guru

Guru Honorer Itu Adalah Ibuku Yang Bernama Sinta Halo BOSKITA. Kali ini aku akan mencoba membuat cerita tentang guru yang semoga bisa membuat BOSKITA suka. Mohon izin share cerita pertama saya yang asli buatan saya sendiri, namun terinspirasi dari berbagai cerita guru yang pernah saya baca. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, mohon kritik dan saran suhu. Terima kasih.

=============================================================================

Perkenalkan nama aku Andi, aku anak kedua dari dua bersaudara. Aku tinggal dengan keluarga yang harmonis, dan ekonomi yang sederhana. Papa ku hanyalah seorang pegawai negeri, mama ku seorang guru honorer fisika. Selama ini aku melihat mamaku orangnya sangat alim yaa karna seorang guru, bahkan kalau mau keluar rumah hanya ke mini market, selalu menggunakan pakaian tertutup, begitupun juga kakakku.

Mamaku bernama sinta, umur 38 tahun memiliki pekerjaan sebagai seorang guru. Memiliki wajah yang cantik, putih, tubuh yang proporsional dengan perut yang agak rata, meski ada lemak sedikit akan tetapi tidak mengurangi seksinya mamaku ini, ukuran dada yang lumayan besar yaitu 36D, karena rajin olahraga yoga dan senam didekat rumah yang selalu diadakan hari minggu pagi.

Kakakku bernama Tia, umur 18 tahun. Saat ini kakakku sedang berada diluar kota untuk melanjutkan pendidikannya disalah satu universitas negeri. Papa dan mamaku sangat bangga terhadap kak Tia, karena selain cantik yang diwariskan oleh mamaku, dia punya kepintaran yang diwariskan oleh papaku. Jadi kak tia ini selalu menjadi patokan setiap ada acara keluarga, aku selalu menanggapinya tidak serius, karena setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perawakan kak Tia tidak beda jauh dengan mama, bahkan kak Tia lebih unggul dari segi wajah dan tinggi. Untuk ukuran bh nya aku belum tau, terakhir kali aku liat di keranjang baju milik kak Tia 34C sebelum kak Tia kuliah.

Sepulang sekolah aku langsung membaringkan badanku diatas kasur. Saat aku ketiduran, aku melihat jam didinding pukul 4 sore. Disaat bersamaan, mamaku pulang dari sekolah, aku tau mama pulang karena dirumah hanya aku, Bi Imah, dan mama, sedangkan papa sedang keluar pulau dikarenakan urusan kerjaan. Aku sangat mengenal suara langkah mamaku memasuki rumah dan suara salam dari luar kamar. Akupun turun kebawah untuk mengambil air yang ada di kulkas. Owiya, meski mamaku ini diluar sangat tertutup, tapi kalau sudah dirumah penampilannya agak sedikit terbuka.

guru
Ilustrasi gambar guru

MAMA: M
AKU: A
Bi Imah: I

M: Assalamualaikum. (sambil menutup pintu, terlihat mama dengan wajah yang sangat lelah setelah bekerja)

A&I: Waalaikumsalam. (aku turun dari tangga dan bi imah sedang menyapu)

A: Mama kenapa? Kok keliatannya mama capek banget?

M: Gimana ga capek? Tadi abis ada rapat guru mendadak, mana mama tadi disuruh menjadi panitia. (mama ke arah sofa dan merebahkan badan di sofa)

A: Panitia apa? Emangnya di sekolah ada acara apa ma? (ambil minum dari kulkas dapur lalu menghampiri mama yang ada di sofa ruang tamu

M: Katanya ada penilaian kebersihan sekolah tingkat kota. (melepas jilbab yang ada dikepala sambil tarik napas dalam-dalam)

A: Dapet uang ga kalo jadi panitia? Kalo dapet kan lumayan ma. (salah fokus ketika mama menghela napas, terilhat payudara mama seakan-akan ingin keluar dari seragam coklat guru mama)

M: Dapet sih, tapi mama udah bilang ke pak guru Gito supaya mama ga ikut jadi panitia, tapi maksa mama terus. (pak guru Gito adalah guru kimia, aku mendengar kabar kalo pak guru Gito ini sangat tergila-gila dengan wajah cantik mama, bahkan ingin menikahi mamaku. Jadi aku tau persis kenapa pak guru Gito ingin mama jadi panitia)

A: Si gendut itu yang ngompor-ngompori supaya mama jadi panitia? (perawakan pak guru Gito ini seperti bapak-bapak yang mempunyai perut besar, dan kumis yang tebal)

M: Hush, kamu ga boleh ngomong gitu, gitu-gitu juga masih guru kamu. (ambil remote TV, lalu menyalakan acara TV channel luar negeri)

A: Yaudah sana mama mandi dulu, tuh bau. (pura-pura nutup hidung)

M: Enak aja, masih wangi, nih nih nih. (mengangkat tangan kanan sambil mendekatiku yang ada disamping kanannya)

A: Wleeeeeekkkkk. (jujur saja, entah kenapa mamaku masih wangi tapi ada aroma keringat, saat itu aku tidak bisa menahan nafsu, tapi aku berusaha untuk mengalihkan pikiran kotorku ini, apalagi saat mengangkat tangan kanan, aku melihat dada mama terlihat dari samping yang sangat menonjol yang membuat dada mama terlihat semakin besar, ada cetakan BH dari baju coklat itu, pikiran ku semakin kacau)

M: Ih ngeselin, mama mau ke kamar dulu, mau ganti baju dulu. (beranjak dari sofa lalu menuju ke kamar)

Tinggal aku sendiri yang berada di ruang tamu.

A: Kebiasaan banget sih, udah dia yang nyalain TV, yang nonton gua, hadeuh, Bi tolong buatin es teh dong. (mengeraskan suara agar Bi Imah terdengar)

I: Iya dek. (aku di rumah selalu dipanggil dek, kalau diluar aku dipanggil nama saja)

Aku melihat TV H*BO dimana ada film favorit ku tayang, 3 menit kemudian Bi Imah datang dengan pakaian daster.

