bunuhEmail Alert Popup Reminder Concept

Bunuh dan Ancam Korban Boskita Melalui Pesan Pop Up Komputer. Sejak Nyonya Mirae, kepala panti asuhan yang pertama, tewas dengan cara keji, tak seorang pun penghuni panti asuhan bisa tidur tenang. Wanita lima puluh tahunan itu ditemukan tergeletak di lantai kamarnya dengan kepala pecah dan usus terburai. Tembok kamarnya dipenuhi percikan darah, seolah wanita itu dihantamkan dengan keras di dinding.

Narumi, wakil kepala panti asuhan, segera mengambil alih kepemimpinan. Dia sungguh-sungguh cemas akan nasib para penghuni tempat itu. Bukan tak mungkin, mereka mengalami trauma atas kejadian mengerikan itu.

Narumi tahu, sebelum ditemukan tewas, Nyonya Mirae menerima sebuah pesan pop up di komputernya yang berisi ancaman pembunuhan. Tadinya Nyonya Mirae mengira bahwa itu hanya pekerjaan remaja iseng yang butuh perhatian. Nyatanya, ancaman itu benar-benar diwujudkan.

Kepala Narumi terasa mau pecah saat memikirkan siapa pelaku kejahatan itu. Dari mana pelaku itu bisa masuk? Bahkan malam saat Nyonya Mirae tewas, pintu-pintu panti asuhan dalam keadaan terkunci. Beban pikiran Narumi semakin bertambah ketika Misaki, salah satu penghuni panti asuhan yang menderita fobia kegelapan sering kali berteriak histeris dalam tidurnya. Gadis cilik itu terus menerus dihantui mimpi buruk karena peristiwa itu.

Malam itu Misaki bermimpi, monster-monster mengejarnya dalam sebuah kastil kuno. Di sana ada sebuah altar dan tubuh Nyonya Mirae terbaring telanjang di sana dan darah menetes di mana-mana. Tubuh Misaki menggeletar. Dia berteriak-teriak minta tolong, hingga Ran membangunkannya. Dadanya berdegup kencang dan peluh membasahi dahinya. Mimpi itu begitu nyata.

“Aku takut, Ran.” Misaki memeluk Ran, teman sekamarnya.

Ran tidak cantik, tetapi matanya bulat bersinar dan bentuk bibirnya seolah-olah ingin selalu tersenyum. Gadis itu penghuni pertama panti asuhan yang ditemukan Nyonya Mirae di depan rumahnya. Bayi Ran berada di dalam keranjang rotan dengan sebuah kalung di lehernya. Kepala panti asuhan menyimpan kalung itu yang merupakan satu-satunya penghubung Ran dengan masa lalunya.

Ran sangat disukai anak-anak panti, karena selalu membantu dan memeluk mereka jika ketakutan, semisal ada petir menggelegar, atau saat lampu padam. Dan Ran sangat senang menjadi seorang yang disukai.

Sebulan yang lalu, Ran genap berusia lima belas tahun. Teman-temannya memberikan ucapan selamat, tetapi tidak seorang pun memberi kado kepadanya, bahkan Kepala Panti. Hanya Kazuo yang memberinya hadiah, sebuah mahkota dari bunga rumput. Ran menyukai pemuda itu dan berharap kelak menikah dengannya.

bunuh
Email Alert Popup Reminder Concept

“Kau bermimpi buruk?” tanya Ran kepada Misaki.

Misaki mengangguk. “Aku bermimpi tentang Nyonya Mirae.

“Nyonya Mirae sudah tenang di alam sana,” kata Ran. “Mandilah dan segera berkumpul di ruang makan.”

Misaki segera mandi dan pergi ke ruang makan. Di sana ada kue ulang tahun di atas meja.

Narumi, tersenyum pada Misaki. “Selamat ulang tahun, Misaki,” ucapnya yang segera diikuti dengan ucapan teman-temannya.

Sejak kedatangannya satu tahun yang lalu, Misaki selalu menjadi pusat perhatian. Gadis yang hari itu genap berusia tiga belas tahun diserahkan ke panti asuhan karena seluruh keluarganya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Misaki cepat beradaptasi dan segera menjadi idola, baik di panti asuhan maupun di sekolah. Dia lucu dan periang. Dia juga suka membantu anak-anak panti jika kesulitan menggunakan komputer atau laptop. Ayah Misaki seorang ahli teknologi informasi dan mengajarkan keahliannya kepada sang putri. Kehadiran Misaki membuat anak-anak panti asuhan sedikit melupakan kesedihan mereka.

