Pengemis

Kutukan Seorang Pengemis Untuk BOSKITA Anak Orang Kaya. “Nak, sini sebentar, Nak.” Ade merasa heran mengapa ayahnya memanggilnya. Nada suara sang ayah terdengar begitu serius seolah-olah dia ingin mengucapkan wasiat terakhirnya. Sejauh yang Ade tahu ayahnya adalah orang yang sangat sehat dan rajin check-up ke dokter. Selain itu ayahnya juga masih muda.

“Iya, kenapa Yah?”

“Duduk dulu.”

Ade duduk bersila di lantai sementara ayahnya duduk di kursi rendah. Belum pernah Ade mengalami kejadian seperti ini dengan ayahnya. Ada sesuatu yang salah di sini.

“Kamu bersyukur nggak terlahir dari keluarga kaya?”

Alis Ade terangkat mendengar pertanyaan tak terduga itu.

“Iya … aku bersyukur,” jawab Ade. Hidupnya memang tak pernah kekurangan suatu apa pun. Bagaimanapun ayahnya merupakan golongan 0,1% di negara ini.

“Lalu apa kamu pernah berbagi dengan yang lebih membutuhkan?”

“Iya, sering,” jawab Ade lagi. Baru siang tadi dia memberi uang pada pengemis yang duduk di pinggiran kampus.

“Baguslah kalau begitu. Dulu aku juga mencoba untuk berbuat baik sebanyak mungkin, tapi kadang hasilnya tidak sesuai harapan. Sudah waktunya kau tahu cerita ini. Besok kamu sudah 20 tahun. Ini akan … merubah hidupmu.”

Pengemis
Ilustrasi gambar

Tiba-tiba saja aku merasa takut. Apa yang sebenarnya akan ayah ceritakan?

Saat itu aku masih muda, masih baru menikmati gaji pertama setelah bekerja keras sebulan penuh. Tak banyak memang, tapi uang itu terasa begitu berat dan berharga. Aku sudah berencana mengajak kedua orangtuaku makan malam yang agak mewah. Kami bukan keluarga kaya jadi aku ingin menjadikan momen ini spesial.

Tapi semua menjadi kacau. Entah siapa yang menyebar rumor, para tetangga tampaknya tahu aku baru gajian. Kami tinggal di perkampungan kumuh. Orang paling kaya cuma punya satu motor butut yang sudah tua. Mendengar aku baru gajian mereka pun datang dengan berbagai alasan.

Ada yang bilang anaknya sakit, ada yang butuh uang untuk mencicil hutang, ada juga yang bilang untuk sekolah anaknya. Kami memang miskin, tapi kakek dan nenekmu selalu mengajariku untuk berbagi. Akhirnya uang gajian itu hilang tak bersisa.

Rencana untuk mengajak orangtuaku makan sudah hilang, tapi orang-orang yang meminta uang terus berdatangan meskipun aku sudah tak lagi punya uang. Butuh beberapa hari sampai akhirnya aku tahu para pengemis itu saling berbagi info tentang diriku. “Jika butuh uang mudah minta saja ke rumahku,” begitu mereka bilang.

Mendengar itu aku langsung merasa marah. Sangat kurangajar jika kau memanfaatkan kebaikan hati orang lain. Karena itulah saat ada pengemis lain yang datang meminta uang aku malah memarahinya. Meski dia memohon bahwa anaknya yang masih bayi belum makan seharian aku malah meludah dan menyuruhnya bekerja.

Aku merasa sudah melakukan hal yang benar. Sedekah kadang membuat orang lain menjadi malas dan hanya meminta-minta. Sejak saat itu aku tak lagi memberi uang pada pengemis yang datang. Aku menggunakan uangku untuk kebahagiaanku sendiri dan aku merasa jauh lebih baik. Kehidupanku juga jadi jauh lebih baik.
Tapi tak lama setelah itu aku bertemu dengan pengemis itu lagi.

“Anakku mati.”

Dua kata darinya membuatku merinding. Ada sesuatu yang salah, rasanya seperti tidak berhadapan dengan manusia.

“Kau pikir aku meminta-minta karena aku mau. Kalau bukan karena anakku aku tak akan pernah meminta ke kau. Tapi kau … tapi kau …. Kau lihat saja. Suatu saat anakmu akan mati di tanganku. Saat umur anakmu mencapai 20 tahun aku akan membunuhnya. Biar kau tahu rasanya kehilangan anak.”

