perjalanan

Lanjutan Perjalanan BOSKITA Pedalaman Kalimantan Mantra Roh Part2 – Apa yang disampaikan Galih membuat kami tersentak. Entah apa alasannya merahasiakan kedatangan kami dari Retno. Namun, penjelasan berikutnya membuat kami tak bisa membantah. Bagaimanupun juga, kami tidak mau kehilangan Retno sekali lagi.

“Terpaksa harus kurahasiakan. Takut ia kabur lagi. Kalian kan tahu, ia sengaja menghapus jejaknya dari kehidupan kalian lima tahun lalu. Semua pasti ada alasan. Siapa tahu, ia nanti akan berterus terang kepada kalian. Semoga juga, ia mau ikut kalian kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Jawa.”

Kamipun tak bisa berkata banyak kecuali mengiyakan. Biarlah semua terang benderang setelah kami berjumpa nanti. Termasuk alasannya membatalkan pernikahan secara sepihak. Jika ia memang sudah tak mau lagi bersanding denganku, aku mencoba menerima dengan lapang dada. Atau jika ia memang sudah membina rumah tangga di perantauan, aku akan mencoba untuk ikhlas. Yang penting, ada penjelasan dibalik kepergiannya.

Setelah Galih membayar semua makanan, kami kemudian melanjutkan perjalanan. Perjalanan panjang selama 14 jam menuju pedalaman Kalimantan.

Setelah meninggalkan Banjarmasin, mobil melaju melewati Banjarbaru, lalu Martapura hingga terus ke arah hulu Barito di Kalimantan Tengah. Galih yang menjelaskan kota-kota yang kami lewati. Rupanya ia sudah terbiasa hingga cukup mengenal sejumlah kota dan kabupaten yang kami lalui sepanjang jalan ini.

Akan tetapi aku sulit untuk fokus dan selalu teringat akan Retno. Apa yang ia lakukan lima tahun lalu membuat hatiku hancur berantakan.
Ada rasa sakit hati, kecewa, sekaligus amarah yang bercampur aduk jadi satu. Dunia terasa gelap dan semua serba kacau balau. Saat itu duniaku mendadak runtuh.

Entah apa sebabnya, sikap Retno mendadak berubah. Ia mendadak menghindar dan tak mau bicara. Hanya beberapa hari sebelum pernikahan, ia menghilang begitu saja. Padahal, kami sudah merencanakan pernikahan di salah satu katedral di Jogjakarta.

Apa yang telah ia lakukan meninggalkan segudang pertanyaan bagi semua orang. Termasuk pihak keluargaku dan keluarganya. Perlu waktu bertahun-tahun bagiku untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Akupun kemudian meninggalkan Jogjakarta dan memilih bekerja di Jakarta. Berharap aku bisa memulai hidup yang baru.

Kenalan ayah membuatku tidak terlalu sulit mendapatkan pekerjaan. Lagi pula, ayah dan ibu tak tahan melihatku hanya meratapi nasib.
Akan tetapi, aku tak bisa berbohong pada diri sendiri. Bayangan Retno selalu saja menghantui.

Tanpa sadar aku tersenyum, terkenang awal mula bertemu dengan gadis itu. Adik kelas yang membuatku tergila-gila setengah mati. Retno merupakan adik tingkat beda jurusan. Kami berbeda tingkat dua tahun. Perjumpaan bermula saat ia mendaftar menjadi anggota UKM tempatku berorganisasi.

Kehadiran Retno tentu saja jadi rebutan para mahasiswa tingkat atas. Tidak hanya kawan-kawan di UKM, tapi juga jurusannya. Diantara mereka, akulah yang beruntung menjadi kekasihnya. Semakin lama hubungan kami semakin serius.

Aku sering mengajaknya ke rumahku di Bantul. Ayah dan ibu pun tampak senang dan sangat menerima kehadiran Retno. Begitul pula adik dan mbakku. Mereka bahkan sangat berharap hubunganku dan Retno berujung pada pernikahan.

Aku kemudian dikenalkan pada orangtuanya, yang ternyata merupakan pedagang batik sukses di Surakarta. Aku bahkan beberapa kali diajak ke kampung halamannya yang berada di Slogohimo, Wonogiri. Hingga akhirnya kami lulus kuliah barengan.

Setelah mendapat pekerjaan meski gajinya kecil, aku pun berniat menyunting Retno. Setidaknya, kos-kosan milik ayah yang kukelola cukup untuk menambah penghasilan sebagai kepala rumah tangga.