I: Nih dek es tehnya. (badan Bi Imah menunduk didepan ku)

A: Iya Bi. (aku melihat agak sedikit terbengong, karena Bi Imah tidak menggunakan BH, terlihat payudaranya dari kerah daster yang lebar, terlihat pula sedikit puting warna coklat. Aku tidak tau persis ukuran BH Bi Imah ini, karena dia selalu menggantugkan BH nya di belakang kamar dia.

Tapi jika aku perkirakan 38B, karena memang terlihat besar ketika dari samping, bahkan pernah aku secara tidak sengaja melihat Bi Imah keluar dari WC dapur selesai mandi, aku lihat handuknya tidak bisa menutup kemolekan tubuh Bi Imah, meski tubuhnya agak gemuk sedikit di bagian pantat dan paha, untuk bagian perutnya tidak terlalu besar tapi juga tidak rata, ya khas ibu-ibu pada umumnya.

Bi Imah ini berumur 40 tahun, mempunyai wajah yang sangat manis dengan kulit putihnya, karena Bi Imah dari yang kudengar adalah sosok bunga desa, dimana suaminya kini bekerja sebagai supir, mempunyai anak tiga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Bi Imah memutuskan untuk bekerja agar dapat membayar sekolah ketiga anaknya. Oleh karena itu mamaku setuju untuk mempekerjakan Bi Imah di keluarga kami)

I: Dek, kamu liatin apa sih? Kok bengong? (membuyarkan lamunanku)

A: Eh, ga kok. Itu filmnya bagus banget. (sedikit berbohong supaya aku tidak ketauan kalau aku melihat payudaranya)

I: Film apa sih? (Bi Imah duduk disampingku dekat)

A: Emang Bi Imah tau filmnya? (aku berusaha memfokuskan mata ku kearah TV, dimana Bi Imah duduk sebelah kanan ku sangat dekat. Memang keluarga kami menganggap Bi Imah bukan ART, akan tetapi saudara bahkan bagian dari keluarga kami, jadi apa yang dilakukan oleh Bi Imah bukan menjadi suatu masalah)

I: Ga tau dek, emangnya itu film tentang apa.

A: Itu tuh film action… (aku menceritakan sinopsis film)

I: Ga paham dek, hahaha (sambil tertawa terbahak-bahak, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan)

A: Dasar, udah cerita panjang-panjang masih aja ga paham, dasar cewe.

Hari minggu telah tiba, aku biasanya turun kebawah untuk nonton TV, karena dikamar ku ga ada kabel TV, adanya TV biasa. Tiba-tiba mamaku muncul dengan seragam senam, meski aku sering lihat mama dengan pakaian senam yang ketat, tapi entah kenapa aku selalu ga bisa nahan nafsu, dimana mataku selalu lihat mama, terutama bagian pantat dan dadanya.

Aku: A
Mama: M

M: Hayoooo… liat apa? (baru keluar dari kamar tidur papa mama)

A: Ga ma, mama cantik banget sih.

M: Hah, gombal aja kamu, kecil-kecil udah belajar gombal.

A: Ga kok ma, serius aku.

Mama pun langsung keluar rumah tanpa memperdulikan aku, dengan membawa tas gym yang aku ga tau isinya apa aja. Aku pun iseng-iseng mengikuti mama sampai ke lapangan perumahan yang berada disebelah blok kami, hanya berbeda 1 blok saja. Aku berhenti dibawah pohon, agar tidak terlihat oleh mama. Disaat senam mau dimulai, bapak-bapak komplek pun ikut datang ke lapangan, ada yang mengantarkan istrinya senam, bahkan ada pula yang hanya ingin melihat ibu-ibu senam. Secara tidak sengaja, ada seorang bapak yang mengobrol dengan temannya, yang posisinya tidak jauh dari aku sembunyi, dan aku pun mendengar percakapan bapak-bapak itu.

Bapak Z: Z

Bapak X: X

Z: Tumben kamu kesini? Istrimu kemana?

X: istriku lagi sakit pak.

Z: Ngapain kamu kesini? Ga nemenin istri kamu sakit?

X: Ada mertua dateng.

Z: hheeemmm…

Suasana pun menjadi hening seketika. Namun bapak X pun memulai percakapan Kembali.

X: Eh pak, liat tuh yang pake baju merah, itu siapa? Kok saya jarang liat ya?

Z: Oh, itu istrinya pak Hendra dia seorang guru. (menyebut nama papaku)

X: Gila, istrinya bisa begitu ya? Bodynya bagus banget, bemper depan sama belakang montok banget.

Z: Makanya tiap minggu saya kesini, kamu lagian kemana aja?

X: Ya maap, kecapean abis kerja hari sabtunya.

Z: Tuh liat, sampe goyang-goyang gitu bolanya. (aku melihat ibu-ibu senam dengan gaya sambil melompat, seketika kontolku pun menjadi keras, melihat mama melompat)

X: Jadi ngaceng saya liatnya, ga tahan sama bolanya, pengen rasanya mau dipegang dari bawah, biar ga jatoh.

Z: Sama saya juga, malahan saya pengen nepok pantatnya.

X: Nama ibu itu siapa?

Z: Namanya bu Sinta guru honorer.

Aku membayangkan mama dengan baju senam, lalu dibawa oleh mereka ke sebuah rumah kosong (memang ditempatku ada banyak rumah kosong untuk dikontrakan namun bisa diakses melalui pintu belakang yang tidak terkunci), mereka lalu memperkosa mama dengan kasar, yang satu remas payudara mama, yang satunya membuka celananya, dibaringkannya mama diatas kardus bekas.

Dibukanya baju senam mama dengan paksa, lalu secara bergantian bapak-bapak itu menyusu mamaku. “aaahhh…. lepp….aass….iinnn…” mama ingin berontak untuk melepaskan dari cengkraman mereka. “sslllluuuurrrppp…” hanya suara itu dan desahan mama yang ada dirumah kosong itu. Lalu mereka membuka paksa baju dan celana mama, yang pada akhirnya mamaku telanjang didepan mereka.