Apa yang dia ucapkan terdengar seperti kutukan di telingaku. Aku tak percaya hal-hal semacam kutukan, tapi aku tak bisa melupakan kejadian itu. Rambutnya yang berantakan, tompel di leher kirinya, sampai matanya yang sipit sebelah, aku ingat semuanya. Semua menjadi lebih mengerikan saat dia tiba-tiba berlari ke tengah jalan dan mati tertabrak mobil.

Aku mencoba melupakannya dan menganggap itu sebagai ocehan belaka, tapi hal-hal yang tidak masuk akal mulai terjadi. Entah bagaimana aku memenangkan lotere ratusan juta. Aku mendapat tawaran bisnis yang berakhir sukses besar. Keuanganku terus merangkak naik, hidupku seolah hanya dipenuhi kebahagiaan.

Tapi satu hal yang paling aneh, aku cuma bisa punya satu anak. Meski aku terus mencoba aku tak bisa punya anak lain dari wanita mana pun. Rasanya seolah-olah aku aku hanya boleh mencurahkan cinta pada satu anak dan suatu saat pengemis itu akan datang membunuh anakku untuk membuatku sangat menderita.

Ade mendengar tanpa menyela satu kali pun. Dia tahu ayahnya tak akan bercanda tentang hal seperti ini. Ayahnya sejak dulu sangat menyayanginya, sangat memanjakannya, sangat mencemaskan keamanannya.

Dia tak pernah diijinkan pergi terlalu jauh, dia selalu diantar-jemput supir pribadi sampai lulus Sma, dia juga tahu ayahnya mempekerjakan beberapa orang untuk terus memata-matainya di kampus. Dia mengira ayahnya cuma orang yang overprotective, tapi ternyata ada alasan mengerikan di balik sikapnya itu.

“Jadi, Nak … besok kau sudah 20 tahun. Kumohon … pergilah. Kabur, lari jauh-jauh dari pengemis itu. kumohon, selamatkan dirimu!”

Ade terdiam untuk sesaat. Semua terasa terlalu gila untuk bisa dia percayai. Pengemis yang sudah mati akan datang untuk membunuhnya? Bagaimana bisa?

Namun sebelum Ade mengatakan apa-apa, suara kaca yang pecah muncul memekakkan telinga. Keduanya langsung berlari ke arah suara. Ternyata ada seseorang yang melempar batu dan memecahkan kaca depan rumah mereka. Ade mencoba melihat siapa itu dan apa yang dia lihat adalah seorang gelandangan dengan rambut berantakan, tompel di leher kiri, dan matanya yang sipit sebelah.

“Dia datang … DIA DATANG! Sembunyi Nak! Sembunyi sekarang juga!”

Kabur dan Sembunyi !. Ade tak bisa memproses apa yang harus dia lakukan. Saat dia mendengar pintu depan didobrak paksa, Ade mulai berlari.

Tak peduli ke mana dan sampai kapan, Ade menaiki motornya dan berkendara sejauh yang dia bisa. Dia tak berani melihat ke belakang. Tak peduli ke mana dia pergi dia merasa ada yang menatapnya dengan tatapan tajam yang siap mencari kesempatan untuk mencelakainya.

Mendadak saja dia merasa dikelilingi oleh pengemis dan gelandangan. Setiap kali dia berhenti untuk mengisi bensin atau makan, dia selalu dihampiri oleh mereka. Saking takutnya Ade selalu kabur tak peduli meski gelandangan itu tidak memiliki tompel di leher kiri.

Tanpa sadar dia sudah di luar kota, di luar provinsi, di luar pulau. Saat motornya mogok total akibat terlalu lama digunakan, Ade sudah di ambang batas nyaris pingsan. Dia sama sekali belum tidur, belum makan, kehabisan uang. Di hari ulang tahunnya dia malah terdampar di antah berantah tanpa bantuan di tengah malam.

Ade bertanya-tanya apa yang sudah dia lakukan sampai harus menerima semua ini? Menurutnya, ayahnya sama sekali tidak salah. Ayahnya dengan tulus ingin membantu orang lain tapi kebaikan hatinya dimanfaatkan, tapi sekali saja dia menolak dia malah mendapat kutukan yang harus ditanggung oleh anaknya.

Apakah ayahnya salah? Atau cuma bernasib buruk? Apa pun itu, Ade yang akan menanggung semuanya.

