Ustadzah Rahma

Ceramah Ustadzah Rahma Tentang Pacaran dan Maksiat Part 1 BOSKITA. “Jadi Ukhti, Hindarilah Pacaran. Karena hanya mendekatkan diri kepada kemaksiatan”, ujar seorang Ustadzah bercadar yang saat ini sedang mengisi kajian yang kuhadiri

Aku yang begitu antusias mendengarkan ceramah dari Ustadzah Rahma begitu khusyuk mendengarkan setiap kata demi kata yang diucapkannya. Ustadzah Rahma adalah panutanku, setiap perkataannya selalu kujadikan pondasi dalam melewati keseharianku. Walau ia bercadar, aku tahu betapa cantiknya wajah dibalik cadarnya. Sinar matanya amatlah meneduhkan, membuat siapa yang memandangnya akan terbuai dengan keindahan yang ada padanya.

“Lalu solusinya apa ustadzah?”, tanya seorang akhwat berkacamata tak kalah antusias

“Solusi terbaik adalah dengan jalan proses ta’aruf. Proses ini akan menjaga martabat anti sebagai seorang akhwat. Tapi inget pacaran beda ya dengan ta’aruf”, kata Ustadzah Rahma dengan serius

“Bedanya apa Ustadzah?”, kali ini seorang akhwat berkerudung ungu yang duduk beberapa jarak di sebelah kananku bertanya.

Ustadzah Rahma
Ilustrasi Gambar

“Banyak sekali, yang pertama tujuan ta’aruf jelas. Mereka yang berta’aruf jelas serius menuju proses pernikahan. Berbeda dengan pacaran yang sebagian besar jalanin aja dulu, syukur-syukur kalau cocok. Lalu, ta’aruf juga alangkah baiknya tidak lama-lama prosesnya. Berbeda dengan pacaran yang tidak jelas kapan akan menikahi. Kemudian yang terpenting, di taaruf jelas kita tidak diperbolehkan berdua-duaan dengan lawan jenis, dan yang pasti itulah mengapa taaruf akan menjaga kita dari maksiat”, kata Ustadzah Rahma panjang lebar

Kembali aku menganggukkan kepala mencerna tiap perkataan Ustadzah Rahma. Lalu dalam hati aku sedikit menyesali dririku yang dulu. Saat aku belum berhijrah dan aktif mengikuti kajian-kajian seperti saat ini. Beberapa kali aku berpacaran dan itu kulakukan sejak masih SMA, dan terakhir aku berpacaran adalah saat aku kuliah semester dua, aku menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang seangkatan denganku namun beda fakultas. Karena beberapa hal yang aku dan dia tidak cocok lalu kami pun memutuskan hubungan kami beberapa bulan kemudian.

Dari kandasnya hubungan kami itulah, aku memutuskan untuk rehat sejenak dari urusan percintaan. Aku memutuskan untuk memperbaiki diriku lebih dahulu. Mungkin ada yang salah dengan apa yang telah kuperbuat selama ini, pikirku kala itu. Dengan jalan hijrah inilah, aku perlahan mulai merubah sikap maupun cara berpakaianku. Aku yang dulu begitu dekat dan memiliki beberapa teman cowok, perlahan-lahan mulai kujaga jarak dengan mereka. Dulu yang akunya berhijab namun masih memakai celana jeans ketat, perlahan kugantikan dengan sebuah gamis panjang yang tidak membentuk lekuk tubuhku. Bahkan saat ini aku pun telah mantab memutuskan bercadar untuk menjaga pandangan ikhwan yang terkadang suka curi-curi pandang ke wajahku.

Awalnya, jelas orangtuaku menentang perubahanku yang cukup drastis ini. Wajar saja, mereka takut aku ikut aliran macam-macam saat memutuskan bercadar. Hehehe.. Tetapi setelah kujelaskan, barulah mereka memahami dan akhirnya mendukungku untuk berhijrah. Toh basic kedua orangtuaku juga dari golongan keluarga religius, pasti mereka bisa mengerti dengan keputusanku mengenakan cadar.

Hingga diusiaku yang sudah menginjak 21 tahun ini, aku terus bersibuk memperdalam ilmu agama dan istiqomah dalam menjaga diri, sampai-sampai aku tidak sempat memikirkan ikhwan yang akan menjadi suamiku kelak. Walau banyak yang mengajukan Curriculum Vitae atau biodata kepadaku untuk mengajak taaruf, tetapi selalu kutolak dengan halus. Bukannya sombong, aku hanya belum berniat menikah dulu hingga aku menuntaskan kuliahku.