Puji Tuhan, lamaranku diterima orang tuanya. Sesama penganut Katolik memudahkan urusan kami. Mereka tidak mempermasalahkan meski orang tuaku hanyalah PNS guru sedangkan orang tua Retno merupakan pedagang sukses.

“Bagaimana kabar ayah dan ibu? Sehat?” tanya Galih sembari terus memegang setir.

“Puji Tuhan, Lih, Sehat. Orang tuamu?”

“Ibu masih sehat, meski sudah tua. Sedangkan ayah, sudah meninggal tiga tahun lalu.”

Aku terdiam, padahal aku sangat mengenal orang tua Galih yang berada di Purworejo.

“Turut berduka cita, Lih. Maaf, aku tidak tahu.”

Galih hanya tertawa kecil. Tertawa getir. Sembari terus berkonsentrasi pada jalan, ia menimpali.

“Tidak apa-apa, Dib. Memang aku yang sengaja menghilang, sehingga anak-anak tidak tahu. Kau kan tahu, seperti apa grub alumni angkatan kita. Isinya bikin jengah. Bukannya silaturahmi, malah pada pamer kesuksesan.”

Aku hanya ikutan tertawa mendengar keluh Galih.

“Tapi, kau kan sekarang sudah sukses, Lih. Sudah punya pekerjaan mapan di perusahaan tambang. Kawan-kawan yang dulu meremehkan, pasti kagum denganmu.”

“Sudahlah, gak perlu dibahas. Marahi emosi nek kelingan wong-wong iku.”

perjalanan
Ilustrasi gambar

Kami berdua lantas tertawa bersama, sementara Pakde dan Bude tampaknya tertidur karena kelelahan. Hari semakin senja dan mobil terus melaju melintasi jalan trans Kalimantan. Entah sudah berapa kabupaten atau kota yang kami lewati, aku tidak tahu pasti.

“Lih, terima kasih ya. Kau sudah mau repot membantuku sejauh ini. Aku…”

“Halah…kayak ama siapa aja. Hitung-hitung balas budi lah. Dulu, kalau gak kos di tempatmu, aku pasti sudah jadi gelandangan di Jogja. Apalagi, orang tuamu sangat baik. Gak cuman kos gratis, aku juga sering dikasih makan.” Galih sekali lagi menutup kalimatnya seraya tertawa kecil.

Sambil menatap lalu lalang kendaraan dari balik kaca jendela, aku tersenyum.

Untung saja ada Galih, batinku.

Hari beranjak gelap tatkala kami memasuki wilayah perbatasan Kalsel-Kalteng. Di langit, senja temaram kian redup. Semakin ke daerah pedalaman, jalanan semakin sepi. Lalu lalang kendaraan pribadi jarang terlihat. Kami lebih sering berpapasan dengan truk-truk tangki sawit, atau truk pengangkut batu bara yang besar sekali.

Selain itu, jalanan yang tadi penuh rumah penduduk, kini berganti dengan pohon-pohon tinggi menjulang. Hanya sesekali kami melewati desa atau ibu kota kecamatan, setelah itu kembali melintasi jalan raya yang diapit hutan belantara.

Sepanjang jalan, aku dan Galih mengobrol ke sana kemari. Kami membicarakan tentang kebandelan kami semasa kuliah, tentang dosen killer, tentang mimpi-mimpi kami yang sedikit demi sedikit menjadi kenyataan.

“Kau betah di Kalimantan?” tanyaku.

“Betah ga betah, ya harus dibetahin. Jika kontrakku selesai, aku berencana cari kerja di Jawa saja. Entah di Jakarta atau Surabaya. Paling tidak, lebih dekat dengan orang tua. Kasian ibu, aku bisa bertemu hanya setahun sekali. Dari Kalimantan ke Jawa, biaya transportnya teramat mahal. Untung saja gajiku lumayan. Tapi…tetap saja tidak enak meninggalkan ibu sendirian di rumah.”

“Gak niat buka usaha?”

Galih justru terbahak, “mampus. Dibohongin mulut manis motivator. Kan aku sudah bilang, pernah coba buka usaha. Mencoba jadi enterpreuner. Ujung-ujungnya malah bangkrut, ha…ha… ha…”

“Motivator asu…!” lanjut Galih.

“Hidup budak korporat!” timpalku.

Kami berdua lantas tergelak. Memang, menjadi pengusaha sukses seperti yang disampaikan para motivator itu lebih banyak omong kosong. Berhasil belum tentu, gagal sudah pasti. Ujung-ujungnya hanya membuang duit demi seminar atau membeli buku mereka yang hanya berisi bualan dan mimpi.

“Di Kalimantan, sudah punya cewek?” tanyaku lagi.

