ibu rumah tangga

Kisah BOSKITA Rumah Tangga Anna Sebagai Seorang Fashion Designer. Namaku Anna, 35 tahun sudah memiliki 2 anak perempuan usianya 10 dan 8 tahun. Suamiku bernama Hari, 38 tahun, direktur di salah satu perusahaan asing. Aku sendiri seorang ibu rumah tangga, tapi aku juga punya usaha butik yang memproduksi dan menyewakan dress khusus wedding. Usaha ini ku kelola sendiri karena memang dulu pernah sekolah di bidang fashion. Sudah hampir 5 tahun butik ini beroperasi dan cukup banyak memiliki banyak pelanggan loyal. Lokasinya cukup dekat dengan rumah tinggal kami, jadi aku cukup flexibel untuk menghandle nya dari rumah.

Secara fisik aku cukup menarik, dengan tinggi 160cm dengan ukuran 36B, cukup proporsional bagiku. Kulitku tergolong cukup putih meskipun aku keturunan jawa, dengan aktifotas olahrga yoga dan berenang rutin, badanku maaih cukup kencang dan terjaga, kalau wajah cukup cantik lah ya, mirip2 artis.
Mas Hari punya face yang cukup tampan dan kulitnya putih, dengan tinggi 175cm dan perawakan yang slim, nggak kalah lah dengan artis-artis ibukota.

Hari Rabu menunjukkan pukul 7 malam, traffic ibukota yang luar biasa macetnya. Aku ingin segera cepat sampai rumah dan membersihkan badan setelah seharian keliling kota untuk mencari bahan2 yang diperlukan butik.

ibu rumah tangga
Ilustrasi gambar

Aku(A) : Pak, mampir ke butik sebentar ya. Taruh barang dulu terus balik ke rumah. Aku sudah capek keliling seharian.
Tarno (T) : Iya bu.
A: Mbak, ada yang dicari lagi nggak buat kebutuhan rumah?
Yus (Y): sudah nggak ada bu, sudah dapat semuanya tadi.
A: Rani, Rena, ada yang mau dicari lagi?
Rani: Nggak ada ma, langsung pulang aja. Bosen seharian belum pulang pulang dari sekolah.

Pak Tarno dan Mbak Yus adalah suami istri yang bekerja sebagai driver dan pembantu di rumah kami. Pak Tarno sudah ikut keluarga suami hampir 20 tahun lamanya, sejak masih melajang hingga akhirnya menikah dengan Mbak Yus, lalu mereka ikut bekerja dengan suami karena orang tua suami sudah tidak ada semua.

Usia Pak Tarno sekitar 45 tahun, badannya tegap lengannya berotot namun agak buncit di bagian perutnya, dan warna kulit gelap kecoklatan, wajahnya agak sangar mirip agen penagih hutang. Mbak Yus sendiri usianya sekitar 40 tahun, badannya mungil, tapi terlihat wajahnya masih cukup cantik dan terawat. Mereka punya 1 anak yang sudah dewasa, dan saat ini menjadi TKI di negara korea, sudah hampir 2 tahun tinggal di sana.
Sedangkan Pak Tarno dan Mbak Yus, lebih sering tinggal di rumah kami meskipun mereka juga memiliki rumah sendiri di perkampungan dekat komplek kami. Pak Tarno sangat loyal kepada Mas Hari suamiku, karena memang daridulu sudah diberikan fasilitas dan jaminan untuk semua anggota keluarganya.

Sesampainya di rumah langsung aku memebrsihkan diri, kuganti bajuku dengan daster tipis yang lebih nyaman.
Segera ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Mas Hari. Karena sepertinya dia sudah datang, karena terdengar suara gerbang dibuka.

S: Selamat malam ma (sambil mengecup keningku). Mana anak anak?
A : Ada tuh di kamar pada mau tidur?
S: Menu hari ini apa?
A: Menu makan malam atau menu yg lain nih? (Sambil mengelus burungnya)
S: Ahh mama ya makan dong, kalau ini disimpan besok saja ya, hari ini capek banget, meeting dari pagi (sambil meremas dadaku)
A: Ihh papa tumben diajakin nggak mau. Yaudah besok ya, mama siap dilahap.
Nih pa makan dulu. Trus mandi dan istirahat (sambil menyodorkan soto ayam dan teh hangat)
S: Mama nggak makan?
A: Sudah tadi sama anak2 di Mall.