“ibu seksi banget, sayang kalo ga ada yang nikmatin” ucap Bapak X sambil membuka celananya, hingga terlihatlah kontol panjangnya itu. “iya bu, saya aja ga tahan liat ibu” Bapak Z memegang tangan mamaku keatas. “tenang aja bu, ibu pasti akan kami puaskan” kontol Bapak X sudah berada didepan memek mama, lalu Bapak X memasukkan kontolnya kedalam memek mama, “aaaahhhhh…. ppaaaakkk….” mama pun membusungkan dada keatas seiring Bapak X memasukkan kontolnya ke dalam memek mama.

Bapak X mendiamkan kontolnya, dimana kontolnya serasa dipijit oleh daging hangat dan lembap, “memek ibu ternyata masih sempit ya”. Tidak lama kemudian Bapak X menggerakkan pinggulnya maju mundur, diikuti dengan suara desahan mama “aaahhhh…. Ssshhh.. aaahhhh… ssssuuudaahhhh…. paaakkkk…., lalu Bapak Z melepaskan cengkramannya terhadap tangan mama, dikarenakan perlawanan mama menurun.

Bapak Z kembali menyusu ke payudara mama yang besar itu, tangan mama yang tadinya digunakan untuk melawan, tiba-tiba melemah, bahkan mama memegang kepala Bapak Z yang sedang menyusu, “isseeeppp… yangghhh.. kence…nnggg…. aaahhh… aaaahhh….” desah mama. Bapak X pun menggenjot mama dengan ritme cepat dengan memegang pinggang mama, “ppllookkk…pplllookkk…ppllookkk…” ”aaahhhh… enak banget bu memek ibuuuu…. ssshhh….” payudara mama ikut bergoyang keatas dan kebawah seiring dengan ritme genjotan yang diterima oleh mama.

Bapak Z pun melepas mulutnya dari payudara mama, lalu melepaskan celananya. Kontol Bapak Z diarahkan ke mulut mama, yang dimana kontol Bapak Z lebih besar dari Bapak X, “ini bu sarapan lontong saya dulu”. Mama pun membuka mulut lalu menjilati kontol Bapak Z seperti permen, “eeeehhhhh…… mmmmhhh….sssssllluuurrrpppp…..”. “terus bu, ternyata mulut ibu enak juga, apalagi memeknya”. Tidak lama kemudian mama keluar sambil melepas kontol Bapak Z, “aaakkkuuuu…. keellll…uuuuaaarrrr…” mama mengeluarkan cairan yang lumayan banyak.

Bapak X masih mendiamkan kontolnya didalam memek mama yang masih keluar carian yang begitu banyak, “ibu bisa squirt juga rupanya” kontol Bapak X serasa disiram air hangat yang sangat banyak dan jepitan memek mama yang kedutan, “sekarang ibu nungging” Bapak X menyuruh mama. Mama yang terbawa suasana, mau tidak mau menurut perintah Bapak X. Kontol Bapak X langsung menancapkan ke memek mama, dimana mama belum siap dengan serangan dari Bapak X, “aaahhhhssss… paaakkk….” desah mama, Bapak X gemas dengan pantat mama yang besar itu lalu ditampar keras, sehingga membuat pantat mama menjadi warna merah “plaakkk….ayo bu…plaakkkk…digoyang….”, mama yang diperlakukan kasar seperti itu membuat gairah mama naik, dan mama secara tidak langsung menikmati pemerkosaan itu.

Di goyangnya pantat mama membuat Bapak X tidak tahan untuk mengeluarkan sperma yang banyak itu “sayaahh… maaauuu…keluar buuu….”, Bapak X mempercepat ritme goyangannya. “plookkk…plookkk..ploookkk…” dan mama pun juga mau keluar dengan posisi badan keatas, seakan-akan ditarik dari belakang “saya juga pak…”, “saya keluarin didalam ya bu” Bapak X memeluk mama dari belakang memegang payudara mama yang bergantung itu.

“diluarr… paaakkk….. aaaaaahhhhh…” belum lama mama menyuruh Bapak X keluar diluar, Bapak X sudah keluar didalam dan tidak lama setelah Bapak X keluar dilanjutkan orgasme mama, terasa sekali kontol Bapak X seperti dipijat didalam memek mama yang kedutan, dan mama pun merasakan cairan sperma Bapak X yang hangat. Bapak X yang sudah keluar lalu memeluk mama dari belakang, tangan berada di payudara mama, dan kepala Bapak X mencium bibir mama.

Setelah Bapak X keluar spermanya didalam memek mama, Bapak X itu mencabut perlahan dari memek mama. Terlihat cairan cinta mama dan Bapak X keluar mengalir ke paha mama, warna putih dari sperma Bapak X dan warna benging dari carian cinta mama secara bersamaan. Melihat pemandangan mama masih menungging, Bapak Z tidak tahan untuk memasukkan kontolnya kedalam memek mama. “aahhhh…sssuuu…dddaaahhhh….paakkk….ampunnn…” mama memohon untuk beristirahat sejenak, akan tetapi Bapak Z tetap melanjutkan penetrasi ke memek mama, “maaf bu, saya ga tahan liat ibu begini”.

Dimasukkannya kontol Bapak Z sampai mentok, hingga mama merasakan sakit tapi nikmat. Entah berapa lama Bapak Z memperkosa mama secara membabi buta, tidak lama setelah itu mama merasakan ingin keluar dalam waktu 10 menit kemudian “paaaakkk….saaa….yaaa…keelluuaarrrr…”, Bapak Z pun mempercepat goyangannya sambil menarik tangan mama kebelakang. Terlihat mama membusungkan dadanya seperti ingin diperas oleh siapapun yang ada disana. Dan Bapak Z pun keluar dengan tidak bilang ke mama untuk keluar “croott…ccrroottt…”, empat kali semburan sperma Bapak Z keluar didalam memek mama. “hhaannggaattt…..paaakkk…” mama merasakan hangatnya sperma Bapak Z didalam memek mama, dan mama pun sudah pasrah dalam menghadapi situasi pemerkosaan itu.

Aku setelah membayangkan mama diperkosa seperti itu dengan coli dibawah pohon, membuang sperma ku di semak-semak. Rasanya lega sekali hingga lemas, lalu aku menghilangkan bekas sperma ku dengan tanah, supaya tidak ada yang curiga. Setelah aku menghilangkan bekas, aku segera pulang ke rumah, karena waktu senam pun juga sudah selesai.