Dengan tanpa harapan dia berbaring di rerumputan pinggir jalan. Dia merasa begitu lelah sampai-sampai merasa bisa tertidur kapan saja. Ingin rasanya Ade tidur, tetapi dia tahu bahwa kematian itu sendiri sudah mendekatinya.

Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Ade memaksa bangkit dan melihat pengemis itu ada di sana. Rambut berantakan, mata sipit sebelah, tompel di leher kiri. Pengemis itu benar-benar mengejarnya dan siap untuk mengambil nyawanya.

Ade menangis. Dia sudah tak punya tenaga untuk lari lebih jauh. Mungkin tak buruk juga jika dia mati di sini. Dia merasa tidak melakukan banyak hal buruk selama di dunia. Mungkin itu cukup untuk membawanya ke surga. Kebaikan terakhir yang dia lakukan … ahh ya, dia memberi uang untuk pengemis di kampus. Ade mengingat pengemis itu mengucapkan terima kasih dengan tulus. Andai saja semua pengemis seperti itu ….

“Kak? Kakak kenapa?”

Ade menoleh dan mendapati seorang anak kecil berpakaian kumal berdiri di sebelahnya. Entah dari mana anak itu datang, Ade sudah terlalu lelah memikirkannya. Perhatiannya lebih tertuju pada gelas plastik yang dia genggam. Gelas kemasan itu dia gunakan sebagai tempat menyimpan uang layaknya pengemis.

“Nggak kenapa-napa kok. Kamu udah makan?”

Dengan polosnya anak itu menggeleng. Ade meraba sakunya dan menemukan beberapa recehan kembalian di sana. Dia mengambil semua dan memasukkan uang itu ke gelas anak itu.

“Nih, makan dulu sana.”

Ade sudah tidak peduli lagi. Dia cuma berharap satu hal: semoga kematian tidak menyakitkan.

“Ade? Ade? Bangun Nak!”

Sinar matahari memanggang wajahnya. Ade berkedip beberapa kali dan wajah ayahnya menjadi hal pertama yang dia lihat. Matahari sudah meninggi dan dia masih berbaring di rerumputan yang sama. Dia … masih hidup.
Segera Ade menoleh ke sekeliling. Dia sama sekali tidak menemukan tanda pengemis yang akan membunuhnya. Apa semalam dia cuma bermimpi? Tidak. Ade mengingat semuanya dengan jelas. Lalu, bagaimana dengan anak kecil itu?

“Kok Ayah bisa di sini?” Ade bertanya.

“Polisi yang menghubungi ayah. Katanya ada anak kecil lihat kamu di sini, terus dia lapor polisi.”

Anak kecil itu kah yang dimaksud? Tapi kenapa aku masih hidup?

“Terus … pengemisnya?”

Ayahnya menggeleng. Tampaknya dia juga tidak tahu. Meski merasa bingung tapi Ade tak bertanya lebih jauh. Anehnya dia merasa seluruh ketakutan telah meninggalkan tubuhnya. Entah apa pun yang terjadi, Ade merasa tak takut untuk pulang.

Sejak hari itu Ade beberapa kali menemukan si pengemis mengikutinya. Namun kali ini gelandangan itu tidak mengejar maupun melukainya. Biasanya saat Ade memberi uang pada anak-anak kecil di pinggir jalan sosok si pengemis akan menghilang.

Mau tak mau Ade merasa kalau dia masih diberi kesempatan. Mungkin si pengemis mengingat kembali sosok anaknya dan setiap kali Ade membantu anak-anak kecil itu dia mengurungkan niat membunuh Ade. Saat dia menceritakan hal ini pada ayahnya, ayahnya pun memutuskan membangun sebuah organisasi sosial untuk membantu anak-anak gelandangan di seluruh negeri.

Kadang Ade bertanya-tanya, apakah dia harus melakukan itu sampai dia mati secara wajar? Jika iya maka Ade tidak merasa keberatan. Bersedekah memang merupakan kewajiban bagi mereka yang mampu. Tak peduli seperti apa hasil akhirnya Ade merasa tidak akan menyesal.

Meskipun ujung-ujungnya dimanfaatkan dan disia-siakan, Ade akan tetap membantu siapa pun yang membutuhkan bantuannya. Semoga saja arwah pengemis itu bisa ikut bahagia melihatnya.