ayah

Ayah Mengapa Engkau Tidak Beli Baju Lebaran? BOSKITA. “Ah, Baju Ayah masih bagus, tinggal cuci baju koko yang kemarin dipakai untuk sholat Jumat, nah Ayah udah punya baju baru kan,”

“Oh, gitu,”

“Iya, sekarang Ayah antar kamu beli sepatu baru ya?”

Aku hanya tersenyum mengingatnya. Menggingat kala diriku menggenggam tangannya yang permukaan kulitnya demikian kasar. Sedikit berkeriput dengan tekstur kapalan. Kami bergandeng menyusur jalan, demi sepasang sepatu yang walau harganya tak seberapa, namun demikian menyilaukan mata, meneduhkan hati karena itu adalah pengganti sepatuku yang telah lama rusak.

Sepatah kalimat dari kala itu senantiasa aku ingat dalam pikiran. Orang-orang mengatakan jika sosok Ayah akan mempengaruhi jalan pikiran anak lelakinya. Sampai sekarang banyak hal yang kuingat dan kuikuti tentang nya, bagaimana seharusnya pria bersikap, bagaimana seharusnya seorang pria bertindak. Segala hal tentang rasa perhatiannya tentang sepatuku di hari raya, lebih dari kata istimewa. Hanya saja, ada satu hal yang aku pikirkan tentang semua hal ini. Ini tentang ingatan Hari Raya, Baju, dan sosok Ayah. Apakah ini menjadi ceritaku saja? Ataukah menjadi cerita semua orang? Entahlah, namun dewasa ini aku sedikit memahami tentang arti pengorbanan dari seorang Ayah demi keluarganya.

Jadi, kenapa kita dahulu tak memikirkan untuk membeli pakaian untuk hari raya? Kenapa seorang Ayah tak memikirkan apa yang ingin ia kenakan? Kenapa hanya keluarganya saja yang ia utamakan? Bukankah Ayah kita sama-sama Manusia? Ini adalah cerita tentang saya, seorang pria yang (sudah) tumbuh besar dan memahami realita kehidupan tentang menjadi pria dewasa.

ayah
Ilustrasi gambar

Pencapaian Terbesar Seorang Ayah

Iklan-iklan bertebaran kala hari raya sudah dekat, menawarkan janji-janji kebahagiaan tentang manisnya hari pencapaian yang gemilang. Mereka semua tak tahu malu, ponggah dan sombong seolah hari raya adalah hari pesta pora dengan riuh gempita. Iklan-iklan itu seperti jatuh dari atas langit, menembus tepat di setiap kepala manusia untuk bersikap rakus. Nafsu yang seharusnya dibelenggu seolah lepas liar dari pemasungan bulan suci.

Mungkin itu yang aku pikirkan saat berjalan di pinggiran trotoar kotaku. Teriknya matahari memang mengeringkan setiap kerongkongan manusia, tapi tidak menyurutkan perburuan mereka. Dahaga mereka seolah harus selesai saat itu juga, memuakan pikirku!

Langkahku terdesak dari samping bersama Ibu-ibu dengan puluhan kantong kresek yang ia genggam. Badannya yang gempal seperti ingin menyeruduk setiap manusia yang menghalanginya. Ia mendengus seperti memberi sinyal pada semua orang apa yang ia bawa demikian penting. Di bawahnya tersempil anak-anaknya, mereka menggenggam erat Ibunya yang terlihat masih kalap akan perburuan. Dengan tenaga seadanya mereka berusaha kuat untuk tak terpisah, wajah mereka terlihat lesu dengan keringat yang deras tercucur karena matahari kian menyengat.

Orang-orang tumpah ruah, bersama pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya, bersama pedagang mainan yang mengasong, bersama pemilik toko yang bernyanyi-nyanyi untuk menarik perhatian, mereka menggoda kami untuk membeli ini dan membeli itu. Kami seperti dituntun selayaknya itik-itik di ladang pesawahan. Menyusur petak demi petak sawah, demi berlabuh di kubangan impian.

Semua Sosok Tentang Ayah

Di tengah keramaian itu, banyak percakapan yang aku dengar. Dan semua itu tentang sosok Ayah di keluarga mereka masing-masing.

“Coba bapak kamu ikut, pasti ga susah buat jagain kamu!”

“Ibu, kenapa sih bapak ga mau ikut dengan kita?”

“Ayah kita mau buka sama apa ya?”