Sesampainya dirumah, aku melihat Bi Imah sedang mencuci baju untuk dimasukkan kedalam mesin cuci yang ada diruang dapur sambil nungging, melihat pemandangan seperti itu ingin aku tampar pantatnya dan ku remas keras, tapi tidak mungkin melakukan itu, karena takut dibilang ke mama dan papa. Lalu aku menuju ke ruang dapur untuk mengambil segelas air putih, karena aku haus setelah melakukan coli tadi.

Bi Imah: I

Aku: A

Mama: M

I: Abis dari mana dek? Kok kamu keliatan kayak abis lari? (memergoki ku seperti maling)

A: Ga dari mana-mana, aku tadi lari buat ngejar jajan tadi, kenapa sih Bi nanya nya kayak gitu?

I: Ya ga, soalnya kalo kamu lari pagi ga mungkin, aneh aja gitu. Kan kamu masih pake baju biasa, ga pake baju olahraga. Yaudah ah, mau lanjut nyuci dulu.

Sedang asyiknya Aku ngobrol dengan Bi Imah selama kurang lebih 1 jam, mama pun datang dengan penih keringat, terlihat nyeplak BH mama dari luar.

M: Asaalamualaikum.

I dan A: Waalaikumsalam (bersamaan)

A: Kok mama lama banget sih? (Aku masih tidak menaruh curiga kepada mama, hanya sekedar bertanya saja)

M: Kan biasalah, namanya ibu-ibu, abis olahraga kita ngerumpi.

A: Rumpi apa rumpi? (bercanda kepada mama)

M: Rumpi biasa aja kok. (Mama merebahkan badannya di sofa)

A: Ih mamaaaaaa, kan keringetan, baauuuuuu…. (ejek ku)

M: Mama capek dek, mau istirahat sebentar.

Aku yang masih ada didapur pun segera menghampiri mama yang ada diruang tamu untuk duduk disamping mama.

A: Mau aku pijitin ga ma?

M: (mama menjawab hanya geleng-geleng kepala sambil tiduran terlentang)

Aku yang melihat mama disamping dengan posisi itu merasa nafsu akan pakaian yang dikenakan oleh mama ku ini. Bagaimana tidak, besarnya payudara mama terlihat jelas, dan cetakan BH nya pun sangat jelas terlihat dengan garis-garis itu, aku yang mengagumi payudara mama ku melihat BH mama ku seperti tidak muat dengan ukuran yang didalam isi BH itu. Lalu aku iseng melihat kebagian legging yang dikenakan mama, cetakan CD mama terlihat juga, tapi sesaat aku melihat pada bagian CD mama, kok ada yang aneh? Seperti noda basah pada bagiang selangkangan, tapi basahnya hanya ada didaerah itu saja. Apakah mama ku ini benar-benar diperkosa? Apakah hanya pikiran ku saja?

Hari ini aku ada jadwal rutin senam dengan ibu-ibu komplek seperti biasa, meski aku umur ku sudah tidak muda lagi yaitu 38 tahun, namun tubuh ku 10 tahun lebih muda. Aku melakukan senam bukan untuk memamerkan tubuh, akan tetapi menjaga tubuh adalah bagian dari kita mensyukuri nikmat hidup yang diberikan oleh Tuhan. Banyak teman-teman guru disekolah iri melihat badan ku, terutama bapak-bapak guru disana, yang tidak jarang menggodaku bahkan ada yang ingin menikahiku, tentu saja ku menolak permintaan itu karena aku sudah berkeluarga.

Sesampainya dilapangan komplek rumah yang tidak jauh dari rumah ku, hanya berbeda 1 blok saja. Disana sudah ada banyak ibu-ibu yang sudah siap untuk senam, oiya disini yang senam tidak hanya ibu-ibu tua, yang muda pun banyak, maka tidak mengherankan dipinggiran lapangan ini banyak bapak-bapak yang melihat. Aku tidak habis pikir, apakah suami mereka tidak puas akan istrinya?

Bu Darmi (istri pak Bagas): D

Bu Eka (istri pak Jaka): E

Aku: A

D: Ehh bu Sinta, apa kabar ???

E: Ih jarang banget kamu keluar, kemana aja sih? Di grup wa juga gitu, ga pernah bales.

A: Iya maaf, disekolah lagi ngadain acara, jadi sibuk, hehe

D: Bu Sinta sebelah kiri ku sini. (memberi ruang untuk mama)

A: Baik bu, makasih ya. (mama berada di Tengah antara bu Darmi dan bu Eka)

E: Emang acara sekolahnya sampe kapan? Kan kita lama ga kumpul bareng begini.

D: Oiyaya, suami saya selalu aja ngajak keluarga pergi terus, jadi ga bisa ngumpul.

E: Mending gitu, masih bisa kumpul keluarga, suami saya pergi merantau, sekalinya pulang, paling cuma nginep satu minggu, mana saya kurang puas lagi.

A: Masa sih? Saya juga gitu, kebanyakan rapat.

D: Kalo saya sih, hehe, hampir tiap hari dipuasin.

A: Huuuuuu, sombooong.

E: Tau nih, sombong banget jadi orang. (dengan gaya ala meme yang beredar)

Kami semua tertawa dengan logat yang diucapkan oleh bu Eka. Tidak lama kemudian acara senam dimulai, hingga 1 jam lamanya. Setelah itu aku berpamitan dengan bu Darmi dan bu Eka. Niat awal ingin membeli bubur ayam didepan komplek, lumayan agak jauh memang tukang buburnya, tapi gapapa lah itung-itung olahraga lagi. Oiya pagi hari ini didepan komplek ini lumayan sepi, biasanya rame karena acara CFD, tapi kok ini malah sepi begini ? Apa mungkin lagi pergi kali ya, paling 1-2 orang yang lalu lalang. Ditengah jalan aku melihat seorang anak dengan membawa dagangannya itu didepan ruko kosong, aku memperkirakan kalau umur anak ini dibawahnya dari umur anak ku yang kedua, lalu aku menghampirinya.

