mangga apel

Mangga Apel Jadi Saksi Bisu Manisnya Cinta BOSKITA di Masjid. Berbicara tentang moment Ramadhan, tentu memiliki pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasa. Selain membuat rindu akan makanan-makanan yang kapanpun bisa kita nikmati kapan saja, ibadah sunnah pun bisa menggores kisah tersendiri di hati. Cerita lucu yang menghasilkan tawa, hingga cerita manis yang mampu membuat senyum simpul saat diingat, tentu akan menyenangkan untuk diceritakan.

kali ini, diawali dengan cerita anak-anak yang sekiranya masih Sekolah Dasar, berniat membangunkan sahur para warga yang biasa kami sebut patrol. Kami terbiasa sahur sekitar pukul 03.00 WIB pagi. Pada jam tersebut, biasanya masjid disekitar rumah juga ikut mengingatkan waktu sahur telah tiba. Terkadang kami juga menjumpai para remaja dalam rombongan bocil-bocil. Mereka riang, saling bercanda dan melempar tawa satu sama lain saat patrol.

Memiliki rumah yang halamannya luas dengan kebun di sebelah kanan dan kiri, membuat senang tetangga yang melintas. Ditambah dengan pohon buah yang kami miliki, pasti eye catching untuk memanjakan mata ketika berbuah. Pisang, nangka, mangga apel, srikaya, jambu kristal, dan jeruk bali menghiasi kebun rumah kami.

Suatu malam saat waktu patrol tiba, kami mendengar sayup-sayup kentongan dan beberapa alat yang dipukul dan ditabuh untuk mengiringi suara teriakan anak-anak serta remaja yang “bertugas”. Semakin lama, semakin keras terdengar, tanda grup patrol ini semakin dekat keberadaannya. Dan beberapa saat kemudian suaranya makin gaduh di sebelah kiri rumah kami. Tak hanya ramai karena mereka sedang patrol, namun ada aktivitas lain yang mereka lakukan. Ya! Mereka sedang mengambil mangga apel di kebun kami yang saat itu lebat sekali.

mangga apel
Ilustrasi gambaar

“Kreseeeekk… Hey! Yang sebelah sana! Itu!”, ucap mereka. Saya pun tertawa di jendela melihat mereka yang antusias. Pohon mangga apel kamipun tak lepas dengan koyakan mereka. Dan setelah beberapa saat, mereka pun melanjutkan perjalanan sesuai rutenya.

Esok paginya, saya tersenyum. Pada jalur jalan didepan rumah, terdapat cacahan mangga apel bekas gigitan. Tak sedikit yang hampir utuh terbuang. Pasti para bocil semalam mengira bahwa mangga apel itu akan sangat enak disantap. Padahal mangga apel sangat amat asam rasanya saat masih muda. Saat matangpun, unsur asam tidak hilang begitu saja. Sedikit manis, dan segar rasanya. Well, mereka kena prank malam itu!

Berlanjut dengan #CeritaNgabuburit yang kedua, terjadi di masjid besar di area kota kami. Saya biasa berjalan kaki menuju masjid disaat akan adzan isya’ berkumandang. Bersama kawan-kawan perempuan, sering kami janjian untuk bertemu disana. Masjid yang kami pilih, selain menjadi yang terbesar, juga termasuk masjid yang ramai untuk disinggahi.

Suatu malam, seperti biasanya kami datang, bercengkrama, kemudian mengambil wudhu di area khusus wanita. Setelah itu kami gelar sajadah dan memakai mukenah. Kami mengobrol, menunggu saat sholat.

Random saya menoleh ke sebuah sudut. Nampak beberapa cowok-cowok yang duduk sedang memandang ke arah kami. Awalnya saya pikir mereka hanya asal saja, tapi ternyata tidak. Saya sampaikan kepada kawan-kawan, sesekali kami memandang mereka. Dan diakhiri senyuman. Tak lama kamipun lanjut untuk beribadah sholat tarawih dan rangkaiannya.

Saat jalan pulang, mereka menghampiri dan berkenalan. Kami semua malu dan tidak menyangka hal itu terjadi. Hingga berlanjut saling bertukar nomor telepon. Saya yang menjalani long distance relationship saat itu, berniat untuk berteman saja dengan mereka. Ternyata rumah beberapa diantara mereka tidak jauh dari rumah saya.

Ternyata, gayung bersambut. Ada teman kami yang jadian! Minggu berikutnya teman saya menjadi semangat mengajak kami untuk tarawih bersama di masjid itu. Sudah tentu kami semua tahu bahwa mereka janjian untuk bertemu. Bila diingat, kejadian ini pasti bikin senyum. Terutama untuk mereka.

Sekian, terima kasih telah meluangkan waktu membaca cerita saya