Namun diantara ikhwan-ikhwan yang mengajukan CV kepadaku. Ada satu ikhwan yang menarik perhatianku. Namanya Aldy. Dia ikhwan yang cukup tampan menurutku. Beberapa kali aku juga melihatnya menghadiri beberapa kajian yang diselenggarakan di kotaku. Tetapi aku masih mencoba teguh pada pendirianku untuk tidak bertaaruf terlebih dahulu saat ini hingga aku menyelesaikan kuliahku. Aku hanya berdoa, jika memang ia jodohku, maka pasti kami akan disatukan diwaktu yang tepat.

“Ada pertanyaan lagi? Jika tidak ada akan ana akhiri pertemuan kali ini…”, kata Ustadzah Rahma mengejutkan lamunanku

“Ustadzah.. Afwan.. Ana beberapa kali menolak CV dari ikhwan yang mengajak taaruf dengan alasan ingin menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Namun sebenarnya kalau boleh jujur, ada 1 ikhwan yang menarik perhatian ana. Bagaimana ana harus bersikap Ust?”, tanyaku sekaligus curhat

“Anti terima dulu CV ikhwan yang anti sreg dan yakin dia akan menjadi imam yang terbaik bagi anti. Berproses taaruf lah jika anti ingin menikah dengannya. Anti bisa jajaki dulu ikhwan tersebut bagaimana. Saat taaruf itulah anti bisa tahu apakah anti merasa cocok atau tidak dengannya. Kalau menurut ana tidak ada masalah menikah walau masih kuliah. Itu kalau menurut ana loh anti. Hehehe.. Tapi kalau anti ada pertimbangan lain ya silakan dipikirkan baik-baik”

“Begitu ya ustadzah.. Syukron atas jawabannya Ustadzah…”, jawabku sambil menganggukkan kepala

Beberapa poin memang aku setuju dengan pendapat Ustadzah Rahma. Tetapi tetap saja ada yang mengganjal dalam benakku. Aku takut akan susah fokus jika menikah dalam kondisi belum tamat kuliah. Apalagi jika tiba saatnya aku diberikan buah hati hasil dari pernikahanku dengan Mas Aldy, tentu kuliahku akan semakin terbengkalai. Jadi mungkin aku akan membuka sedikit kesempatan kepada Mas Aldy sekaligus menceritakan kepadanya aku akan fokus kuliah dulu sebelum menikah. Jadi keputusan nanti ada ditangannya. Mau menungguku selesai kuliah, atau mencari calon istri yang lain.

“Sudah ya? Ana akhiri kajian kali ini karena hari sudah malam… Jadi demikian kajian kali ini ana akhiri… Wassalamu’alaikum wr wb..”, Ustadzah Rahma mengakhiri kajian malam ini

Kulihat jam di tanganku, tanpa terasa sudah pukul 21.20. Sungguh mengikuti kajian Ustadzah Rahma benar-benar tidak terasa waktu cepat berlalu. Pembahasan kajiannya selalu tentang generasi muda yang selalu ngena. Tidak salah setiap kajian yang diisi Ustadzah Rahma selalu ramai.

Setelah membereskan semua barang-barangku, Akupun berjalan perlahan menuju tempat parkiran motor sambil mengingat di sisi mana motorku aku parkirkan. Suasana gelap parkiran motor sedikit menyulitkanku untuk menemukan posisi motorku berada saat ini. Aku menoleh ke kiri dan kekanan, mencari-cari sepeda motor matic berwarna hitam yang biasa kupakai menemani segala aktivitasku sehari-hari

“Ukhti Arina….”, tiba-tiba kudengar suara seseorang memanggilku

Aku pun menoleh ke belakang, memastikan siapa yang memanggil namaku. Terlihat seorang teman ngajiku yang berwajah cantik bernama Ukhti Aida berjalan terburu-buru ke arahku. Akupun dengan sabar menunggunya dan penasaran ada keperluan apa ia memanggilku

“Afwan Ukhti.. Ana boleh nebeng pulang?”, tanya Ukhti Aida sambil menyeka keringat di wajahnya

“Memangnya suami anti kemana? Biasanya kan dijemput Ukh..”, tanyaku

“Kebetulan tadi setelah antar ana, suami ana ada panggilan tugas mendadak ukh.. Tadi ana sudah nyoba minta tolong ke beberapa teman tetapi mereka bilang tidak bisa antar ana. Ukhti Arina harapan ana terakhir satu-satunya”, kata Ukhti Aida dengan wajah memelas

“Tapi…”, aku pun berpikir sejenak

Terlihat wajah Ukhti Aida kebingungan, karena satu persatu peserta kajian telah meninggalkan lokasi dan suasana semakin sepi. Hanya beberapa yang masih ada di tempat kajian, itupun aku tidak mengenal mereka. Akupun menimang-nimang permintaan tolong ukhti Aida. Bagaimanapun dia saat ini butuh bantuan, apalagi hari semakin malam tidak mungkin aku meninggalkannya saat ini.