Aku: A

Anak Jalanan: AJ

A: Dek, kamu jualan apa? (mama menunduk karena posisi dia lebih pendek dari mama)

AJ: (diam melihat belahan payudara mama meski sedikit yang terlihat karena tertutup oleh jilbab mama)

A: Dek. (membuyarkan lamunan dengan melambaikan tangan didepan anak itu)

AJ: Ehhh iyaa buuu, maaf.. (menunduk malu)

A: Jangan panggil bu dong, tante aja. Kamu jualan apa ini? (melihat dagangan yang dibawa oleh anak itu)

AJ: Iiiyaa… buu.. eh… tante. Ini aku jual donat goreng. (membuka plastik untuk dikeluarkan isi dagangan itu)

A: Tante mau beli dong, beli sepuluh donat ya.

AJ: Baik bu. (seketika anak itu menjadi semangat dan tersenyum puas akan dagangannya)

Aku menjadi tersentuh ketika anak ini tersenyum, karena dengan apa yang aku lakukan, setidaknya aku bisa membahagiakan orang lain, meski nilainya tidak seberapa. Disaat yang bersamaan, aku menintrogasi anak ini lebih lanjut, kadang rasa kepo ku tinggi ketika ada orang lain susah, rasanya ingin membantunya.

A: Kamu jualan donat ini sejak kapan dek? (mama duduk sejajar sebelah kiri dengan si anak ini)

AJ: Maaf tante, aku jualan dari kecil, karena aku di asuh diyayasan. Karena aku dibuang sama ibu kandung ku tante.

Mendengar ucapan seperti itu, aku secara otomatis menangis dan ingin ku jadikan sebagai anak angkat. Tapi untuk mengadopsi anak tidak semudah itu, harus ada banyak pertimbangan dan hukum.

A: Maaf ya nak, tante nangis. (mama mengusap air mata dengan tisu yang ada di tas mama)

AJ: Gapapa tante, aku udah biasa kok, hehe. (anak ini tersenyum kepada mama, agar anak ini memberikan pesan kepada mama, kalau aku ini kuat, aku ga selemah itu)

A: Boleh tante peluk?

AJ: Eeee.. emang boleh tante? (anak ini seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mama)

A: Boleh kok, sini duduknya agak deketan. (mama mebentangkan tangan untuk mempersilahkan anak itu berpelukan, anak itu pun menggeser dagangannya ke belakang)

AJ: Maaf ya tante, aku izin peluk.

A: Ga perlu izin, udah cepetan sini.

AJ: Baik tante. (berpelukan seperti anak dan mama, dimana posisi kepalanya berada di payudara mama, dan tangan anak ini berada di punggung mama)

Aku yang merasa iba dengan anak ini, mengelus kepalanya. Seakan-akan dia adalah anak ku. Setelah 5 menit kemudian, aku melepaskan pelukan.

A: Oiya, nama kamu siapa?

AJ: Nama ku Zaki tante, kalo tante namanya siapa?

A: Sinta, panggil aja tante Sinta. Kamu kan dari yayasan, berarti kamu dari kecil belum pernah sama sekali ketemu sama mama kamu?

Z: Belum tante, juju raja tante, itu tadi pelukan pertama saya, bahkan asi pun saya belum pernah tante.

A: Ya ampun. (mama menjadi tambah sedih karena zaki tidak pernah merasakan kehangatan kasih sayang dari orang tua kandung, tiba-tiba mama terbesit ide yang menurutnya dapat mengobati rasa kasih sayang orang tua)

A: Yaudah, kamu anggap tante ini mama kamu, supaya kamu lebih semangat dan tidak menyerah.

Z: Beneran tante? (dengan wajah tersenyum lebar)

A: Iya beneran, tapi kita pindah dulu, jangan disini, ga enak diliat orang, eeemmmm, yaudah, kamu ikut tante.

Z: Baik tante. (berjalan dibelakang mengikuti mama, melihat pantat mama yang besar kekiri dan kekanan, meski anak ini terlihat seperti anak kecil, akan tetapi didalam otaknya seperti orang dewasa)

Aku dan zaki pindah ke belakang ruko bagian sela-sela bangunan antara ruko dengan dinding yang tinggi. Sesampainya di tempat yang menurutku tidak terlihat oleh orang lain.

A: Dah sini aja. (mama menaruh tas gym disampingnya, begitu pula zaki)

Z: Terus kita ngapain tante?

A: Ya peluk, kalo tadi kita pelukan didepan, ga enak diliat orang nanti.

Z: Baik tante, aku peluk ya.

A: Kamu panggil tante mama gapapa, anggap aku ini mama mu.

Z: Iya ma. (zaki memeluk mama tanpa adanya rasa sungkan dan merasa sangat nyaman, karena kepalanya yang berada dipayudara mama yang empuk itu)

Aku memeluk zaki seperti aku memeluk anak sendiri, mengelus kepalanya hingga mencium keningnya. Setelah sepuluh menit kemudian, tiba-tiba zaki melepaskan pelukan.

Z: Ma, aku mau nyusu boleh ga?

A: Hah? Kok kamu gitu? (mama sedikit kaget atas permintaan zaki, pasalnya mama hanya membantu zaki hanya sebatas pelukan, tidak lebih dari itu)

Z: Yaudah kalo ga mau, aku mau pergi, mau dagang donat lagi. (sudah mau ambil dagangannya, lalu mama langsung mencegahnya dengan memegang tangannya)

A: Jangan pergi dong, yaudah iya iya, tapi kamu jangan bilang kesiapa pun ya. (akhirnya mama mengalah)

Permintaan zaki ini membuat ku menjadi bimbang, karena ditempat ku tinggal, aku dikenal sebagai istri yang tertutup, dan alim. Tapi karena aku ga tega dengannya, karena aku tau kondisi dia dulu bagaimana, mau ga mau aku menuruti permintaan dia.

Z: Iya ma. (mengganggukkan kepala)

A: Sebentar ya, mama mau angkat baju dulu. Dah, segini aja ya. (mengangkat baju senam mama hanya sebatas diatas payudara mama)

Z: Di lepas aja sekalian ma sama BH nya juga, biar ga ribet.