Semenjak kelahiran anak kedua kami memang intensitas kegiatan seksual kami lebih menurun. Tapi tetap rutin, paling tidak seminggu sekali, dan yang terpenting stamina mas Hari tetap prima dan selalu bisa memuaskanku. Karena hampir setiap pagi Mas Hari menyempatkan untuk jalan ataupun jogging di sekitar komplek.

Indra (I) : Pak permisi, ini barang dari kantor ditaruh sebelah mana?

Tiba-tiba Indra datang membawa kardus besar. Indra adalah driver pribadi suamiku, sudah hampir 1 tahun ikut suamiku. Umurnya kalau tidak salah masih 28 tahun, perawakannya tinggi dan tegap mungkin sekitar 180 cm, rambutnya cepak klimis seperti security bank bank ternama, kulitnya coklat sawo matang, tergolong cukup good looking untuk seorang driver.
Suamiku memang menuntut pegawai di rumah untuk selalu merawat diri, hingga pembantu kami pun (Mbak Yusi) dituntut untuk bisa berpakaian yang layak meskipun hanya bekerja di rumah, supaya tampilan tetap fresh dan wangi.

S: Taruh ruangan kerja saja ndra.
I: Siap pak.
A: Mas Indra sudah makan? Kalau belum ambil di dapur langsung ya.
I: Iya bu, nanti saja setelah saya selesaikan pindah barang dan cuci mobilnya.
A: Nanti kalau kurang lauknya, minta tolong Mbak Yus untuk goreng telur ya.
I: Iya bu, terima kasih. (sambil beranjak pergi melanjutkan pekerjaannya)

S: Ma, besok papa mau ke bali ada meeting dengan beberapa vendor. Indra juga ikut.
A: Hah, naik mobil?
S: Ya enggak, naik pesawat. Cuma Indra aku ajak untuk nyetirin di sana sama untuk nemenin juga.
A: Ihh papa ke bali nggak ngajak2?
S: kan anak2 sekolah, disuruh bolos? Papa seminggu lho.
A: biar di rumah aja dulu, nanti weekend biiarin nyusul sama Pak Tarno. Kita honeymoon dulu. Gimana? (Sambil pasang wajah genit dan manja).

S : Yee, papa kan mau kerja di sana.
A: Ya nanti aku jalan jalan sendiri juga nggak masalah, kinta jemput temen2 yang tinggal di denpasar. Mama ikut ya??? Pleaseee…
S : Ya udah. Sekarang mama cari tiket ya buat besok bertiga. Sekalian cari villa ya, besok ke Denpasar dulu, weekend kita pindah ke daerah Jimbaran.
A: Horeee…Thankyou papa sayang (beranjak dari meja makan mencari hp untuk segera book tiket dan villa)

Setelah 1 jam browsing2, akhirnya mendapatkan tiket untuk jam 12 siang besok.
Aku pesan villa di denpasar yang tidak terlalu besar karena cuma untuk bertiga, lalu untuk di Jimbaran aku cari yang cukup besar untuk menampung sekeluarga.

A: Pa tiket dan villa nya sudah dapat
S: Oke maa, segera packing ya, nanti kopernya taruh aja di dekat kulkas biar besok dimasukkan mobil sama Pak Tarno

Setelah packing untuk kami berdua selesai, ternyata sudah jam 12 malam, badan mulai terasa lelah. Kulepas bh ku, menuju ranjang dan langsung ku tarik selimut untuk beristirahat di samping Mas Hari yang sudah todur daritadi.

Kamis pukul 6 pagi, aku bergegas ke dapur untuk segera menyiapkan sarapan, hal yang biasa aku lakukan setiap hari, meskipun ada pembantu, tapi aku cukup menilamti kegiatan memasak sarapan untuk keluarga.
Dengan masih mengenakan daster tanpa bh dibaliknua ku segera menyiapkan bahan masakan.
Aku siapkan nasi goreng sajalah batinku, yang cepat dan gampang.