Belum hilang kengerian orang-orang karena kematian Nyonya Mirae, terdengar lagi kabar tewasnya pemilik toko kelontong yang tak jauh dari panti asuhan. Awalnya orang-orang menduga bahwa pemilik toko itu dibunuh oleh orang yang pernah sakit hati karena ucapannya. Perangai pria itu memang kasar. Dia sering memaki pegawainya jika ada kesalahan sedikit saja, bahkan dia sering mengatai anak-anak panti asuhan dengan kata-kata yang tidak sopan apabila mereka membeli sesuatu dan uangnya kurang.

Narumi merasa bahwa terlalu banyak orang yang menginginkan pemilik toko itu mati. Bahkan menganggap bahwa lebih baik orang seperti itu mati. Namun, kematian siswi sekolah menengah pertama, teman sekelas Ran, seminggu kemudian membuatnya berpikir bahwa ketiga kematian yang terjadi di kota itu ada kaitannya. Apalagi setelah polisi menyelidiki, ketiga korban itu sama-sama menerima pesan pop up di laptop atau komputer mereka dan dibunuh dengan cara yang sama.

Saat Misaki melihat foto-foto-foto korban di internet, dia tampak sangat terpukul. Namun, saat dia melihat foto teman sekelas Ran yang menjadi korban dan memperbesarnya, dia terkejut. Ada sebatang rumput di sana yang mengingatkan Misaki pada sesuatu. Misaki menjadi ketakutan. Jantungnya berdebar kencang. Peluhnya menetes deras. Dengan tangan gemetar Misaki mengirim gambar itu ke surel Narumi.

Saat Misaki hendak mematikan laptopnya, ada pesan pop up di layarnya: kau akan mati! Misaki segera menutup laptop warisan keluarganya dengan wajah ketakutan. Tubuhnya gemetar. Bulu kuduknya meremang.

Malam itu Misaki tidak bisa tidur meskipun lampu kamar menyala. Di luar hujan turun deras, angin kencang, membuat Misaki semakin ngeri. Tiba-tiba listrik padam. Misaki langsung merasakan napasnya sesak, tenggorokannya tercekik, dan dia melihat puluhan monster muncul dari tembok-tembok kamar. Namun, malam itu, puluhan monster-monster itu terasa lebih nyata.

Dengan panik, Misaki turun dari tempat tidurnya, meraba-raba dalam gelap. Dia ingin keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Narumi. Namun, tiba-tiba cahaya kilat menerobos masuk dari lubang angin. Misaki melihat bayangan sosok mengerikan, giginya panjang dan runcing, tangannya berkuku panjang dan seolah siap mencabiknya.

Misaki berusaha berteriak, tetapi suaranya seolah tersangkut di tenggorokan. Degup jantungnya bertalu-talu. Dia merasa kematiannya sudah di ambang pintu.

Tubuh Misaki gemetar sementara makhluk mengerikan itu terus mendekatinya. Tangan berkuku tajam makhluk itu meraih leher Misaki kemudian melemparkannya ke dinding. Tubuh gadis itu menggelepar-gelepar. Saat gigi-gigi runcing mencabik perut Misaki, gadis itu sudah tidak bergerak lagi.

Ketika lampu menyala, dinding kamar Misaki sudah dihiasi warna merah darah. Namun, tidak satu pun penghuni kamar terbangun. Mereka seolah tidak terusik dengan suara-suara yang timbul saat Misaki dihabisi.

Keheningan di pagi itu pecah oleh jerit ketakutan teman-teman sekamar Misaki. Ran dan dua gadis kecil lainnya menutup mata karena tak sanggup melihat keadaan Misaki.

Narumi bergegas mendatangi arah suara jeritan. Ketika membuka kamar Misaki, dia nyaris muntah-muntah. Tubuhnya terasa lemah tak bertenaga. Dengan sisa-sisa kekuatannya, wanita itu segera menghubungi polisi.

Kematian Misaki membuat Narumi dan seluruh anak-anak panti bersedih. Berhari-hari mereka tidak nafsu makan. Ketakutan semakin menghantui hari-hari mereka. Ran menghibur mereka yang bersedih dan memeluk mereka yang ketakutan. Ran tampil seolah-olah dia wakil kepala panti asuhan.