A: Kamu ini permintaannya ada-ada aja. (mama terpaksa mengikuti kemauan zaki, karena meras iba)

Aku malu setengah mati, karena aku melepaskan baju dan BH didepan yang bukan suami ku. Setelah aku telanjang dada, aku menutupi payudara ku dengan kedua tangan ku.

Z: Ga usah ditutupin ma, masih keliatan jelas itu tete mama, mana ga muat lagi. Mama niat mau jadi pengganti mama kandung ku ga sih?

A: Iii…iyaa… tapi mama masih malu, tapi janji cuma nyusu aja ya?. (perlahan tangan mama turun, dan jelas terlihat payudara mama yang agak kendor kebawah sedikit, tapi juga tidak terlalu kencang, jadi bentuk payudara mama wajar seperti itu dikarenakan gaya gravitasi, dimana benda berat akan menuju kebawah, apalagi ukuran payudara mama termasuk besar, jadi pasti agak kendor sedikit)

Z: Iya ma, aku janji.

A: Sini nak, nyusu ke mama. (dengan posisi masih berdiri didepan zaki, dimana kepala zaki sejajar dengan payudara mama, jadinya tidak perlu repot-repot untuk zaki nyusu, dan zaki pun mulai mendekati mama seperti halnya pelukan, namun kali ini mulut zaki sudah menghisap puting payudara mama).

Aku memegang payudara ku dari bawa dan ku busungkan agar zaki dapat nyusu lebih leluasa.

A: Sssshhh…. aaaahhh… (mama mendesah pelan, agar tidak terdengar oleh zaki)

Z: Ccrreeeppp…ccreeepp (seperti bayi yang haus akan asi dari mamanya)

A: Pelan-pelan sayang…. nnngghhh… (tangan kanan mama meremas kepala zaki yang berada di payudara kanan mama, sungguh pemandangan yang sangat kontras dimana badan mama yang terawat serta putih dan payudaranya yang besar itu sedang menyusui sambil berdiri, sedangkan zaki seorang anak jalanan yang memakai baju kumuh serta warna kulit coklat gelap berbadan pendek sedang menyusu kepada bidadari yang tingginya melebihi tinggi sang anak jalanan)

Rasa geli ini mulai aku dapatkan kembali, setelah sekian lama suamiku pergi keluar kota selama 1 bulan yang lalu, namun rasa yang aku dapatkan bukanlah dari suami sah ku, akan tetapi anak orang yang tidak tau asal-usulnya. Aku berusaha untuk menahan desahan ku dengan menutup mulut memakai tangan, akan tetapi semua itu sia-sia, tubuhku bagian paling sensitif adalah payudara ku. Didalam memekku menjadi berkedut dengan kencang dan cairan cintaku mengalir ke paha. Zaki menyusu kepada ku selama 15 menit dan aku menikmati itu hingga aku orgasme.

A: Aaaahhhh…zaaakiiiii….isep yang kenceng nak…mmmhhh….sshhhh…. (mama menjadi lupa diri, bahwa mama sedang menyusui anak jalanan ditempat umum, dimana resiko ketauan oleh warga bahkan tetangga lebih besar)

Z: Mmmhhhh……cccrreeeepp….cccrrreeeppp…..ssssslllluuurrppttt….mmmhhh…(tangan Zaki satunya memeras payudara mama sebelahnya, sambil memelintir, mencubit, bahkan menarik pentilnya hingga mama ikut terdorong ke depan)

A: Aaaaahhhh…aahhh…aaahhh….(mama orgasme dan mengeluarkan cairan cinta mama hingga empat kali)

Z: Pppuuahhhh… mama gapapa? (Zaki bertanya kepada mama dengan pura-pura polos)

A: Gapapa nak, hosh hosh hosh (sambil mengatur napas seperti orang yang sedang lari marathon)

Z: Terimakasih ya tante, Zaki bisa merasakan rasanya kasih sayang mama. (sambil bersiap-siap untuk kembali berjualan)

A: Tunggu Zaki. (mama menahan tangan Zaki)

Setelah sekian lama, aku merasa lega akan orgasmeku, meski bukan dari suami, tapi aku puas. Dan aku akan memberikan hadiah terakhir kepadanya karena sudah membuatku orgasme yang sudah terbendung.

Z: Ada apa tante? Mmmppphhhh….sssrrreepppp…ooommpphhh…. (mama mencium bibir Zaki dengan membungkuk dan menahan kepala zaki dengan memegang pipi kiri dan kanan)

A: Oommmppphh….mmmppphhh….aaaammpphhh…sssrrreeeppp…. (lidah mama bermain didalam mulut Zaki, begitu pula Zaki memainkan lidahnya didalam mulut mama. Dua menit mereka berciuman, akhirnya mama melepaskan ciumannya)

A: Makasih juga ya nak, kamu buat tante senang. (tersenyum manis kepada Zaki, masih dengan bertelanjang dada)

Z: iii…iiiyyaa…sama-sama tante… (tertunduk malu)

Z: Aaa.. aku mau… jualan dulu ya tante. (langsung meninggalkan mama)

A: Iya zaki. (sambil memakai baju senam dan BH mama)

Akhirnya aku seperti lahir kembali, tapi kok tadi ada yang janggal ya, oiya, aku lupa kasih uang ke zaki. Sudahlah, kapan-kapan lagi jika aku bertemu dengan Zaki, semoga kita bertemu kembali ya Zaki, maaf tante lupa kasih uang donatnya. Sesampainya dirumah, aku melihat Andi dan Bi Imah sedang ngobrol biasa, rasa lelahku membuatku lemas dan ingin merebahkan badanku diatas sofa. Andi yang menawarkan diri ingin memijat, aku tolak dengan hanya menggelengkan kepala, karena saking lemesnya setelah lama aku tidak orgasme.

Kira-kira siapa lagi korban yang bisa menikmati mama berikutnya?

Hari yang paling tidak aku tunggu, masuk pagi buat ku selalu mengantuk saat jam Pelajaran. Seperti hari biasa, aku berangkat bersama mama menggunakan mobil menuju sekolah. Setelah berpisah pada mama, aku berlari menuju kelas karena takut telat, lalu aku berpapasan dengan pak Gito.