“Rumah anti jauh dari sini?”, tanyaku memastikan

“Jarak pastinya ana tidak tau Ukhti.. Kurang lebihnya 30 sampai 40 menitan ke arah Timur. Ana minta tolong ya ukh..”, ujar Ukhti Aida

*Kearah Timur ya? Berlawanan arah dari rumahku dong…*, kataku dalam hati

“Gimana Ukhti….?”, tanya Ukhti Aida kembali

“Hmm.. Tidak terlalu jauh sih Ukh.. Ukhti Aida boleh bareng ana”, jawabku

Terlihat raut muka Ukhti Aida berubah yang tadinya terlihat kebingungan, sekarang wajahnya menjadi penuh kelegaan.

“Alhamdulillah.. Syukron Ya Ukhti Arina.. Anti benar-benar baik”, ujar Ukhti Aida

“Ahh.. Anti berlebihan. Bukannya kalau ada teman yang butuh pertolongan lebih baik dibantu. Hihihi.. Yasudah yuk pulang Ukhti”, kataku

Ukhti Aida pun mengikuti berjalan menyusuri area parkir yang mulai sepi. Akhirnya kutemukan sepeda motorku yang rupanya posisinya sedikit bergeser dari posisi semula. Suasana diparkiran yang sudah sepi memudahkanku menemukan dimana letak sepeda motorku itu.

“Afwan Ukhti. Ana Cuma bawa helm 1”, kataku

“Tidak apa-apa Ukhti. Jam segini rasanya tidak akan ada polisi yang nilang Ukh. Hihihi.. Kalau pun ketilang ana yang nanti tanggung jawab”, kata Ukhti Aida

“Iya semoga aman Ukhti.. Ayo Ukhti..”, kataku dan Ukhti Aida segera duduk berboncengan denganku.

Akupun mulai memutar gas sepeda motorku meninggalkan tempat kajian Ustadzah Rahma itu. Jalanan kota kecil ini terlihat lengang malam ini. Jalanan yang biasanya ramai saat jam pulang kerja, kali ini terlihat sepi. Awan hitam pun turut menemani perjalanan kami malam itu. Sesekali gemuruh menyambar sejenak memberikan kilatan yang mengejutkan mataku, tanda sepertinya akan turun hujan.

Aku mengemudikan motor pelan-pelan karena Ukhti Aida banyak bercerita tentang keluarganya selama kami di jalan. Tentang pekerjaan suaminya yang seorang teknisi listrik panggilan yang sewaktu-waktu harus kerja tanpa mengenal waktu. Aku yang mendengar ceritanya hanya mengangguk-angguk karena aku juga tidak bisa mendengar apa yang diomongkan Ukhti Aida dengan jelas. Suara angin memang cukup kencang malam ini. Kupandang lagi ke arah langit, suasana kurasakan semakin mendung dan dingin.

“Sepertinya mau hujan Ukhti.. Anti ga pakai mantel dulu?”, tanya Ukhti Aida yang turut menyadari gemuruh petir yang menyambar di angkasa

“Mantel ana sobek Ukhti belum beli penggantinya. Semoga saja tidak hujan Ukhti”, jawabku

“Iya Ukhti.. Semoga..”, jawab Ukhti Aida dan ia pun terdiam.

Ukhti Aida akhirnya memilih tidak bercerita lagi. Sepertinya ia memberikan kesempatan kepadaku agar bisa menambah kecepatan laju sepeda motorku. Kubetot gas sepeda motor dalam-dalam agar tidak kehujanan malam ini. 30 menit sudah aku berkendara, tetapi belum ada tanda-tanda Ukhti Aida memberiku aba-aba untuk belok ke arah rumahnya.

“Masih Jauh ya Ukhti?”, tanyaku

“Lumayan Ukhti. Masih separuh perjalanan”, kata Ukhti Aida

“Ohhh iya Ukhti… Ini jalan lurus terus betul ya?”, tanyaku

“Iya betul Ukhti lurus terus. Nanti kalau mau belok ke perkampungan ana, ana kasih tau”, kata Ukhti Aida

“Oh iya Ukhti…”, jawabku dan aku kembali berkonsentrasi mengemudikan sepeda motorku

*Hujan jangan turun dulu ya…*, doaku dalam hati

***