Narumi berpikir keras tentang si pelaku pembunuhan berantai. Dia mulai membuka-buka internet dan pergi ke perpustakaan untuk membaca referensi yang dibutuhkan. Hingga akhirnya Narumi mendengar dari anak-anak yang bergerombol di depan perpustakaan, tentang sebuah sekte sesat. Saat Narumi mendekati gerombolan itu, tetapi mereka segera menyingkir, kecuali seorang anak lelaki pendek dengan gigi tonggos. Dia menatap Narumi saat wanita itu bertanya.

“Kau tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan. Bahkan papa dan mamaku pun tidak percaya.” Anak lelaki bergigi tonggos itu menatap Narumi.

“Aku tidak sama dengan papa dan mamamu. Aku percaya padamu.”

“Kau tahu, pemimpin sekte itu dirasuki setan. Dia akan membunuh siapa pun yang menghalangi kebahagiaannya. Dia sangat pemarah dan pencemburu.”

“Bagaimana rupanya? Apalah kau pernah melihatnya?”

“Oh, maaf, dia selalu memakai topeng.”

Narumi menghela napas panjang. “Lalu, kenapa kau mengikuti sekte sesat itu?”

“Ya, Anda tahu bahwa pergaulan remaja itu sangat penting. Sekte itu sudah jadi tren di antara remaja di sini.”

Narumi tercekat. Untuk beberapa saat dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia kemudian berterima kasih kepada anak lelaki itu lalu pulang ke panti asuhan. Dia semakin tekun mencari informasi tentang sekte yang diceritakan anak kecil tadi. Sederet artikel menyebutkan bahwa ciri pemimpin sekte itu punya tato lidah api di tengkuknya. Narumi merasa harus bekerja lebih keras untuk mencari si pelaku.

Malam itu, Narumi meminta pertimbangan Ran setelah selesai mencari informasi di internet. Dia merasa hanya Ran lah yang bisa diajak berdiskusi di sana. Gadis itu terlihat sangat peduli dengan semua.

Narumi membiarkan laptopnya menyala. Sementara dia memandang Ran. “Apakah kau percaya ada sekte sesat?”

Ran terpaku sejenak mendengar pertanyaan Narumi. “Apakah Anda percaya, Nyonya?”

“Tentu saja tidak. Ini adalah hal terkonyol di dunia.”

“Namun nyatanya, mereka ada. Dan lucunya, orang-orang menganggap bahwa ketua sekte itu dirasuki iblis.”

“Jadi, menurutmu dia bagaimana?”

“Dia anak seorang wanita yang menikah dengan iblis. Makanya dia susah dikalahkan, karena dia manusia setengah iblis.”

“Oh, mengerikan sekali,” kata Narumi. “Menurutmu kenapa dia membunuh manusia acara acak beberapa waktu yang lalu?”

“Dia tidak membunuh secara acak. Dia membunuh orang-orang yang merebut kebahagiaan darinya. Membunuh karena orang berkata buruk padanya. Dia tidak bisa menjadi manusia yang kalah.”

“Bagaimana kau tahu semuanya, Ran? Kau pasti telah melahap banyak buku tebal di perpustakaan.”

Ran menatap Narumi, membelakangi jendela yang terbuka. “Apakah panti menyimpan barang peninggalan dari orang tuaku?” tanya Ran tanpa menjawab pertanyaan Narumi.

“Ah, ya, Nyonya Mirae menyimpan kalung yang ada di lehermu waktu dia menemukanmu. Aku membacanya dari buku catatan.” Narumi berjalan ke laci dan mengambil kalung berbandul pentagram kemudian memberikannya kepada Ran.

Gadis itu memandang bandul kalungnya dengan mata berbinar. Dia menghadap jendela dan memakai kalung itu. Sementara Narumi kembali duduk menghadapi laptopnya. Dia melihat surel yang masuk. Dari Misaki. Matanya terbelalak ketika melihat sebatang rumput dalam gambar itu. Dia teringat sesuatu.

Angin kencang tiba-tiba bertiup, menerpa tubuh Ran sehingga rambutnya berkibar-kibar. Saat itu Narumi mendongak dan melihat tato lidah api di tengkuk Ran. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Napasnya terasa berat. Terlihat layar laptopnya berkedip-kedip. Sebuah pesan tertulis di layarnya: kau harus mati!(*)