Pak guru Gito: PG

Aku: A

PG: Ga usah lari-lari, jam pelajaran belom mulai. (berjalan menuju parkiran)

A: Iya pak. (salim kepada pak guru Gito)

Saat aku berjalan menuju kelas, aku tengok kebelakang dimana pak guru Gito sedang menuju mobil. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan, masa bodo, karena jika aku telat kelas yang ada nanti aku kena skors lagi dari guru killer ini.
Skip.

Jam istirahat pun berbunyi, aku berencana menuju ke kantin untuk makan siang bersama teman ku si Badu.

Aku: A

Badu: B

A: Jajan apa nih yang enak? Duit gua cuma ada sisa 20 ribu doang. (berjalan menuju kantin)

B: Ah lu, sana minta ke nyokap lu.

Setelah sampai di kantin, aku pun meninggalkan badu untuk menuju ke ruang guru. Sesampainya di ruang guru, aku tidak melihat adanya mama dimeja mama, diruang guru hanya ada 5 orang, meski ada yang ku kenal, tapi aku malas untuk bertanya, apalagi masuk ke ruang guru, pasti diajak ngobrol lama. Akhirnya aku memutuskan mencari mama sendiri, saat ku lewati WC khusus guru, ada suara aneh seperti orang ciuman.

Aku menjadi ingin tahu, siapa yang berani berciuman di WC sekolah, ku cari titik celah agar dapat melihat siapa yang ada didalam, akhirnya aku menemukan ventilasi kecil yang berada di belakang WC itu, aku memanjat untuk dapat mengintip didalam. Terlihat pak Gito berciuman dengan seorang wanita, aku tidak tahu persis siapa karena pakaian guru semuanya berseragam, jadi susah untuk membedakan, apalagi aku tidak leluasa melihat wanita itu. Aku memutuskan untuk berhenti mengintip, lalu melanjutkan mencari mama. Setelah aku mengelilingi sekolah, aku kembali ke ruang guru dan aku melihat mama ada di meja mama. Aku masuk ke ruang guru untuk meminta uang jajan karena kurang.

Aku: A

Mama: M

A: Mama darimana sih? Tadi dedek cari ga ada?

M: Mama tadi abis keluar beli jajan sayang, kamu ngapain ke sini? tumben.

A: Minta uang jajan lagi ma, kurang ini. (menjulurkan tangan ke mama seperti orang yang meminta)

M: Mau berapa? (mengambil domper yang ada di tas mama)

A: 50 ribu kalo ada.

M: ih banyak amat? Kamu mau beli jajan apa sih?

A: Ya buat makan sama minum lah, masa dedek makan doang? Trus minumnya apa?

M: Yaudah nih nih nih, awas kalo kamu jajan yang ga ga. (kasih uang diatas tangan ku dengan nada suara rada kesal)

A: Emang dedek jajan apaan? Yaudah, makasih ya ma. (sambil memperhatikan penampilan mama)

Sepertinya keadaan mama tidak ada yang berubah, wangi parfum pun masih semerbak, dandanan mama rapih, sepertinya memang bukan mama yang ciuman dengan pak Gito. Kecurigaan ku memudar terhadap mama, lalu aku menuju kantin untuk makan dengan Badu.
Skip.

Setelah jam pelajaran selesai, aku mengajak Badu ke rumah untuk bermain game, Badu mengiyakan ajakan ku. Badu adalah orang yang pintar disekolah, sering sekali aku meminta bantuan untuk mengerjakan PR. Dia dari keluarga yang bisa dibilang pas-pasan, bahkan jika ingin pergi ke sekolah kadang dia jalan kaki, menggunakan sepeda, atau naik angkot, itu pun kalo dia ada uang. Badu adalah anak ke 3 dari 3 bersaudara, bapaknya Badu hanyalah seorang buruh kuli, sedangkan ibu nya hanya berjualan sayur dipasar. Untungnya dia mendapatkan beasiswa dari pemerintah, jadi uang yang tadinya dibuat untuk naik angkot, dia bisa beli makan atau minum dikantin.

Untuk perawakan Badu, dia memiliki wajah yang tidak ganteng, warna kulit coklat gelap karena dia selalu membantu ibunya dipasar, untuk tinggi badannya lumayan agak tinggi diatas 5 cm dari aku.

Aku: A

Badu: B

A: Ke rumah gua yuk, kita main PS. Mau ga lu?

B: Emang boleh?

A: Boleh lah, kok lu nanya gitu?

B: Kan lu tau sendiri gua kayak gimana.

A: Lu itu sohib gua, gua ga memandang lu dari apapun. Udah tenang aja, nanti barengan sama nyokap gua.

B: Yaudah deh, makasih ya udah bolehin gua maen ke rumah lu.

A: Santai. Yuk!

Sesampainya di parkiran aku tidak melihat mama, aku memutuskan untuk memanggil mama.

Aku: A

Badu: B

Mama: M

A: Ma, dimana? Dedek udah di parkiran.

M: … (diam tanpa kata)

A: Ma, haalooo…. Haaalooo… lagi dimana?

M: Lagi beresin buat laporan buat acara sekolahan, sebentar ya dek.

A: Yaudah, aku tunggu di perkiran mobil.

Setelah 20 menit kemudian, mama muncul dari ruang guru dengan roknya yang agak berantakan seperti kusut.

A: Ma, aku ngajak badu ke rumah boleh ga? Mau maen ps

M: Ooo, kamu yang namanya Badu?

B: Iya tante. (salim ke mama)

M: Makasih ya udah bantu anak ibu, maaf ngerepotin kamu.

B: Gapapa tante, aku ga keberatan juga kok.

M: Yaudah, yuk masuk.

Aku memutuskan duduk dikursi belakang, sedangkan Badu dan Mama berada dikursi depan. Karena hari ini banyak jam pelajaran yang membuat ku lelah, akhirnya aku tidur. Sekitar 15 menit, aku dibangunkan oleh Badu karena sudah sampai depan rumah. Aku turun duluan untuk membuka pagar rumah, melihat Badu dan mama tertawa bersama dari kaca depan mobil, aku menjadi senang karena mama ku orangnya susah untuk diajak tertawa.