“Aku mau nikah tahun ini.”

“Hah?! Serius?!”

“Iya, tapi bukan dengan orang Dayak,” jawabnya seraya tersenyum.

“Sebenarnya aku sudah pernah dua kali berpacaran dengan orang Dayak. Namun, selalu saja gagal. Entah kenapa…mungkin memang jodohku orang Jawa.”

“Orang Jawa?”

Galih mengangguk. “Kau ingat Wuri? Dialah calonku. Orang tuaku dan orang tuanya sudah bertemu. Jika tak ada halangan, kami akan menikah awal tahun depan.”

“Wuri anak UKM Teater?”

Galih lagi-lagi mengangguk. “Tak sengaja bertemu di instagram tahun lalu. Langsung aja kufollow. Terus pdkt. Setelah bertemu di Jawa, kami malah jadian. Mungkin karena memang sudah jodoh, prosesnya malah cepat.”

Entah kenapa, aku turut bahagia mendengar perjalanan hidup Galih sekarang. Kini hidupnya sudah mapan, bahkan sebentar lagi melepas masa lajang.

“Selamat, ya, Lih. Aku melu senang. Jo lali undangane.”

“Pasti. Kau dan orang tuamu pasti kuundang. Kalian harus datang.”

Semakin ke arah pedalaman, belantara Kalimantan yang lebat kian terasa. Berbeda seperti awal berangkat tadi yang penuh rumah-rumah penduduk. Langit semakin gelap sementara pepohonan tinggi dengan belukar lebat menghiasi sepanjang tepi jalan. Sesaat aku merasa lega, tak pernah aku menjumpai hutan selebat ini. Di Jawa memang ada hutan, tapi kebanyakan hutan jati atau hutan pinus. Hutan yang lebih cocok untuk wisata, bukan hutan perawan.

Kami beristirahat sebentar di sebuah rumah makan di pinggir jalan. Menu yang disediakan agak asing. Ada rotan rebus yang rasanya pahit, rebung bambu yang direbus, serta kulit cempedak goreng. Selain itu, hanya terdapat berbagai ikan sungai dan tak ada satupun ikan laut.

Kata Galih, kota kecil tempat kami singgah ini merupakan perbatasan tiga propinsi sekaligus. Sebuah kota kabupaten yang menghubungkan kalteng, kalsel dan kaltim. Pantas saja ada banyak kendaraan pribadi dan juga truk, termasuk truk logistik dan mobil tangki BBM.

Aku menangkap perilaku Galih yang ganjil. Ia memaksaku minum kopi, padahal ia tahu aku tak suka kopi. Asam lambungku tak kuat jika menenggak kopi walau sedikit.

“Minum saja, nanti kepuhunan.”

“Kepun… apa itu?” tanyaku penasaran.

“Kepuhunan. Sebaiknya kau minum saja walau seteguk. Kepercayaan masyarakat di sini, tidak baik menolak kopi. Lebih baik dituruti daripada ada apa-apa di jalan. Apalagi perjalanan kita masih jauh. Baru separo jalan.”

Badanku rasanya hilang tenaga begitu mengetahui perjalanan kami masih jauh. Pakde masih tampak segar bugar sedangkan Bude sudah terlihat lelah.

“Lih, kau ada antimo?” tanya Bu Lastri.

“Ada, Bu. Tapi di mobil. Nanti kuambilkan. Sebaiknya cicipi kopi dulu, barang sesendok.”

Meskipun kesal, Bu Lastri terpaksa menuruti keinginan Galih. Begitu juga aku, terpaksa mencicipi walau sedikit.

“Nek kopi, mitos po ora tetep mesti ta ombe,” celetuk Pak Wardoyo sambil tertawa lepas.

Hampir satu jam kami beristirahat. Jarum pendek di arlojiku menunjukan angka 7 lewat sedikit. Setelah makan malam kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah utara jalan trans kalimantan. Hari sudah sepenuhnya gelap dan tidak ada penerangan jalan kecuali hanya lampu depan mobil. Sesekali terlihat cahaya menyilaukan dari depan diiringi bunyi klakson panjang, menandakan truk batu bara atau tangki sawit mau lewat.

Ujar Galih, kemungkinan kami akan tiba sekitar tujuh atau delapan jam lagi di kota tujuan. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Mungkin, ini perjalanan darat terlama yang pernah kutempuh.

Begitu melewati pedesaan, Galih memelankan laju mobil.

“Kita sudah memasuki perkampungan orang-orang Dayak. Kita harus hati-hati, jangan sampai menabrak hewan ternak penduduk. Bisa-bisa, kita kena denda adat. Repot…,” terang Galih.

