianto, sehingga kini lubang vaginanya dimasuki lidah Julianto, Mona menggeliat semakin tidak tahan nikmatnya saat rahimnya digelitik oleh ujung lidah Julianto yang runcing.

“Aakkkhh… aakkkhhh….” Mona semakin melayang sambil merintih dan menggelinjang.

Tubuhnya bercucuran keringat dingin. Jantungnya berdetak-detak kencang. Darah di tubuhnya mengalir deras tidak beraturan.

Tidak bisa ditahan lagi, Mona menjerit. “Aaaaaa…. aaakkkkhhh…..!!!”

Sedetik kemudian, tubuh telanjang Mona terkapar lemas di atas kasur dengan napas yang berat.

Penis Julianto pun memasuki rongga kelamin Mona.

Slurrpp… blleeessss….

Julianto mencium ketiak Mona, tangannya meremas payudara Mona, sedangkan penisnya ngelunjak-lunjak nikmat maju-mundur keluar-masuk di lubang vagina Mona.

Tikaman penis Julianto berlangsung tidak sampai 10 menit, spermanya sudah merendam rahim kakak iparnya itu.

Crrroooottt…. crraatttt…. crrrooottt… crrroootttt…. crrrooottt…

Persetubuhan yang kedua kalinya malam itu, Mona merasa separuh jiwanya sudah menjadi milik Julianto.

“Om, beli bakso, Om…” minta Nike saat ia sedang bermain games dengan Rafa mendengar suara, ting… ting… ting….

“Rafa mau nggak…?” tanya Julianto. “Bawa mangkok sendiri, biar abangnya bisa terus jualan lagi… tapi, nanti habis makan pijitin Om ya, Ke…” kata Julianto.

Selesai Nike makan bakso, Nike bekerja sama dengan Rafa memijit Julianto yang telungkup di karpet, tapi kemudian Rafa menyerah.

Selesai memijit, Nike malah mendapat 50 ribu rupiah dari Julianto. Mana Nike nggak sering datang ke rumah Julianto?

Pada pemijitan yang kelima Julianto hanya memakai celana dalam. Julianto minta Nike memijit pahanya. Julianto ingin tau bagaimana reaksi Nike yang 2 bulan lagi akan menjadi mahasiwa di sebuah universitas swasta ini bila bentuk penisnya yang menjiplak di celana dalamnya dilihat Nike.

“Om… itu…” tunjuk Nike.

Rupanya Nike tau juga ‘manfaat’ penis, selain untuk kencing. Tetapi beda dengan pemikiran Julianto sewaktu Nike bertanya, “Masuk ke memek, enak ya Om…?”

Julianto bukan hanya kaget mendengar pertanyaan Nike, tetapi sampai keluar keringat dingin.

“Ke…kenapa kamu bertanya begitu, Ke…?” Julianto bertanya pada Nike sampai bibirnya gemetar.

“Mami Om… kalau digituin sama Papi, Mami sampai mendesah-desah kayaknya enak gitu, Om… ohhh… ooohh… oohh… Pap… pii… masukin yang dalem, Piiii…. lebih enak, Piii…” Nike meniru desahan maminya, Mona.

“Kamu belum boleh…” kata Julianto.

“Kok punya Om kecil sih Om…? Punya Papi, puanjaaa…anggg deh, Om…”

“Masa sih…? Belum dikeluarin kali, jadi kelihatan kecil… Om keluarin, ya…”

Julianto lalu mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. Saat itu bukannya Julianto tenang, tetapi jantungnya berbunyi seperti drum digebuk dengan ribuan stik.

“He.. he.. kecil, Om…!”

“Coba kamu pegang…” suruh Julianto.

Dari pegang, Julianto sudah tidak mendapat kesulitan lagi menyuruh Nike memasukkan penisnya ke dalam mulut, apalagi setiap isapan Nike mendapat imbalan duit. Lumayan buat Mona, bisa buat nambah koleksi busananya.

Mona maupun Jaya tidak pernah curiga pada Nike, apalagi Mona yang mendapat imbalan kehangatan di memeknya dari sperma Julianto.

Lama-lama Juliantopun berani menyemburkan air maninya di mulut Nike. Mula-mula Nike muntah-muntah tenggorokannya diguyur sperma Om-nya.

Setelah beberapa kali Nike baru berani menelan, bahkan memeknya terasa berdenyut-denyut gatel dan keluar lendir saat ia menghisap penis Om-nya.

Cuma julianto sengaja menunda waktu.

“Banyak cewek yang bekerja di kantor Om,” kata Julianto pada Nike pada suatu hari. “Tapi payudara mereka tidak seindah punya kamu…”

Dipuji dan disanjung mana wanita tidak terbang setinggi bintang di langit? Apalagi Nike yang masih miskin pengalaman seks. Jangankan baju, branya pun dilepaskannya untuk Julianto.

Uggghhhh… tetek yang kencang putih mulus dengan sembulan puting berwarna kecoklatan, membuat tangan Julianto tak sabar lagi menjamahnya.

Hanya meremas sudah bikin mata Nike merem melek, apalagi putingnya dihisap, Nike sampai terkencing-kencing, terus memeknya yang masih mulus belahannya dijilat, Nike pun pasrah mau dibopong Om-nya kemana saja, apalagi mendaki Puncak Asmara.

Julianto mulai pelan menekan penisnya yang tegang masuk ke lubang perawan milik keponakannya itu.

Pertama kali meleset. Kedua kali masih meleset. Yang ketiga kali Nike pun menjerit, “Saaa… saaah… saaa…. kiiii….iiitttt…. Oo…ooommhhhh….!!” sewaktu lobang memeknya yang sempit dikuak dengan kuat oleh urat kemaluan Om-nya.

Tapi jeritan Nike hanya berlaku sebentar. Sewaktu urat keras Om-nya mulai hilir-mudik di lobang vaginanya, Nikepun mendesah dan merintih seperti maminya.

“Oo… sssstttthh…. enak, Om… pelan-pelan Om…” desis Nike sambil memeluk Julianto dengan erat.

Pompaan demi pompasan Julianto lancarkan ke lobang vagina keponakannya itu. Julianto sangat menikmati sampai ia menyemburkan pejunya di rahim Nike yang subur.
Crrooottt…. crraatttt…. crrooottt… crroootttt……
Nikmatnya lubang sempit Nike, tetapi setelah sering ditusuk… Julianto tidak hanya menusuk lubang keponakannya ini di rumah saja, tetapi Nike dibawa Julianto ke hotel, ke villa, ke bungalow… sembari juga masih ngentot dengan Mona… tarikan demi tarikan penis besar Julianto, mana tidak bikin lubang Nike melar dan bibir memeknya keriput…

Belum lagi kemudian mertua Mona atau ibunya Julianto pada suatu hari memperkenalkan seorang gadis mungil cantik yang nantinya akan menjadi mama Rafa, sementara saat ini Mona juga sedang hamil, tapi masih 1 bulan, perut Mona belum kelihatan membesar…