Saat Badu dan mama turun dari mobil secara bersamaan, kulihat jilbab yang dikenakan oleh mama terlihat agak ke atas yang dililitkan ke samping leher, terlihat jelas payudara mama yang tercetak dari baju coklat mama. Ah mungkin mama sedang kegerahan.

Aku dan Badu menuju kamarku yang berada dilantai 2, sedangkan mama menuju ke kamar mama. Tapi aku tidak melihat Bi Imah, aku berpikir palingan Bi Imah tidur di kamar, Bi Imah kalau sudah tidak ada kerjaan, pasti dia memutuskan untuk tidur, karena lelah akan banyak kerjaan yang dia lakukan.

kira-kira mama dan badu saat perjalanan menuju ke rumah ngapain aja ya? kita liat kelanjutan ceritanya

Mohon kritik dan sarannya suhu, terimakasih.
PART 4

Sedikit flashback dicerita sebelumnya.

Setelah kami sampai dirumah, mama seperti biasa menggunakan tanktop yang digunakan tadi siang sambil tiduran nonton TV. Dengan posisi favorit mama menyamping ke kanan, payudara mama seperti mau tumpah seperti buah papaya muda. Aku yang duduk disebelah kanannya mama, terlihat pentil mama yang tercetak, bahwa mama tidak memakai BH. Ada terlintas dipikiranku yang jorok ini, tapi aku tahan, takut mama marah dan bisa-bisa aku diusir dari rumah. Tapi entah kenapa tiba-tiba mulutku berkata.

A: Ma, aku boleh minta sesuatu ga? (sedikit gugup)

M: Mau minta apa?

A: Eeeee… tapi pasti mama jangan marah ya.

M: Mau apa?

A: Aaaa…. aku mau nenen, boleh ga?

M: Kenapa kamu minta itu? Kan dulu kecil udah pernah.

A: Hehehe, kan waktu kecil ga tau ma rasanya.

M: Ga ah, kamu udah besar, ga boleh ya sayang. Lagian mama udah ga keluar susunya, emang kamu mau isep apa?

A: Masa ga keluar lagi? (nanya sok-sok polos)

M: Susu itu akan keluar kalo si ibunya telah melahirkan.

A: Yaudah mama hamil, biar aku bisa minum susu, hehe…

M: Mama ga mau hamil lagi, udah cukup. Emangnya kamu kira enak hamil itu?

A: Yahh, yaudah deh. (muka sedikit kecewa)

M: Maaf ya dek. (tiba-tiba peluk Andi)

A: eehhhh, iya ma. (bales pelukan mama)

Begitu terasa daging empuk mama didepan wajah ku, harumnya membuat ku ingin berlama-lama dipelukan mama, aku merasakan hangatnya kasih seorang ibu kepada anaknya, beruntung sekali hidup ku. Tanpa adanya penolakan ketika tangan ku yang ada dipunggung mama, aku merasa dipunggung mama tidak adanya kaitan BH yang terpasang.

Sesaat aku sadar mama tidak memakai BH, kulihat didepan mataku persis pentil mama yang sudah tegang, akan tetapi aku tidak bisa berbuat jauh, padahal sudah ada pentil mama yang jelas terlihat, namun badan ini tidak bisa bergerak bebas karena aku takut dimarahi mama, dan bisa dilaporkan ke papa. Akhirnya aku hanya bisa berpelukan dengan mama, tapi aku tidak menolak, karena hanya dengan pelukan saja aku sudah bisa merasakan empuknya dada mama, tanpa harus membuka baju mama. Aku menikmati pelukan ini selama 15 menit, hingga akhirnya mama menyadarkan ku yang hampir tidur dalam dekapan hangat mama.

M: Dek, kamu tidur?

A: Eh iya ma, maaf ma tadi aku ketiduran, hehe, abisnya enak dan nyaman banget pelukan mama. (melepas pelukan mama)

M: Mau mama peluk lagi?

A: Mau lah ma.

M: Besok aja ya, mama mau tidur, besok mama ada acara.

A: Acara apa? Kan besok mama libur.

M: Kebersihan sekolah tingkat kota.

A: Jam berapa mama ke sekolah?

M: Pagi jam 9.

A: Yaudah deh.

M: Maaf ya sayang. Mmuuaahhh (cium kening Andi)

A: Iya ma gapapa.

Keesokan harinya mama sudah bersiap-siap pergi ke sekolah, terlihat mama memakai setelan atas berwarna hitam, bawahan berwarna coklat, dan jilbabnya berwarna cream. Namun aku tidak fokus pada bagian dada mama yang terlihat besar, meski memakai jilbab. Lekukan tubuh mama sungguh menggoda, lelaki manapun jika bertemu dengan mama, aku yakin mereka akan merasakan yang aku rasakan, ingin rasanya kupeluk dari belakang.

M: Andi, mama mau berangkat dulu ya.

A: Pulang jam berapa ma?

M: Ga tau, nanti mama kabarin, kamu mau nitip apa?

A: Es kelapa aja deh ma, lama aku ga minum es kelapa.

M: Itu aja?

A: Iya.

Skip.

Sepeninggalan mama, aku menghabiskan waktu dengan menghibur diri bermain PS hingga sore hari, setelah itu aku merasakan perutku belum terisi saat siang hari, aku memutuskan untuk dapur untuk mengambil makanan yang ada disana. Namun saat ku lihat didapur, yang kulihat hanya buah dan aneka snack yang masih belum bisa meredakan rasa laparku. Kuputuskan mengambil jajanan itu sambil menonton TV. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 7 malam, hingga akhirnya aku ingin menghubungi mama.

Ttttuuuuuutttt….. Ttttuuuuuuuttttt….. (Call didn’t answer)

Ttttuuuuuutttt….. Ttttuuuuuuuttttt….. (Aku call untuk kedua kalinya)

Telp terangkat tapi tidak adanya suara.

A: Haloooo, maaa….

M: …..

A: Halllooooo…. Ngapain aja sih?

M: Nnngghhh… (suara pertama yang terdengar oleh Andi)

A: Hallo, mama ngapain? Ini aku udah laper