Tiba-tiba bagian belakang dasterku disingkap dan pantatku diremas dengan kencang.

A: Aaaaaaau…(aku berteriak)… Ihh papa, bikin kaget aja, pagi2 main remas.
S: Semalam bilang mau dilahap pagi ini, hahaha
A: Ya kali mau melahap mama di dapur.
S: (mengihraukan perkataanku sambil melanjutkan meremas pantatku dari belakang)
A: Hei nanti ada orang lihat gimana?
S: Tenang aja tadi Mbok sama Pak Tarno pamit ke pasar dulu, Indra cuci mobil kita semua. Anak2 masih tidur kan? (Lanjut meraba lalu pindah meremas remas payudaraku dari luar baju tidurku)

Suamiku terus melanjutkan aksinya sambil mendaratkan ciuman yang penuh nafsu.
Aku membalas ciumannya dengan agresif.
Lidah kami saling beradu sampai mungkin sekitar 5 menit. Gairahku lagi tinggi setelah seminggu lebih tidak berhubungan karena tamu bulanan.

Mas Hari langsung membalik badanku mengangkatku ke atas meja dapur sambil terus melanjutkan ciuman penuh nafsunya.
Aku hanya pasrah dengan apa yang Mas Hari lakukan.
Tangannya sudah berada di dalam dasterku, terus bergerilya hingga meraih payudara kiriku yang memang tidak mengenakan bh. Hingga dasterku tersingkap ke bagian perut.
CD putihku dan perutku akan terlihat jelas apabila ada orang lain berada di dekat kami.
Vaginaku terasa mulai mengeluarkan cairan, dan sepertinya CD ku jg mulai basah.

Penis Mas Hari yang tersembunyi dari boxer longgarnya, sudah tegang dari pagi. Penisnya punya ukuran standard utntuk orang indo sekitar 14-15cm lah, tapi memang bentuk diameternya agak gemuk, itu sudah cukup membuatku melayang. Penisnya yang keras sesekali menyenggol bagian bibir vaginaku dari luar CDku.
Aku mulai mendesah, karena tangannya juga mulai memelintir puting kiriku.

“Pak, kopernya su…” “Ohh maaf pak!”
Indra tiba2 datang begitu saja. Dia begitu kaget melihat kami berdua sedang bercumbu di atas meja. Dia langsung spontan berbalik badan dan pergi ke ruang sebelah.
Aku yakin dia melihat CD ku yang terpampang jelas ini, dan mungkin bagian perut dan sebagian bawah payudaraku.
Aku spontan berdiri dan segera merapikan bajuku.

I: Maaf maaf pak bu, saya tidakk sengaja, ini kopernya semua sudah bisa dimasukkan mobil? (Sambil berteriak dari ruang sebelah)
Saya tadi disuruh Pak Tarno masukkan koper2nya yg di sebelah kulkas ke mobil.
S: Iya nggak apa2, masuk sini sudah selesai kok.
I: maaf pak, saya tidak tahu dan kalau ada ibu juga.
A: Iya nggak masalah mas, anggap angin lalu. Silahkan dilanjutkan mas beres2 kopernya.
I: Iya bu, permisi ya pak, bu, (berbegas dengan cepat membawa koper2 ke dalam mobil)

A: Ihh, Indra ini gangguin orang aja (bisikku ke mas Hari)
S: Hahaha, dia dapat tontonan gratis orang ciuman.
A: Yee, dpaat tontonan daleman mama juga ini, daster mama kesingkap.
S: Yaudah anggap amal, hehe. Ya kali aku marahin. Dia juga nggak salah.
A: ihh papa (sambil kusentil batang penisnya yang sudah loyo lagi)
S: Ya sudah mainnya dilanjut nanti di Bali aja ya ma, papa mau mandi, mama lanjutin masaknya gih, laper (sambil mengecup bibirku dan beranjak pergi)