“Ayah kamu sih ngasih uang dikit banget, jadinya tas yang tadi seharusnya terbeli,”

“Mas? Halo? Kamu lagi ngapain sih? Ini jemput aku di perempatan depan!”

“Ayahhhhh!”

“Pak? Bapak?!”

“Pak kurang ini!”

“Ayah aku ingin itu!”

Dari semua hingar bingar itu, aku menyimpulkan satu hal jika ada beberapa Ayah di luar sana seperti bersembunyi di antara tihang-tihang keramaian, menunggu dari kejauhan.

Seorang Ayah melihat jauh di luar sana

berharap keluarga mereka tercukupi segala kebutuhannya walau terasa kurang di mata keluarga mereka sendiri.

Ada yang meminta, ada yang mengasihani, ada pula yang merajuk tentang sosok Ayah. Di tengah perjalanan itu, aku memahami jika pria yang beranjak dewasa suka atau tidak suka hanya dihargai saat mereka mampu berpenghasilan. Bisakah kita bayangkan bagaimana penderitaan para Ayah di luar sana yang tak mampu sampai di titik itu? Titik dimana mereka sudah berusaha tapi tak mampu memenuhi standar keluarga mereka sendiri.

Untuk itulah kenapa banyak sekali para pria yang sudah lanjut usia yang masih berjibaku pada kerasnya perputaran dunia. Banyak para Ayah di pinggir trotoar ini bertaruh nasib bukan hanya untuk keluarganya, tapi demi martabatnya.

“Iya dik, aku bakal beliin pesanan kamu yah? Kan itu sudah jadi tanggung jawabku,”ucap pria berkacamata di sampingku, ia bergegas terburu waktu demi istrinya. Ia merangsek masuk di kerumunan butik perempuan di pojok kiri sana. Aku memandangnya dengan senyum.

Semua ini tentang tanggung jawab, martabat, serta pengorbanan. Mungkin itu yang bisa aku simpulkan.

Etalase toko kian berkilau kala jingga di petala mulai memancar, pun lampu-lampu yang menusuk tiap sudut pandang. Manusia-manusia itu masih bermanja dengan hiasan dunia.

Aku memutuskan untuk duduk sejenak di alun-alun Mesjid, menunggu adzan siap mengumandang pada tiap daun telinga. Aku yakin mereka semua tak sabar di hari ini, walau aku tak yakin mereka ingin segera berbuka, atau tak sabar ingin melanjutkan perburuan di belantara kota.

Di penjuru bangku alun-alun, seorang Bapak berpakaian badut singgah. Ia membuka topengnya untuk sekedar menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah. Aku yakin bukan hanya penat, ia letih pada orang-orang yang hanya peduli dengan tumpukan baju, bukan pada badut seperti dirinya. Hiburan manusia saat ini adalah kilauan berlian, bukan hiburan badut berdebu yang sudah usang.

Ia membawa kantong keresek, membukanya perlahan seolah itu adalah kain berharga dari sutera. Ternyata itu adalah sepasang gamis kecil, aku yakin itu untuk anak perempuannya. Ia sumringah kala anaknya datang sambil menggenggam ember kecil di tangan. Ternyata anaknya sama-sama pengamen, mereka berpelukan di sore hari yang mulai tenang. Wajah anak itu senang sekali.

Namun, hal yang paling meneduhkan dari segala pemandangan itu adalah seorang pria terlah berhasil melaksanakan misinya untuk membahagiakan anak perempuannya.

Aku tersadar!

Di usiaku yang beranjak kepala tiga, aku menemukannya. Menemukan jawaban untuk segala pertanyaan tentang pria dewasa.

Kenapa seorang Ayah tak memperdulikan tentang dirinya sendiri?

Bagi Pria dewasa, memberi adalah cara untuk mereka hidup bahagia, menghasilkan adalah cara untuk mereka merasa puas hidup di dunia.

Biarlah kami terhina, asalkan orang yang kami sayang mampu hidup mulia. Biarlah kami berdebu, asalkan orang yang kami sayang mampu bersinar. Materi kami bukanlah benda-benda mati di etalase itu, materi kami adalah keluarga dan segala senyuman mereka pada kami.

Aku membuka tas di punggung, mengurai kemeja koko terlipat. Kubeli mahal sekali.

“Ini untuk Ayah, kau rela terinjak demi sepatuku, izinkan aku memuliakan ragamu dengan ini, terimakasih Ayah,”

“Terimakasih untuk semua Ayah yang memberiku pelajaran berarti untuk menjadi Pria yang lebih dewasa,”