Memang benar, perumahan penduduk tampak berbeda dibanding rumah di wilayah Kalimantan Selatan. Hampir di setiap depan rumah penduduk terdapat patung berwujud manusia dan juga rumah kecil.

“Apa itu, Lih?”

“Hussh… jangan ditunjuk. Pamali,” sentak Galih.

Aku menelan ludah, sedikit kaget.

“Memangnya kenapa?”

“Aku hanya mengikuti kebiasaan masyarakat di sini. Meski mungkin hanya mitos, aku tetap menghormati kepercayaan masyarakat setempat. Toh, ga ada ruginya.”

Menyadari aku masih penasaran, Galih menjelaskan apa yang kulihat.

“Patung manusia itu menandakan anggota keluarga yang telah meninggal. Namanya Sapundu. Patung itu sebagai pengingat sekaligus penghormatan kepada leluhur atau keluarga yang telah lebih dahulu meninggal. Sedangkan rumah kecil itu namanya Sandung. Ditempat itu disimpan tulang belulang keluarga yang sudah diadakan ritual tiwah. Ritual kematian terakhir suku Dayak.”

Aku mengernyitkan dahi, mencoba memahami penjelasan Galih. Dari balik spion, Pak Wardoyo juga sepertinya penasaran hanya saja enggan buka mulut. Sedangkan Bu Lastri sudah terlelap karena efek antimo tadi.

Menangkap kegamanganku, Galih kembali buka suara.

“Kepercayaan suku Dayak, Hindu Kaharingan. Intinya sih, kalo tidak salah, hubungan dengan orang meninggal tidak boleh terputus meski telah beda alam. Mendoakan mereka. Konsepnya sama aja dengan agama lain, hanya caranya aja yang berbeda.”

Kali ini aku mengangguk tanda mengerti. Di dalam hati aku kagum dengan Galih, dia cepat berbaur dengan masyarakat sekitar.

“Hebat kamu, Lih. Kagum aku. Ra sio-sio dadi koncoku,” kataku penuh rasa takjub.

Sudah lewat tengah malam, tempat yang kami tuju belum juga sampai. Entah kenapa, perjalanan ini terasa tidak ada ujung pangkalnya. Jalanan yang tadi datar, kini berubah menjadi naik turun. Sebentar menanjak, sebentar lagi menukik. Tikungan tajam juga sering muncul dadakan. Aku merasa sedang berada di roller coster karena jalan yang kami lalui melewati area perbukitan.

Mobil terhentak-hentak akibat aspal yang rusak dan berlubang. Meski Galih melaju dengan hati-hati, tetap saja saja beberapa kali kami menabrak lubang yang menganga. Tidak ada lampu jalan membuat perjalanan ini terasa mengerikan. Selain lampu depan mobil, hanyalah garis putih di tengah jalan yang jadi panduan. Lepas sedikit dari aspal, maka kami akan tergelincir ke dalam jurang yang sangat dalam.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Pak Wardoyo menggenggam pegangan tangan di atas jendela mobil sangat erat sebab jalur yang kami lalui begitu curam. Bu Lastri beberapa kali menjerit karena merasa rawan. Antimo yang tadi ia minum rupanya sudah tidak berefek. Mobil yang terhentak-hentak membuatnya tidak bisa tidur.

Beberapa kali kami singgah karena ibunya Retno tidak kuat menahan muntah. Kami keluar dari mobil untuk mencari angin segar sekaligus menghilangkan penat. Melihat Bu Lastri muntah, aku juga ikutan muntah hingga mataku berair. Perutku rasanya seperti diaduk-aduk. Seumur hidup, baru kali ini aku mabuk darat.

Galih menyerahkan sebotol air mineral dan tisue. Aku mulai membaik setelah membersihkan wajah dan mulut. Kulihat Pak Wardoyo memijat-mijat tengkuk istrinya yang masih berdiri lemas di antara semak belukar di pinggir jalan. Sisa-sisa isi perut Bu Lastri masih berhamburan.

Aku mengedarkan pandang, tidak ada yang terlihat kecuali kegelapan. Kabut tipis perlahan naik diiringi suara serangga dan hewan malam. Barulah aku tersadar bahwa kami berada di tengah antah berantah. Tidak ada rumah maupun kendaraan yang lewat. Hanya ada kesunyian malam yang terasa sangat dingin hingga menembus kulit. Sejauh mata memandang yang terpampang hanyalah kegelapan.

Aku putar badan untuk mendekati orang tuanya Retno, tapi tanpa sengaja aku menginjak sebongkah batu yang tidak begitu kokoh menempel pada bahu jalan. Untung saja Galih bergegas menarik lenganku.

