angin dan hujan

BOSKITA Cerita Pendek Tentang Angin dan Senyum dikala Hujan – Aku sedang berada ditempat dimana semua akan kembali, tempat dimana semua akan pulang dan tempat dimana semua akan menuju akhir.
Aku disini berdiri kaku disebuah pusara yang baru saja ditempati dirinya
Aku, masih disini terdiam sepi melihat kayu yang mengukir namanya untuk selamanya.
Dan Aku masih tak beranjak dari sini walau alam terlihat pekat.

Angin pun berhembus cukup kencang untuk menerbangkan sekelompok kelopak bunga yang menghiasi tempat dia dibaringkan.

angin dan hujan
Ilustrasi gambar

Ya, aku sedang berada di pemakaman.

Tempat dimana terburai nya rasa ku
Tempat dimana hancur nya catatan mimpi ku
Di Tempat dimana tenggelam nya harapan dan khayal ku.
Tempat dimana aku ingin menangis! Tidak! Aku tak boleh menangis. Dia benci lelaki yang menangis, bukankah aku juga sudah berjanji untuk tak menangis?!.

Tapi sesak sekali dada ini, kontrol untuk membendung air mata pun seperti tak berjalan baik.
Siaallll aku harus kuat aku sudah berjanji pada nya untuk tak menangis
“Berjanjilah untuk tak menangis karena aku benci lelaki cengeng” terniang kembali tentang ucpannya waktu itu.
“Janji?? Sambil dia mengacungkan jari kelingking nya
Hmm, Janji ucap ku sambil mengikat jari kelingking ku dengan jari kelingking nya”

Ku pun coba untuk mengatur nafas agar mengontrol sesak yang berat ini, mengatur agar air mata ini tak mengalir.
Siaaall, semakin ditahan semakin itu pula aku ingin menangis. Hingga suara itumenyadarkan ku

“Bro, balik yuk?? Udah lama kita disini lihat yang lain udah pada balik, lagipula udah mau hujan bro” ucap Riko sahabat termasuk rival ku yang akan ku ceritakan lain kali.

Aku hanya melirik sedikit kebelakang dan aku pun menatap ke langit. Iya langit yang hitam pekat.

“TESS” setetes butir hujan mengenai pipi ku disertai dengan tetesan lain yang semakin banyak, aku pun memejamkan mataku untuk merasakan butiran butiran hujan.

Bukankah dia senang akan hujan??
Benar, dia suka sekali dengan hujan. “Hujan itu anugerah yang luar biasa” teringat kembali aku dengan ucapannya.

Senyumnya yang selalu menghiasi saat hujan.
ceria nya yang selalu terukir jelas
Semakin membuat ku tak kuat menahan air mataku.

Ku coba untuk membuka mataku dan melihat betapa deras nya air yang turun.
Semakin lama tetesan air ini seolah olah membentuk siluet seseorang gadis ya dia adalah “Destriana pratiwi” orang yang membuat ku mati-matian buat tak menangis.

Makin lama butiran hujan itu seolah-olah membentuk siluet wajah Destriana dan tersenyum kepadaku

“Kamu udah janji loh buat gak menangis” terdengar sebuah suara yang amat kukenal dan kurindukan.

Aku pun tak kuat untuk mengontrol laju deras air mataku

“Kamu masih inget kan sama janji itu?” Ucapnya lagi
Aku hanya mengangguk tak kuat untuk bicara
“Aku Benci tau sama cowok yang menangis”
dan “Aku gak menangis tau, ini hanya air hujan yang membasahi mata ku” ucap ku berbohong sambil tersesak
Dan kulihat destri pun tersenyum.
“Kamu tahu kan kalo aku suka hujan soalnya hanya hujan yang dapat menghubungkan Langit dan Bumi yang tak dapat terhubung”
Aku hanya mengangguk semakin sesak tangis ku