“Hati-hati…di depan mu itu jurang. Kalau terjatuh, jasadmu sulit ditemukan. Kalau pun ketemu, tidak ada seorang pun yang sudi mengangkatnya. Jasadmu akan dibiarkan membusuk karena jurangnya terlalu curam.”

Aku bergidik ngeri mendengar penjelasan Galih, sedangkan batu tadi telah menggelinding bebas ke dalam jurang yang tak terlihat dasarnya.

Kami melanjutkan perjalanan membelah hutan sawit yang luas. Lepas dari area perkebunan sawit, hutan kini berganti dengan pohon-pohon tinggi menjulang. Mobil terus melaju menembus kegelapan, di antara hutan belantara dan kabut tipis yang berarak.

Setelah satu jam, jalanan semakin landai seiring lampu-lampu dari rumah warga mulai terlihat. Rumah itu jaraknya saling berjauhan, lalu makin lama semakin rapat hingga kami melewati jembatan yang membentang di atas sungai Barito yang lebar bak lautan.

“Kita sudah sampai. Sebentar lagi kalian akan bertemu Retno,” ujar Galih seraya menyunggingkan senyum.

Aku merasa lega, perjalanan yang melelahkan telah berakhir. Kulirik, orang tuanya Retno sumringah meski masih menyimpan rasa lelah. Mobil akhirnya memasuki ibukota kabupaten paling ujung di pedalaman Kalimantan. Jam di arlojiku telah menunjukkan angka dua. Mobil lantas berputar ke arah kanan melalui bundaran kota, lalu terus melaju di jalanan yang sepi.

Aku merasa gugup tatkala mobil masuk ke dalam gang tempat kontrakan Retno. Aku bertambah gelisah saat mobil berhenti sepenuhnya di depan sebuah kontrakan lima pintu. Lebih tepatnya disebut rumah petak. Kata Galih, warga lokal menyebutnya barak.

Suara mesin mobil rupanya membangunkan para penghuni kontrakan, termasuk sang pemilik yang rumahnya bersebelahan. Beberapa orang keluar dengan wajah heran, sebagian lagi mengintip dari jendela di balik tirai.

“Retno di pintu nomor tiga. Itu, dia sedang mengintip di jendela,” ujar Galih pelan.

Benar saja, siluet tubuhnya terlihat membentuk bayangan yang berpendar tertutup tirai. Wajahnya yang kusut karena bangun tidur tampak jelas di balik kaca jendela. Wajah jelita itu masih kuingat, wajah yang menghantuiku selama lima tahun terakhir. Jantungku mendadak berdebar-debar tidak karuan dan perasaanku campur aduk. Perasaan gugup yang sulit kujelaskan.

Ayah dan ibunya langsung berhamburan keluar dari mobil sambil memanggil-manggil Retno.

“Nduk…nduk… iki bapak karo ibu, nduk.”

Sempat mematung beberapa saat, Retno langung membuka pintu dan memeluk kedua orang tuanya. Ketiganya kemudian tenggelam dalam genangan air mata. Bu Lastri terisak dengan suara getir hingga bahunya berguncang. Akupun ikut terharu menyaksikan mereka bisa berkumpul kembali setelah lima tahun terpisah.

Aku dan Galih membiarkan mereka selama beberapa saat untuk melepas rindu yang sudah sekian tahun terpendam. Sementara para tetangga yang tadi penasaran, kembali masuk ke kontrakan masing-masing setelah menyadari yang datang adalah orang tuanya Retno.

“Ayo… kau pasti sudah tidak sabar bertemu tunanganmu,” ajak Galih.

Aku mengangguk, lalu menyusul Galih yang telah duluan keluar dari dalam mobil. Aku mengatur napas pelan untuk mengurangi debar jantungku. Mataku mendadak berkaca-kaca. Penuh rasa bahagia, aku memanggil Retno dengan lembut.

“Retno…”

Retno mendongak, terlonjak kaget. Ia seakan tak pecaya dengan apa yang ia lihat. Ia lantas melepas pelukan kemudian melangkah cepat ke arahku yang berdiri beberapa meter di hadapannya.

Plaak…!!!

Sebuah tamparan keras dari Retno menghantam pipi kiriku. Aku tersentak dan dilanda kebingungan.

“Siapa kamu?!” bentak Retno dengan nada kasar.

Aku masih terdiam menahan perih akibat tamparan tadi. Sebuah tamparan yang akan menyingkap segala tabir, kenapa ia menghilang dan tak pernah pulang selama lima tahun ini.